Tautan-tautan Akses

Makin Banyak Warga New York Tertarik pada Praktik Ritual Kuno Suku Indian

  • Adam Phillips

Seorang Shaman, Salomon Cancho, membaca daun-daun keramat setelah menebarkannya di atas meja dalam suatu ritual tahun Baru di Lima, Peru (Foto: dok). Semakin banyak warga New York tertarik pada praktik keyakinan penduduk asli Amerika ini.

Seorang Shaman, Salomon Cancho, membaca daun-daun keramat setelah menebarkannya di atas meja dalam suatu ritual tahun Baru di Lima, Peru (Foto: dok). Semakin banyak warga New York tertarik pada praktik keyakinan penduduk asli Amerika ini.

Semakin banyak orang di New York tertarik pada "despacho", praktik keyakinan tradisional penduduk asli Amerika.

Kebanyakan warga kota New York mengidentifikasi diri dengan salah satu dari tiga agama monoteistik utama, Kristen, Islam, dan Judaisme. Namun, di Manhattan, New York, orang-orang yang memperdalam kehidupan spiritual dan yang sekedar ingin tahu mengikuti “despacho,” upacara kuno suku Indian Inca, yang dipimpin Jesus Aguilar, dukun Peru yang disebut Shaman.

Aguilar pindah dari Cusco, Peru, ke New York bersama istrinya seorang warga Amerika. Baginya, dua dunia ini, kuno dan modern, yang terpisah sejauh 6.000 kilometer, saling terkait.

Ia menuturkan, “Bumi pertiwi tetap bersama kita. Kita bisa menjadi bagian dunia mana saja, tetapi hal yang paling suci selalu ada di dalam hati kita, di dalam bunga-bunga, pepohonan, dan air. Karena semua benda keramat, beton, telepon genggam. Roda, semuanya keramat, berasal dari bumi pertiwi.”

Upacara despacho sudah berumur ribuan tahun. Tujuannya untuk membawa keseimbangan antara dunia manusia, alam nyata, dengan dunia spiritual.

Aguilar memberi “rahmat” sebagai hadiah bagi Ibu Pertiwi, Pachamama dalam bahasa ibunya Quechua. Para peserta upacara juga meminta restu.

Unsur-unsur despacho melambangkan prinsip-prinsip memberi dan menerima. Jagung melambangkan makanan bergizi, uang melambangkan kemakmuran, kapas melambangkan awan dan hujan, serta gula.

Aguilar menambahkan, “Karena bumi sangat baik kepada kita, kita juga harus baik kepada bumi.”

Aguilar membagikan daun-daunan keramat yang disebut “kintus” yang melambangkan cinta dan kecantikan dan ia mengatakan kepada kelompok itu agar menghormati daun-daunan itu.

“Baiklah saudara-saudaraku, kita akan menyampaikan apa yang jadi itikad kita. Apa yang kita inginkan? Apa yang kita butuhkan? Apa yang harus dikatakan untuk menyampaikan terima kasih? Apa yang ingin kita relakan? Semua orang punya itikad berbeda. Kita bisa minta apa saja karena alam semesta tak terbatas,” ujarnya.

Hillary Webb, pakar Shaman yang mengajar orang Barat mengenai tradisi suku Inca, mengatakan, “Dalam hal kintus, kita mengangkat daun-daunanan itu ke mulut kita. Nafas merupakan kekuatan hidup, energi. Kintus adalah bagian doa yang kita kirim dari badan kita ke daun-daunan, sehingga bisa menjadi keramat seperti rohdan bisa disebarkan ke masyarakat.”

Pada akhir upacara itu, Shaman mengakhiri despacho dengan doa dan membakar daun-daunan itu. Ia mengatakan asap keramat yang ditimbulkannya akan memberi makanan bagi Pachamama.
XS
SM
MD
LG