Tautan-tautan Akses

AS

Makin Banyak Warga AS Habiskan Waktu Liburan di Bioskop

  • Arash Arabasadi

Antrian pembeli karcis menonton film "The Interview" di gedung bioskop "The Cinema Village", New York (25/12).

Antrian pembeli karcis menonton film "The Interview" di gedung bioskop "The Cinema Village", New York (25/12).

Bioskop-bioskop kecil, seperti West End Cinema di Washington, memutar film "The Interview" pada Hari Natal, sehari setelah Sony merilis film tersebut secara online.

Bioskop-bioskop di seluruh AS telah memutar The Interview, film Sony Pictures yang banyak dibicarakan mengenai plot fiktif untuk membunuh pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Di tengah ancaman perang dunia maya dan kekerasan, bioskop-bioskop AS enggan memutar film komedi itu dan Sony membatalkan perilisannya. Tetapi menyusul berbagai kritikan, Sony mencabut keputusannya, dan pada Hari Natal, sejumlah bioskop kecil memutar film tersebut dan menjual habis tiketnya.

Bioskop-bioskop kecil, seperti West End Cinema di Washington, memutar film itu pada Hari Natal, sehari setelah Sony merilis The Interview secara online.

“Kami sudah terlanjur membeli tiket dua hari sebelum filmnya dirilis online. Kami tidak bisa mengembalikannya,” kata Meghan, salah seorang penonton film.

“Ibu membelikan tiket untuk kami sekeluarga,” kata dua bersaudara Erin dan Corner. "Kami telah membelinya sebelum dirilis online," lanjut mereka.

Beruntung mereka sudah membeli tiket, karena Manajer Bioskop, Josh Levin, mengatakan banyak orang yang kehabisan tiket.

“Ratusan orang tidak kebagian tiket. Telepon kami berdering terus. Tiket untuk empat jadwal pemutaran ludes dalam sejam,” kata Josh Levin, West End Cinema.

Kini, semakin banyak warga AS yang menghabiskan waktu liburan di bioskop. Seperti yang dilakukan Spencer. “Nonton film pada Hari Natal menyenangkan juga. Meskipun saya nonton film yang berbeda, tetapi saya tidak kecewa datang ke bioskop,” komentarnya.

Bioskop-bioskop besar belum memutar film tersebut. Bagi sebagian orang, seperti Mohammad, hal itu justru menarik. “Bioskop-bioskop kecil mengambil keputusan untuk tetap menayangkan film itu meskipun ada ancaman, tetapi mereka tidak mau diintimidasi diktator. Karena itu saya menunjukkan dukungan pada mereka dengan berada disini dan membeli tiketnya,” katana Mohammad.

Dan sepertinya ancaman perang dunia maya dan kekerasan fisik tidak menyurutkan niat orang untuk mendatangi bioskop. “Kami selalu sibuk setiap Natal, tetapi ini adalah Natal tersibuk yang pernah kami alami,” jelas ​Josh Levin.

Levin mengatakan tiket untuk enam jadwal pemutaran berikutnya sudah habis terjual. Tetapi warga AS yang ingin menonton filmnya tidak perlu khawatir. The Interview dapat disewa atau dibeli secara online, seharga berondong jagung dan soda.

XS
SM
MD
LG