Tautan-tautan Akses

Mahasiswa Universitas Surabaya Kembangkan Sumber Energi Isi Ulang

  • Petrus Riski

Chandra Sudomo Halim (kanan) menunjukkan cara pemanfaatan tekanan gas buang knalpot sepeda motor sebagai sumber energi. (VOA/Petrus Riski)

Chandra Sudomo Halim (kanan) menunjukkan cara pemanfaatan tekanan gas buang knalpot sepeda motor sebagai sumber energi. (VOA/Petrus Riski)

Berbagai lembaga pendidikan terus mengembangkan solusi energi, seperti pemanfaatan tekanan gas buang asap knalpot kendaraan bermotor untuk sumber energi isi ulang.

Asap kendaraan bermotor yang menimbulkan polusi, seringkali terbuang percuma dan ikut menyumbang pemanasan global. Melalui alat yang diberi nama Electric Emission Mobile Charger (E2MC), tekanan gas buang asap knalpot kendaraan bermotor dapat dimanfaatkan menjadi sumber listrik arus lemah untuk pengisi daya telepon genggam.

Menurut Chandra Sudomo Halim selaku mahasiswa pembuatnya, pemanfaatan sesuatu hal yang kurang berguna menjadi ide dasar dibuatnya alat itu.

“Dari asap knalpot ini kan sebenarnya ada sebuah sumber energi, sumber energi yang bisa dipakai. Mulai dari situ saya coba melakukan penelitian, ternyata dari asap knalpot itu ada tekanan gas buangnya sendiri, dan ada juga dari panasnya bisa dimanfaatkan. Untuk ini saya manfaatkan dulu tekanan gas buangnya," ujarnya.

"Saya beri nama alat ini E2MC (Electric Emission Mobile Charger), bedanya alat ini dengan alat yang lainnya ini benar-benar kita menggunakan dari tekanan gas buang,” kata Chandra.

Tekanan gas buang asap knalpot kendaraan bermotor ini dapat dimanfaatkan untuk mengisi penuh sumber daya listrik atau power bank 3.500 mA, selama kendaraan itu bergerak sekitar 3 hingga 4 jam. Penggunaan alat E2MC yang mudah dilepas dari knalpot kendaraan bermotor ini, diyakini lebih hemat dan aman bila dibandingkan harus memanfaatkan akki kendaraan bermotor, untuk mengisi daya baterai telepon genggam atau sumber daya isi ulang (power bank).

“Sistem kerja listriknya sendiri, pada saat motornya aktif, dia pada saat kecepatan 20 kilometer per jam, biasanya itu sudah mulai mencharge semuanya, saat dia mulai mencharge listrik yang dihasilkan itu akan melalui komponen-komponen listrik dulu, komponen listrik itu yang berguna untuk menahan supaya voltasenya meskipun nanti kecepatan motornya semakin tinggi, dia tetap stabil, agar kita punya power bank atau handphone itu tidak rusak,” tambah Chandra.

Chandra Halim mengaku menghabiskan dana sekitar Rp600.000 hingga 1 juta rupiah untuk membuatnya, dengan memanfaatkan bahan bekas berupa baling-baling CPU Computer yang sudah tidak terpakai. Diharapkan banyak orang yang bisa membuatnya sendiri, untuk memanfaatkan tekanan gas buang asap kendaraan bermotornya masing-masing.

Sementara itu dosen pembimbing di Fakultas Teknik Universitas Surabaya, Sunardi Tjandra mengatakan, dengan diciptakan alat ini diharapkan dapat lebih dikembangkan lagi pemanfaatannya, sehingga dapat menjadi produk yang siap dipasarkan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG