Tautan-tautan Akses

Mahasiswa Surabaya Galakkan Buku Audio untuk Tunanetra

  • Petrus Riski

Gerakan "Suarakan Bukumu" mengajak warga di Surabaya merekam suara saat membaca buku untuk membuat buku audio bagi tunanetra. (VOA/Petrus Riski)

Gerakan "Suarakan Bukumu" mengajak warga di Surabaya merekam suara saat membaca buku untuk membuat buku audio bagi tunanetra. (VOA/Petrus Riski)

Mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya melakukan gerakan membuat buku audio untuk penyandang tunanetra.

Sejumlah mahasiswa desain komunikasi visual Universitas Kristen Petra Surabaya mengajak masyarakat merekam suara mereka saat membaca buku untuk membuat buku audio bagi para penyandang tunanetra.

Gerakan yang disebut “Suarakan Bukumu” dan diluncurkan Rabu (22/5) itu dilakukan untuk membantu para tunanetra memperoleh akses lebih luas terhadap buku.

“Suarakan bukumu adalah kegiatan kampanye sosial yang mengajak orang untuk membacakan buku yang mereka baca dan direkam di handphone. Nanti hasil rekamannya dikirim ke kita, kita jadikan satu dan diberikan pada orang tunanetra,” ujar William Arifin, salah satu mahasiswa penggagas gerakan “Suarakan Bukumu”.

Hingga kini ada sekitar 20 buku audio yang telah selesai direkam, dari sekitar 50 orang relawan yang bersedia membaca dan merekam suaranya, ujar William.

Ia mengatakan buku-buku yang paling dibutuhkan dan disukai para tunanetra menjadi prioritas untuk dibacakan dan direkam oleh relawan yang mau menyumbangkan suaranya.

“Sebelum kita menjalankan kampanye ini kita melakukan riset di Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia). Kita menanyakan buku-buku apa saja yang menjadi favorit para orang tunanetra, dan mereka menyebutkan seperti novel, biografi, buku motivasi, mereka gemar yang seperti itu, bisnis juga,” ujarnya.

“Mereka lebih suka buku-buku yang update karena mereka sulit untuk mengakses buku-buku update melalui audio book. Selama ini mereka menunggu kiriman dari Jakarta dan Bandung. Akhir-akhir ini pihak dari Jakarta dan Bandung mulai tidak mengirim, mulai sedikit, jadi mereka kekurangan referensi buku,” ujar William.

Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Surabaya, Slamet Riyadi mengatakan, adanya buku audio ini sangat membantu kebutuhan para tunanetra yang ingin memperoleh buku yang diinginkan.

“Dengan adanya audio book atau buku bicara ini ya, kita bisa mendapatkan ilmu lebih banyak untuk pelajaran-pelajaran,” ujarnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG