Tautan-tautan Akses

Terinspirasi Kebakaran Hutan, Mahasiswa Surabaya Ciptakan Alat Penyingkir Asap

  • Petrus Riski

Erlina dan dosen pembimbing Andrew mempraktekkan cara kerja alat Smoke Removal (foto: VOA/Petrus Riski).

Erlina dan dosen pembimbing Andrew mempraktekkan cara kerja alat Smoke Removal (foto: VOA/Petrus Riski).

Seorang mahasiswi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, merancang sebuah alat yang mampu menyaring udara berasap yang berbahaya bagi kesehatan.

Maraknya kasus kebakaran hutan di Riau menjadi inspirasi dan ide dasar dibuatnya alat yang diberi nama Smoke Removal atau Penyingkir Asap itu. Kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan menyebabkan banyak masyarakat menderita penyakit saluran pernafasan, karena terlalu banyak menghirup asap yang mengandung zat berbahaya.

Kondisi ini yang membuat mahasiswi semester akhir Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Erlina Wati Halim, untuk membuat alat penyaring asap yang banyak mengandung zat karbon monoksida (CO).

Melalui alat Penyingkir Asap itu, Erlina berharap masyarakat yang tinggal di daerah rawan kabut asap akibat kebakaran hutan dapat tetap beraktivitas dengan aman.

“Indonesia ini kan selalu bermasalah dengan asap, khususnya yang di Riau, ya idenya sih dari situ, saya berusaha untuk bagaimana bisa membantu masalah tersebut. Asap hasil kebakaran hutan kan kita tidak bisa memungkiri, jadi gimana caranya saya bisa untuk menanggulanginya itu dengan filtrasi asap tersebut. Jadi orang-orang yang tetap beraktivitas di dalam rumah itu tidak terganggu,” kata Erlina.

Memanfaatkan peralatan yang sebagian besar dari bahan bekas, Erlina membuat alat filtrasi asap, dengan komponen utama berupa sensor asap mq7 khusus untuk karbon monoksida, kipas pembuangan, serta media filtrasi berupa karbon aktif.

Dikatakan oleh Erlina, alat buatannya ini mampu mereduksi kadar berbahaya karbon monoksida (CO) di udara bebas hingga batas aman kesehatan sesuai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Alat itu akan bekerja dan berhenti secara otomatis, untuk memulihkan kondisi udara yang terpapar banyak asap.

“Kan yang kita ukur ini kandungan gas CO, karena gas CO itu yang paling berbahaya bagi tubuh. Jadi ketika dia sudah mendeteksi lebih dari 50 ppm batas aman, alat ini akan bekerja secara otomatis melakukan filtrasi itu, disedot dan kemudian dikembalikan ke ruangan, yang harapnnya udara yang telah dihasilkan itu jauh lebih bersih. Dia akan terus memantau keadaan dalam ruangan itu berapa, berapa ppm, kalau sudah berada di bawah 30 ppm, batas yang saya anggap itu sudah aman bagi manusia maka dia akan secara otomatis non aktif atau standby, karena kalau tiba-tiba lebih atau di atas 50 ppm, dia akan secara otomatis menyala lagi,” papar Erlina.

Sementara itu, dosen pembimbingnya, Andrew Joewono menambahkan, pemanfaatan alat filtrasi asap ini tidak hanya bisa untuk di dalam ruangan, melainkan dapat pula digunakan untuk mengurangi kadar karbon monoksida di luar ruangan.

“Kalau memang mau mengamankan kota ya berarti membuat banyak di titik-titik kota. Saya kira masih bisa dilakukan di dalam satu area rumah atau ruangan untuk membantu proses, minimal diturunkan konsentrasi CO-nya supaya tidak mengganggu proses kesehatan di dalam manusianya,” tambah Andrew.

Erlina berharap pemerintah melakukan upaya mengurangi dampak kabut asap kebakaran hutan, dengan memberdayakan karya anak bangsa berupa alat filtrasi dan penyingkir asap. [pr/lt]

XS
SM
MD
LG