Tautan-tautan Akses

Lulus dari Harvard, Reynold Wijaya Bangun UKM Indonesia


Reynold Wijaya dan Kelvin Teo

Reynold Wijaya dan Kelvin Teo

Reynold Wijaya akan lulus dari program MBA di Harvard Business School pada bulan Mei ini. Menyandang gelar dari universitas bergengsi di Amerika tidak lantas membuatnya tergiur untuk terus tinggal dan bekerja di negara tersebut. Tekadnya sudah bulat. Ia akan langsung kembali ke Indonesia untuk mengembangkan bisnisnya yang bernama Modalku, sebuah startup peer-to-peer lending atau sistem pinjam meminjam langsung berbasis online.

Sistem peer-to-peer (P2P) lending adalah sebuah sistem peminjaman online yang memasangkan para kreditor dengan peminjam. Bagi alumni Kolese Kanisius ini, kehadiran startup-nya di Indonesia bertujuan untuk mendukung pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM). Modalku memungkinkan para pengusaha UKM mendapatkan pinjaman uang untuk mendanai bisnis mereka, disaat sulit menerima pinjaman dari bank karena dinilai tidak memenuhi syarat.

Reynold Wijaya (ke-10 dari kiri) bersama tim Modalku dan penasihat, Chatib Basri (ke-9 dari kiri) (dok: Reynold Wijaya)

Reynold Wijaya (ke-10 dari kiri) bersama tim Modalku dan penasihat, Chatib Basri (ke-9 dari kiri) (dok: Reynold Wijaya)

Modalku bukan bisnis Reynold yang pertama. Setahun sebelum membuka perusahaan ini di Indonesia pada bulan January 2016, ia mendirikan perusahan dengan sistem yang sama bernama Funding Societies di Singapura. Saat itu padahal ia baru menginjak tahun pertama sebagai mahasiswa Harvard. Sang wirausaha penggemar olahraga futsal ini bercerita bahwa di kelasnya hanya ada dua orang murid dari Asia Tenggara. Ia sendiri dan Kelvin Teo, asal Malaysia. Merasa cocok dan mempunyai kesamaan visi dalam berbisnis, akhirnya mereka sepakat untuk bekerja sama membangun startup dengan sistem peminjaman P2P di Asia Tenggara. Mereka percaya bahwa praktik ini dapat berdampak positif bagi perkembangan UKM di negara-negara wilayah tersebut.

“Setelah meneliti berbagai kriteria seperti market yang besar dan terbukti serta mempunyai impact yang besar, kami akhirnya memilih P2P lending. Sistem ini telah terbukti berhasil di negara-negara di dunia tetapi belum berkembang di Asia Tenggara. Kami memulai langsung bukan (karena) merasa jagoan tetapi berpacu dengan waktu untuk menjadi pioneer bisnis ini di Singapura,” cerita Reynold kepada VOA baru-baru ini.

Reynold tumbuh di lingkungan keluarga pengusaha. Terlibat sejak kecil dalam bisnis keluarganya, PT. United Family Food, pria bergelar master di bidang teknik industri dari University of Michigan ini mengaku tahu seluk beluk dan tantangan UKM. Menurutnya, salah satu kunci untuk berkembang adalah suntikan pendanaan.

"Kebanyakan dari UKM kami cukup profitable namun tidak memiliki akses pinjaman ke Bank karena tidak memiliki agunan atau sejarah kredit yang cukup. Di lain pihak, meminjam dari tengkulak terlalu mahal, sehingga banyak sekali dari mereka yang terjebak dan tidak bisa tumbuh padahal potensi mereka cukup besar," ungkap pemuda berumur 28 tahun ini.

Untuk menjamin bahwa dana yang dikelola oleh Funding Societies dan Modalku aman, ia menggandeng bank-bank lokal. Di Singapura Funding Societies bekerja sama dengan DBS Bank, sedangkandi Indonesia Modalku bekerja sama dengan Sinarmas Grup.

"Saya sangat passionate terhadap UKM. Saya tumbuh dari keluarga UKM yang sekarang bisa menjadi perusahaan yang cukup besar. Saya berharap bisa memberikan bantuan kepada UKM sehingga suatu hari mereka bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia secara nyata," kata Reynold yang di akhir semesternya di Harvard harus bolak balik ke Indonesia selama lima kali demi mengurus perusahannya.

Syarat bagi peminjam di Modalku di antaranya adalah UKM yang telah beroperasi selama lebih dari satu tahun, sering melakukan transaksi di Bank dan memiliki omzet minimal 20 juta per bulan. Para calon peminjam bisa mendaftarkan diri secara online di www.modalku.co.id. Saat ini Modalku baru bisa melayani UKM yang berdomisili di daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang & Bekasi.

XS
SM
MD
LG