Tautan-tautan Akses

Lukisan Gua di Sulawesi Setua Seni Prasejarah di Eropa


Gambar stensil tangan di gua di Sulawesi, yang menurut studi baru sama tuanya dengan seni prasejarah di Eropa. (AP/Kinez Riza, Nature Magazine)

Gambar stensil tangan di gua di Sulawesi, yang menurut studi baru sama tuanya dengan seni prasejarah di Eropa. (AP/Kinez Riza, Nature Magazine)

Selusin gambar stensil tangan berwarna merah dan dua gambar binatang yang mendetil yang digambarkan sebagai babirusa itu berusia antara 35.000 sampai 40.000 tahun.

Lukisan-lukisan gua kuno di Indonesia sama tuanya dengan seni prasejarah terkenal di Eropa, menurut sebuah studi baru, yang menunjukkan bahwa nenek moyang manusia membuat gambar di seluruh dunia 40.000 tahun lalu.

Dan hal itu mengindikasikan masa kreativitas yang lebih awal dari manusia modern, yang berakar di Afrika, dibandingkan yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya.

Para ahli arkeologi menghitung bahwa selusin gambar stensil tangan berwarna merah dan dua gambar binatang yang mendetil yang digambarkan sebagai babirusa itu berusia antara 35.000 sampai 40.000 tahun, berdasarkan tingkat penguraian unsur uranium.

Hal itu menempatkan karya seni yang ditemukan di Sulawesi itu ada pada periode yang kira-kira sama dengan gambar-gambar yang ditemukan di Spanyol dan sebuah gua terkenal di Perancis.

Dan salah satu dari gambat tangan di Indonesia itu, diperkirakan setidaknya berusia 39.900 tahun, sekarang merupakan gambar stensil tangan tertua yang dikenal ilmu pengetahuan, menurut sebuah studi yang dipublikasikan Rabu (8/10) di jurnal Nature.

Ini adalah lebih dari 100 gambar gua Indonesia yang telah dikenal sejak 1950. Pada 2011, para ilmuwan melihat formasi batu yang aneh -- disebut "cave popcorn" -- dalam lukisan-lukisan tersebut. Endapan-endapan mineral tersebut dapat memungkinkan menggunakan teknologi penguraian uranium untuk mengetahui seberapa tua karya seni tersebut. Jadi mereka menguji tonjolan batu yang tumbuh di atas gambar tersebut untuk mengetahui usia minimum. Ternyata usianya hampir 40.000 tahun.

"Hal itu tidak disangka-sangka," kenang pemimpin penelitian Maxime Aubert, seorang arkeolog dan ahli geokimia dari Griffith University di Australia.

Melihat lukisan-lukisan gua tersebut, detil pada gambar binatang "dibuat dengan sangat, sangat baik," ujar Aubert dalam wawancara lewat telepon dari Jakarta. "Ketika melihat semua dalam konteks bahwa usianya sudah 40.000 tahun, mengagumkan."

Ahli paleoantropologi John Shea dari Stony Brook University di New York, yang tidak ikut dalam penelitian tersebut, mengatakan penemuan itu penting dan dapat mengubah apa yang ilmu pengetahuan ketahui mengenai manusia dan seni prasejarah.

Sebelum penemuan ini, para ahli memiliki pandangan Eropa-sentris mengenai bagaimana, kapan dan di mana manusia mulai membuat karya seni, menurut Aubert.

Mengetahui kapan seni dimulai adalah penting karena "ini mendefinisikan kita sebagai spesies," ujarnya.

Karena seni Eropa dan Asia itu pada dasarnya berusia sama, hal itu berarti seni berkembang secara terpisah dan simultan di bagian-bagian yang berbeda di dunia atau "kemungkinan besar ketika manusia meninggalkan Afrika 65.000 tahun yang lalu mereka sudah berevolusi dengan kapasitas untuk membuat lukisan-lukisan," ujar Aubert.

Seni kuno tidak banyak ditemukan di Afrika karena kondisi geologi tidak melestarikannya.

Shea dan lainnya cenderung setuju dengan teori seni yang pertama.

"Apa yang ditunjukkan penemuan ini adalah bahwa ketika manusia mulai pindah keluar dari Afrika, mereka tidak terlalu berbeda dari kita dalam hal kemampuan menggunakan seni dan simbol," ujar Shea.

"Banyak diantara kita yang kesulitan membuat replika lukisan tersebut, tapi mereka mungkin lebih handal dalam hal ini." (AP)

XS
SM
MD
LG