Tautan-tautan Akses

LSM Kamboja Berdayakan Anak-anak Lewat Papan Luncur


Anak-anak dan pemuda di Kamboja melupakan permasalah hidup dan sekolah dengan bermain papan luncur. (VOA/I. Loy)

Anak-anak dan pemuda di Kamboja melupakan permasalah hidup dan sekolah dengan bermain papan luncur. (VOA/I. Loy)

Lembaga swadaya masyarakat di Kamboja, Skateistan, membawa olahraga papan luncur ke jalanan Phnom Penh untuk menolong anak-anak bermasalah.

Sore itu di ibukota Kamboja, Phnom Penh, banyak kesibukan terlihat di sebuah taman tempat bermain papan luncur di pinggiran kota. Belasan anak melayang ke sana ke mari di atas papan, melompat, berjungkat-jungkit di atas palang dan meluncur dengan kecepatan penuh dalam pipa kayu.

Tempat itu adalah taman bermain papan luncur pertama di Kamboja, berada di atas tanah hibah masyarakat lokal. Sekumpulan anak yang bermain papan luncur tersebut merupakan bagian dari lahirnya olahraga baru di negara itu.

Pemain papan luncur berusia muda seperti Chea Sophanit (15 tahun), sangat senang atas kehadiran taman itu. Ia telah bermain papan luncur selama enam bulan dan olahraga itu sudah menjadi kegemarannya.

”Saat saya melihat gaya-gaya bermain papan luncur yang berbeda, terutama dari para pemain terbaik, saya ingin jadi seperti mereka. Saya ingin jadi pemain yang baik dan itu memacu saya untuk terus dan terus berlatih,” kata Chea.

Sebuah kelompok bernama Skateistan Cambodia mengorganisir sesi mingguan di taman tersebut. Memulai programnya sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) berbasis di Afghanistan, Skateistan kemudian berekspansi di Kamboja tahun lalu.

Di sebuah negara di mana olahraga-olahraga seperti tinju Khmer atau sepakbola sangat popular, meluncur ke sana ke mari di atas papan luncur kayu tipis bukanlah bagian dari budaya nasional. Namun aktivitas ini menarik banyak anak-anak yang ingin ditolong oleh LSM tersebut.

“Memang kegiatan ini bukan aktivitas umum di Kamboja,” ujar Rory Burke, yang bekerja dengan Skateistan Cambodia. “(Mengapa) kami pilih papan luncur, karena tidak ada yang pernah melakukannya. Tidak ada yang pernah bermain ini sama sekali. Kami ingin menggunakan permainan papan luncur untuk berkata, ‘Ini ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang berbeda.’ Itu saja akan menarik perhatian orang yang melihat dan berkata, ‘Wah, apa itu?’ dan mereka kemudian tertarik bergabung,” tambahnya.

Skateistan bermitra dengan kelompok-kelompok lokal yang bekerja dengan pemuda berisiko. Di lahan-lahan milik kelompok nirlaba Pour un Sourire d’Enfant (PSE), anak-anak bersekolah dan belajar berdagang. Kebanyakan dari hampir 120 peserta berasal dari latar belakang bermasalah.

Menurut Burke, beberapa anak muda menganggap permainan papan luncur merupakan kesempatan menikmati masa kecil untuk dua jam dalam seminggu. Namun ia berharap program tersebut dapat membantu meningkatkan keterampilan hidup lewat olahraga.

Bagi Sang Rotha (17 tahun) murid PSE, bermain papan luncur merupakan pelepasan frustrasi dari realita hidup dan sekolah.

”Terkadang nilai matematika saya buruk. Lalu saya kesal jika mendapat kesulitan dalam belajar. Itu sebabnya saya main papan luncur, supaya perasaan tidak enak hilang,” terangnya.

Rotha telah bermain papan luncur selama setahun dan tubuhnya berhiaskan benjolan dan lebam untuk membuktikan hal itu.

”Sebelum saya mulai berlatih, permainan ini terlihat mudah. Namun begitu saya coba, ternyata sangat sulit karena kadang-kadang saya bermasalah, dan ada banyak sekali trik ketika berada di atas papan. Saya punya banyak luka di tubuh karena jatuh,” ujar Rotha.

Burke berkata bahwa itu adalah bagian dari pelajaran untuk para pemain papan luncur muda tersebut.

”Cukup menakutkan untuk berada di atas papan luncur untuk pertama kali. Ketika mereka jatuh untuk pertama kalinya dan meluncur di lereng, memang agak menyeramkan. Hal ini seperti mengajarkan mereka bahwa jika kamu jatuh, maka kamu harus segera bangkit,” katanya.

Skateistan Cambodia berencana untuk membuka taman bermain papan luncur umum pertama di Phnom Penh akhir tahun ini.
XS
SM
MD
LG