Tautan-tautan Akses

LSM di Washington DC Bantu Atasi Masalah Remaja Tuna Wisma


Remaja bermasalah dan tunawisma seperti ini didorong oleh LSM Sasha Bruce Youthwork menggunakan keterampilan mereka untuk membangun tempat hunian nyaman bagi mereka (foto: dok.).

Remaja bermasalah dan tunawisma seperti ini didorong oleh LSM Sasha Bruce Youthwork menggunakan keterampilan mereka untuk membangun tempat hunian nyaman bagi mereka (foto: dok.).

Sebuah LSM di Washington, DC membantu remaja bermasalah dan tuna wisma dengan menyalurkan keterampilan mereka dalam pembangunan proyek hunian.

Sebuah LSM yang membantu remaja berisiko dan tunawisma di Washington, DC baru-baru ini menerima hadiah sebuah rumah bobrok yang ditinggalkan. Kelompok yang dikenal sebagai “Sasha Bruce Youthwork” itu memulai proyek untuk mengubah rumah tersebut menjadi tempat hunian yang nyaman bagi remaja-remaja tunawisma.

Memperbaiki rumah itu merupakan proyek Institut Arsitektur Amerika (AIA). Lebih dari 100 anggota AIA yang sedang berada di Washington, DC untuk mengikuti konferensi tahunan menjadi sukarelawan. Gwen Berlekamp dari Ohio mengatakan bahwa tenaga yang mereka sumbangkan bisa membuat perubahan.

“Kalau kita membuat perubahan bagi masyarakat dampaknya akan berkelanjutan. Jadi, orang-orang lain di sekitar tempat itu bisa merasa lebih aman tinggal di sana,” ujar Berlekamp.

Pekerjaan dimulai beberapa bulan lalu. Sejak itu Kevin Vines, 19 tahun, telah ikut memperbaiki rumah tersebut sebagai bagian dari “Sasha Bruce Youthbuild,” sebuah program pendidikan kejuruan dan keahlian. Ia memaparkan, “Saya mempelajari ilmu pertukangan. Ini yang saya suka lakukan, pekerjaan langsung.”

Kevin Vines yang putus sekolah tingkat SMA itu datang ke “Youthbuild” sebagai pengangguran dan bermasalah dengan polisi.

Remaja putus sekolah yang menggelandang di AS seperti ini dilatih ilmu pertukangan yang bermanfaat untuk masa depan mereka (foto: dok).

Remaja putus sekolah yang menggelandang di AS seperti ini dilatih ilmu pertukangan yang bermanfaat untuk masa depan mereka (foto: dok).

Pelatih konstruksi Marcus Bruce bangga dengan kemajuan yang dicapai Kevin Vines. Ia menuturkan, “Kevin telah menunjukkan kepemimpinan dan terampil menggunakan tangannya. Saya berharap ia akan menjadi bintang yang bersinar terang bagi program ini pada masa depan, karena ia memiliki semua keahlian yang diperlukan.”

Di antara keahlian itu adalah etika kerja, suatu hal yang dianggap Kevin Vines sebagai hal yang serius. Ia cepat memperoleh kepercayaan, sehingga bisa segera dipekerjakan.

“Saya anak muda yang sopan. Saya tepat waktu. Apa yang orang perintahkan akan saya kerjakan. Orang tidak perlu mengatakan berulangkali kepada saya, dan saya akan menyelesaikan proyek itu,” papar Vines lagi.

Kini Kevin Vines hampir menyelesaikan proyek itu bersama remaja-remaja lain dari “Youthbuild” dan para sukarelawan dari luar komunitas mereka. Direktur “Sasha Bruce Youthwork,” Debby Shore mengatakan, ini adalah kesempatan bagus bukan hanya untuk membangun satu rumah.

“Kami disini membangun hubungan yang berarti bagi para remaja,” paparnya.

Tom Schell, anggota AIA dari Florida, mengatakan, proyek itu membantu menyoroti nasib para tunawisma di Amerika.

“Saya tahu sewaktu-waktu situasi yang mereka hadapi dapat terjadi pula pada anak-anak saya. Ini dapat terjadi pada saya. Setiap orang rentan dan saya kira sangat penting untuk berada di garis depan untuk membantu. Ini membuat saya merasa seakan-akan saya melakukan sesuatu tidak saja untuk kemanusiaan, tetapi juga bagi anak-anak dan keluarga saya suatu hari nanti,” ujar Schell.

Meskipun rumah itu bisa ditinggali delapan orang, Direktur “Sasha Bruce”, Debby Shore, mengatakan bahwa yang dibutuhkan jauh lebih besar. Tunawisma di kalangan kaum remaja, katanya, tidak akan berakhir hingga komunitas di seluruh Amerika memutuskan untuk tidak mentolerirnya lagi dan mengambil langkah-langkah untuk menghilangkan kecenderungan itu.
XS
SM
MD
LG