Tautan-tautan Akses

LSM AS Bangun Perpustakaan bagi Anak-anak di Indonesia


Anak-anak membaca di salah satu perpustakaan di Jakarta Pusat (foto: dok.). LSM “The World is Just a Book Away” membangun perpustakaan bagi anak-anak di Indonesia.

Anak-anak membaca di salah satu perpustakaan di Jakarta Pusat (foto: dok.). LSM “The World is Just a Book Away” membangun perpustakaan bagi anak-anak di Indonesia.

“The World is Just a Book Away”, LSM Amerika, membangun perpustakaan-perpustakaan bagi anak-anak di Indonesia dan keluarga mereka.

Anak-anak sedang membaca di perpustakaan yang baru dibuka di sebuah sekolah di Padang, Sumatera Barat. Buku adalah barang mewah di sini, sehingga Fiolisa Anggraini, siswa kelas 5 sekolah dasar setempat, merasa gembira melihat begitu banyak buku di perpustakaan itu

“Apa yang paling saya suka dari perpustakaan baru ini adalah buku. Buku-buku ini dapat menambah pengetahuan saya,” aku Fiolisa.

Ini adalah satu dari puluhan perpustakaan yang dibangun “The World is Just a Book Away” di Indonesia sejak tahun 2009 di Padang, Sidoarjo, dan Bali. Yang terakhir dibuka bulan lalu.

Profesor James Owen, pendiri “The World is Just a Book Away” mengatakan, anak-anak di Indonesia, seperti di negara-negara berkembang lainnya, sangat berbakat, tetapi hanya memiliki sedikit sumber daya//

“Mereka bersekolah, belajar, dan sangat cerdas. Tetapi, mereka tidak punya buku cerita-cerita sejarah, dongeng, dan ilmu pengetahuan yang dapat memicu imajinasi mereka dan mengajak mereka berpikir,” papar Prfesor Owen.

Setiap perpustakaan membutuhkan biaya antara lima hingga sepuluh ribu dollar. Di Universitas California Selatan, di mana Profesor James Owen mengajar, para mahasiswa bulan Maret lalu menyelenggarakan lomba lari amal sepanjang lima kilometer dan mengumpulkan delapan ribu dollar bagi perpustakaan di Padang itu. Dana tambahan diperoleh dari cabang lain di Amerika.

Stephanie Wetzel, mahasiswa jurusan psikologi yang menjadi anggota kelompok pendukung di kampus, mengatakan, “Kami menganggap membaca merupakan hal biasa di sini. Saya rasa orang sungguh-sungguh ingin membuat anak-anak lain yang belum bisa membaca menjadi “melek huruf.”

Amril Lasmana, guru dan kepala sekolah di Padang, mengatakan, perpustakaan itu telah membuat perubahan dalam kehidupan anak-anak tersebut.

“Antusiasme, minat, dan motivasi belajar siswa-siswa kami meningkat. Bangunan perpustakaan telah diperbaiki dan kini berada dalam kondisi yang baik dan bersih. Jadi, ini mendorong siswa-siswa kami untuk belajar,” papar Amril.

Perpustakaan yang berada di Padang dan Sidoarjo memperluas jangkauan program ini pada banyak sekolah lainnya.

Lisa Andriyani Putri, siswa kelas lima sekolah dasar, menilai perpustakaan baru itu akan membantu mengembangkan pikiran dan karakternya.

“Saya sangat senang dengan perpustakaan baru ini. Ini membuat saya ingin terus belajar, sehingga saya bisa menjadi orang yang baik pada masa depan,” kata Lisa.

Kembali ke California. Robert Lucas, Direktur Eksekutif “The World is Just a Book Away,” membantu menghubungkan para donatur dengan proyek-proyek yang dibiayai lewat amal. Ia mengatakan, dana yang dikumpulkan di Amerika sangat bermanfaat di Indonesia.

“Dengan satu dollar kami dapat membeli satu buku di Indonesia. Jadi rasio satu-banding-satu itu merupakan cara yang sangat menarik untuk mengajak orang agar terlibat dalam mendukung LSM ini dan semua yang kami upayakan,” ujarnya.

Beberapa perpustakaan di Indonesia diberi nama sesuai nama para penyumbang, termasuk seniman Cher, aktor Liam Neeson, aktivis lingkungan Jane Goodall, dan aktivis perdamaian Afrika Selatan Uskup Agung Desmond Tutu.

Di Indonesia, “The World is Just a Book Away” telah membangun 49 perpustakaan bagi anak-anak dan 26 perpustakaan bagi orang tua mereka. LSM ini akan meluncurkan sebuah program di Meksiko tahun ini.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG