Tautan-tautan Akses

Lindungi Badak, Afrika Selatan Suntikkan Racun ke Dalam Cula


Seekor induk badak putih dan anaknya di Taman Nasional Pilanesberg, Afrika Selatan (foto: dok). Perburuan liar badak mencapai tingkat mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir di sana.

Seekor induk badak putih dan anaknya di Taman Nasional Pilanesberg, Afrika Selatan (foto: dok). Perburuan liar badak mencapai tingkat mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir di sana.

Afrika Selatan, tempat tinggal sebagian besar badak dunia, terus berusaha mencari cara efektif menghentikan perburuan liar yang telah mencapai tingkat mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir.

Dinas satwa liar pemerintah Afrika Selatan bersama swasta menerapkan cara-cara mulai dari patroli bersenjata, sampai memotong cula badak atau meracuninya supaya tidak berharga di pasar gelap. Ratusan cula badak telah disuntik racun tahun ini dengan harapan hal itu akan mencegah hewan itu dari kepunahan.

Badak menjadi sasaran perburuan liar karena cula mereka bisa laku dijual dengan harga puluhan ribu dolar di pasar gelap di Asia. Cula digunakan dalam obat-obatan tradisional Tiongkok, sedangkan mata dan ekor badak kadang-kadang digunakan dalam ilmu hitam.

Graham Shipway adalah manajer umum pondok wisata di Plumari Africa Game Reserve dekat Johannesburg, Afrika Selatan. Ia menemukan setidaknya dua badak mati dalam beberapa pekan terakhir.

"Ini badak betina, hamil, usia 23 tahun. Sabtu lalu hewan ini ditembak. Anda bisa lihat di sini ada lubang peluru. Peluru ini menembus jauh, berarti ini adalah peluru kaliber berat. Mereka memotong culanya, seperti yang bisa Anda lihat di sini. Mereka mencungkil matanya. Dan mereka memotong ekornya. Semua ini demi cula seberat dua kilogram," ungkap Graham.

Hampir 800 badak telah dibunuh di Afrika Selatan tahun ini, lebih dari tiga persen populasi badak di negara itu.

Pemilik kawasan lindung telah mempekerjakan penjaga keamanan bersenjata untuk berpatroli di kawasan milik mereka, tetapi itu bisa menjadi pekerjaan berbahaya. Kini mereka mencoba taktik baru. Mereka meracuni cula badak-badak itu.

Badak ini disuntik obat bius, sehingga lumpuh tetapi sadar. Kemudian culanya dibor, lalu disuntikkan racun yang diberi warna merah. Konservasionis Lorinda Hern mengatakan racun itu aman bagi badak, tetapi berbahaya bagi manusia yang menelannya. Gejalanya mencakup mual, muntah, diare, kerusakan saraf, bahkan kematian dalam kasus-kasus ekstrim.

Lorinda menjelaskan, "Ini adalah cula yang belum diberi racun. Dan ini cula yang sudah diberi racun. Jika orang membeli cula dan melihat warna semacam ini, maka orang itu langsung tahu bahwa cula itu sudah diberi racun dan tidak aman bagi manusia. Jadi, ya, nilainya anjlok dari 60 ribu dolar Amerika per kilo menjadi nol."

Begitu prosedur tuntas, badak bangun dengan sempoyongan, tetapi tidak terluka. Para pakar konservasi berharap menyelamatkan ratusan badak setiap tahun dengan membuat cula badak-badak itu tidak berharga bagi pemburu gelap.

(Zlatica Hoke/VOA).
XS
SM
MD
LG