Tautan-tautan Akses

AS

50 Pakar Keamanan Partai Republik Tolak Pilih Trump


Kandidat presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, meninggalkan podium setelah berpidato tentang ekonomi di Detroit, Michigan (8/8). (AP/Evan Vucci)

Kandidat presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, meninggalkan podium setelah berpidato tentang ekonomi di Detroit, Michigan (8/8). (AP/Evan Vucci)

Trump antara lain dianggap memiliki “ketidaktahuan yang mengkhawatirkan mengenai fakta-fakta mendasar politik internasional saat ini” dan bahwa ia tidak menunjukkan kemauan untuk belajar.

Lima puluh pakar keamanan nasional dari Partai Republik, termasuk mantan pemimpin lembaga intelijen, hari Senin (8/8) menandatangani pernyataan yang mengatakan “tidak satu pun dari kami akan memilih Donald Trump."

Para pejabat tersebut -- termasuk mantan direktur CIA Michael Hayden, mantan Direktur Keamanan Dalam Negeri Michael Chertoff dan Tom Ridge, mantan Wakil Perdagangan Carla Hills dan sejumlah mantan wakil menteri luar negeri -- sudah mengabdi pada presiden-presiden Amerika dari Partai Republik mulai dari Richard Nixon sampai George W. Bush,

Pernyataan tersebut merupakan salah satu pil terpahit yang harus ditelan pihak kampanye Trump dari anggota partainya sendiri sampai saat ini.

Surat dengan kata-kata terkeras itu bukan hanya mengatakan Trump tidak memenuhi syarat sebagai presiden tapi ia akan menjadi seorang panglima tertinggi yang berbahaya dan “calon presiden yang paling gegabah dalam sejarah Amerika”.

“Ia tidak punya karakter, nilai-nilai dan pengalaman, ia memperlemah kekuatan moral Amerika, ia tidak punya pengendalian diri dan bertindak serampangan. Ia tidak bisa mentoleransi kecaman pribadi. Ia membuat sekutu-sekutu terdekat kita was-was dengan perilakunya yang tidak terkendali”.

Para penasihat keamanan itu menuduh Trump menunjukkan “ketidaktahuan yang mengkhawatirkan mengenai fakta-fakta mendasar politik internasional saat ini” dan mengatakan Trump tidak menunjukkan kemauan untuk belajar.

“Semua ini merupakan kualitas yang sangat berbahaya dalam individu yang ingin menjadi presiden dan panglima tertinggi yang mengawasi senjata nuklir Amerika."

Pernyataan itu diorganisir oleh Philip Zelikow, penasihat utama mantan menteri luar negeri Condoleezza Rice.

Trump menanggapi pernyataan itu dengan kasar, menyebut ke-50 orang itu bagian dari kalangan dalam “elit Washington yang gagal,” yang bersama Hillary Clinton membuat “keputusan malapetaka untuk menginvasi Irak, yang menyebabkan warga Amerika tewas di Benghazi dan membiarkan kebangkitan Negara Islam (ISIS).​ [my/al]

XS
SM
MD
LG