Tautan-tautan Akses

Lewat Ngobrol, Remaja Perempuan Meningkatkan Rasa Percaya Diri


Gadis remaja di SMA Eleanor Roosevelt berkumpul secara berkala untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang mereka hadapi sehari-hari, dan belajar untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Gadis remaja di SMA Eleanor Roosevelt berkumpul secara berkala untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang mereka hadapi sehari-hari, dan belajar untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Gadis remaja di SMA Eleanor Roosevelt berkumpul secara berkala untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang mereka hadapi sehari-hari, dan belajar untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Halima Adenegan kembali ke almamaternya, Eleanor Roosevelt High School, pada tahun 2012, empat tahun setelah ia lulus, untuk memulai program mentoring, bagi para remaja putri di sekolah tersebut. Ia memberi nama program tersebut Imara Roose; Imara adalah bahasa Swahili yang artinya kuat, dan Roose adalah kependekan nama sekolahnya. Para mentor program tersebut adalah siswa-siswa perempuan yang dengan sukarela menjadi panutan atau menjadi kakak angkat.

Setiap minggu, siswa-siswa di program Imara Roose berkumpul dalam sebuah kelompok besar untuk mendiskusikan berbagai topik yang menarik bagi mereka, dari mulai kebugaran tubuh sampai gaya hidup sehat seputar media sosial dan citra diri. Kadang-kadang mereka berkumpul dalam kelompok kecil.

“Selalu ada orang yang sedikit malu dan tidak ingin berbicara di depan kelompok yang besar," kata Adenegan. "Lebih mudah bagi mereka untuk menanyakan sesuatu hal yang membutuhkan jawaban dan mendapatkan informasi yang sangat mereka butuhkan namun mereka mungkin malu menanyakannya bila berada dalam kelompok yang besar.”

Tantangan Remaja

Adenegan mengatakan kelompok tersebut adalah tempat di mana para remaja perempuan bisa merasa nyaman mendiskusikan isu-isu yang sering ditemui, masalah pribadi dan tantangan-tantangan yang dihadapi sebagai seorang remaja.

“Saya rasa mereka butuh seseorang untuk mengatakan 'saya pernah mengalami hal yang sama, melakukan hal yang sama, jadi ikuti apa yang saya lakukan karena saya tidak mau kalian melakukan kesalahan yang pernah saya lakukan dulu," ujarnya.

Justice Davis, yang lulus pada bulan Mei, ikut dalam program tersebut dan mengatakan program itu membantunya meningkatkan kepercayaan dirinya.

"Salah satu hal yang saya pelajari tentang kepercayaan diri adalah, ketika saya berada di sekolah dan kemudian merasakan keragu-raguan yang seharusnya tidak perlu ada," ujarnya. "Saya belajar bahwa setiap orang berbeda dan saya adalah diri saya. Saya belajar tentang apa yang saya sukai, apa yang ingin saya lakukan. Program ini sangat membantu saya untuk menumbuhkan percaya diri."

Averi Millet, seorang anggota program tersebut saat ini, merasa diskusi tentang tekanan dari para teman sebaya khususnya sangat berguna.

“Saya dengar banyak komentar berbeda tentang bagaimana kamu bisa memberikan tekanan kepada seseorang dengan cara positif dan memberikan tekanan dengan cara yang negatif," kata Millet. "Saya pikir program ini bagus sekali. Program ini membantu saya melewati banyak jenis situasi."

Pendiri Imara Roose mengatakan membantu siswa SMA seputar pendidikan lanjutan mereka dengan teman-teman dan merencanakan masa depan adalah bagian yang paling penting dari kegiatan kelompok tersebut.

“Setiap dua minggu sekali pada hari Rabu, kami mengadakan rapat untuk membahas sekolah tinggi," kata Adenegan. "Di semester akhir tahun, kami membantu mereka melengkapi proses pendaftaran kuliah, memilih lima sekolah teratas, resume, dan lainnya. Semester kedua lebih fokus pada pengembangan karir. Jadi kami punya beberapa panel. Masing-masing dengan tema berbeda. Kami juga pergi berjalan-jalan. Kami sudah pergi ke Baltimore Circuit Court dan mereka bertemu dengan hakim. Kami juga pergi ke Capitol Hill dan bertemu dengan Senator Donna Edwards.”

Soal kepercayaan

Siswa University of Maryland, Tinsae Gebriel mengajukan diri menjadi mentor tahun ini karena ia ingin melakukan sesuatu untuk masyarakat dan membantu remaja perempuan lainnya.

“Kalau saya ada di sini, saya menikmatinya," katanya. "Saya tahu bahwa setiap hari mereka pulang, mereka belajar...saya juga belajar. Kalau kamu kelihatan tertarik, cepat atau lambat anak-anak perempuan itu akan membuka diri mereka."

Ketika seorang remaja perempuan mempercayai mentor mereka, ia akan lebih terbuka untuk berdiskusi tentang isu-isu yang rumit.

“Seperti tentang hubungan dan juga pendidikan seks. Ada banyak pertanyaan dan informasi yang salah. Banyak informasi yang mereka pikir fakta terbyata tidak benar. Mereka bergantung pada beberapa teman untuk menjawab pertanyaan mereka dan, dan teman-teman mereka juga tidak tahu jawabannya.”

Kepala sekolah Eleanor Roosevelt, Reginald McNeil mendukung penuh Imara Roose, dan mengakui, "Saya senang sekali ada seseorang lulusan Roosevelt yang mau berbakti pada sekolahnya."

Ia yakin program ini mempunyai dampak positif bagi para siswanya.

“Saya rasa program ini memperluas wawasan mereka. Sebagian besar siswa datang dan mereka terlalu fokus pada hal tertentu karena tidak pernah terpapar pada berbagai ide yang berbeda. Dengan program ini, mereka belajar untuk mendengarkan tokoh panutan mereka. Semua perempuan muda yang menjadi mentor adalah siswa pendidikan tinggi. Mereka menemukan cara untuk menjadi sukses dan mereka memimpin remaja perempuan ini ke arah yang sama.”

Pendiri Imara Roose founder Halima Adenegan akan segera lulus dari Washington and Lee University School of Law di Virginia. Ia ingin melihat lebih banyak siswa sekolah tinggi yang memulai program serupa untuk membantu remaja-remaja perempuan mengikuti jejak mereka.

XS
SM
MD
LG