Tautan-tautan Akses

Lewat Komik, Obat Tidak Lagi Menakutkan


Semakin banyak komik dan novel grafik ditemukan di ruangan pemeriksaan medis. Para ahli mengatakan khususnya bagi pasien muda, komik bisa jadi alat bagus untuk menjelaskan proses medis yang mungkin menakutkan dengan cara yang mudah dan menghibur.

Komik juga berperan bagi orang dewasa dan dokter-dokter di ruang gawat darurat. Penggunaan seni grafik yang semakin banyak dan bervariasi adalah fokus dari konferensi Komik dan Obat baru-baru ini di Johns Hopkins Medical Campus di Maryland.

Obat-obatan adalah pahlawan dan penyebab alergi menjadi penjahat di seri komik Iggy and The Inhalers. Alex Thomas, seorang ahli alergi anak-anak di University of Wisconsin, menggunakan video ini dan komik lainnya yang ia ciptakan untuk pasien asmanya bersama mitranya Gary Ashwal, seorang spesialis komunikasi kesehatan.

“Apa yang ingin kami lakukan adalah memasukkan informasi sains ke metafor agar anak-anak senang belajar tentang pahlawan dan penjahat, dan kekuata serta kekurangannya tanpa menyadari bahwa secara tidak langsung mereka sedang belajar tentang patologi asma, penyebab asma dan penggunaaan obat-obatan yang benar, dan mekanisme pengobatan," ujar Thomas.

Tidak ada statistik berarti tentang efektivitas komik sebagai alat pendidikan, tapi menurut Thomas, ujicobanya menunjukkan hasil yang menjanjikan.

“Contohnya, salah satu pertanyaan tentang bagaimana ‘Bronchodilator’ bekerja sebagai pengobatan asma. Sebelum komik ini dibuat, 18 persen anak-anak bisa menjawab dengan benar. Setelah itu, 68 persen bisa menjawab dengan benar," ujarnya.

Penggunaan komik tidak terbatas untuk anak-anak semata. Brian Kloss adalah dokter pengobatan darurat di SUNY Upstate Medical University di New York. Baru-baru ini ia menerbitkan ‘Toxicology in a Box.’ Buku itu terdiri dari 150 kartu peraga yang digunakannya untuk mengajar siswa kedokteran untuk mengenali dan mengobati overdosis obat dan keracunan.

“Saya pikir semua obat bisa dijelaskan dalam ilustrasi komik. Lewat format buku komik dan format ilustrasi komik, subyek yang kompleks bisa lebih mudah dipahami dan dipelajari dengan lebih cepat dan efektif," ujar Kloss.

Konferensi Komik dan Obat termasuk sesi di mana dokter belajar tentang menggunakan komik di praktek-praktek mereka dan pelatihan tentang cara membuatnya.

“Saya banyak menggunakan [komik] saat mengajar siswa kedokteran sebagai cara untuk membantu mengeksplorasi tema-tema yang berbeda yang menurut saya sangat penting supaya dokter bisa memahami pengalaman pasien tentang suatu penyakit dan bagaimana memahami cerita yang rumit," jelas Michael Green, seorang dokter penyakit dalam di Penn State College of Medicine.

Penggunaan gaya kartun untuk penulisan memoir tentang sebuah penyakit juga semakin berkembang, termasuk buku terlaris New York Times, “Marbles". Ellen Forney, yang menceritakan perjuangannya terhadap gangguan bipolar, adalah pembicara kunci di konferensi tersebut.

“Saya pikir komik adalah media yang sangat ampuh untuk menceritakan kisah-kisah pribadi karena ada banyak informasi spesifik yang bisa disampaikan melalui komik seperti mood, penggunaan gambar bisa menciptakan emosi atau suasana," ujar Forney.

Komik memang masih merupakan hal kecil dalam seni penyembuhan, tapi menurut para dokter yang menggunakannya peran komik semakin penting.

XS
SM
MD
LG