Tautan-tautan Akses

Letusan Gunung Kelud Rusak Peternakan Warga

  • Petrus Riski

Kerusakan kandang ternak di Desa Asmorobangun Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri, akibat letusan gunung Kelud (VOA/Petrus Riski)

Kerusakan kandang ternak di Desa Asmorobangun Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri, akibat letusan gunung Kelud (VOA/Petrus Riski)

Bencana erupsi gunung Kelud tidak hanya merusak rumah warga, namun juga menimbulkan kerugian rusaknya fasilitas kandang peternakan ternak milik warga.

Letusan gunung Kelud Kamis (13/2) malam lalu yang sangat cepat, menyebabkan warga panik dan menyelamatkan diri ke pengungsian. Namun persiapan yang minim untuk mengevakuasi satwa, menyebabkan beberapa satwa terisolasi di kawasan yang masuk radius berbahaya.

”Kondisinya jelas sapi-sapi, keadaan kandang juga normal, tapi setelah ada bencana itu, setelah adanya letusan Kelud, kandang yang dari (atap) asbes itu semua itu gak kuat, hancur,” demikian kata Mali, peternak dari desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Meski tidak ada ternak jenis sapi yang mati, sebagian besar ternak sapi mengalami luka-luka tertimpa material vulkanik maupun tertimpa atap kandang. Dari 80 anggota Kelompok Tani Gangsar Makmur, terdapat sekitar 70 ekor sapi yang dipelihara di peternakan itu.

Ketua Kelompok Tani Gangsar Makmur, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Sarono mengatakan, kerusakan kandang ternak yang cukup parah diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah, agar membantu meringankan beban peternak yang mengalami kerugian akibat kerusakan kandang ternak.

“Kandang tempat berusaha para peternak kami ini, seperti apa kami juga masih bingung. Jadi memang kita nanti partisipasi tenaga kerja mungkin bisa dari teman-teman kelompok, anggota kelompok, kemudian nanti untuk atap, kayu dan lain sebagainya itu kan harus pengadaan, padahal keadaan rumah juga seperti itu, sehingga kami juga mungkin perlu bantuan akan hal itu jika ada,” kata Sarono.

Selain kandang yang rusak, Sarono juga mengaku kesulitan mencarikan pakan untuk ternak, karena persediaan pakan, serta tanaman untuk pakan ternak yang ditanam di lahan khusus juga mati akibat tertimpa material vulkanik.

“Ini (pakan) cukup sulit carinya, ya alhamdulillah kemarin sudah kita siapkan beberapa, tapi sudah campur, campur dengan abu. Kita masih bingung untuk cari pakannya seperti apa, kebun HMT kita, lahan gajahan (rumput gajah) itu juga hancur. Pokoknya yang sekarang kita pikirkan, ada pakan kita pakankan bersama, yang penting ini ada pakan untuk ternaknya,” jelas Sarono.

Lambatnya evakuasi dan antisipasi letusan gunung Kelud terhadap satwa, menurut Sarono dipengaruhi jarak waktu yang pendek antara perubahan status awas ke erupsi. Rencana evakuasi beserta lahan yang dipersiapkan, akhirnya tidak terpakai karena kepanikan warga setelah mengetahui gunung Kelud meletus.

“Sebenarnya ada, tapi ada beberapa lokasi di sebelah baratnya posko pengungsian Desa Asmorobangun itu sudah disiapkan, terus di Kecamatan Puncu di sebelah timurnya SMP 1 Puncu di lapangan Desa Puncu itu juga sudah disiapkan. Tapi begitu, biasanya rentangnya itu kan agak lama," kata Sarono.

Menurut Sarono, dari pengalaman tahun 2007 (meletus), dari status awas hingga meletus rentang waktunya cukup lama. Sedangkan kali ini, hanya beberapa jam saja dari status awas, menyebabkan warga panik, dan tidak sempat memikirkan evakuasi bagi satwanya.
XS
SM
MD
LG