Tautan-tautan Akses

Leonardo DiCaprio dan Pertemuan dengan Tiga Orangutan

  • Nurhadi Sucahyo

Aktor Leonardo DiCaprio saat mempromosikan dilm "The Revenant" di Mexico City (Foto: dok).

Aktor Leonardo DiCaprio saat mempromosikan dilm "The Revenant" di Mexico City (Foto: dok).

Leonardo DiCaprio berkunjung ke Taman Nasional Gunung Leuser, yang berada di Sumatera Utara dan Aceh, Minggu, 27 Maret kemarin. Kunjungan ini merupakan wujud komitmen aktor pemenang Oscar ini terhadap pelestarian alam.

Tidak ada yang tahu sebelumnya bahwa Leonardo DiCaprio akan datang ke Taman Nasional Gunung Leuser akhir pekan lalu. Dalam surat permohonan kunjungan yang dikirimkan, memang ada beberapa nama aktor Hollywood yang ditulis lengkap seperti Adrien Brody dan Fisher Stevens. Namun ada satu nama, yang hanya ditulis sebagai Leo Dic. Hingga pada Jumat, atau dua hari sebelum kedatangannya, paspor para pengunjung dikirimkan ke pengelola taman nasional. Baru terungkaplah kemudian, bahwa Leo Dic yang dicantumkan dalam surat permohonan itu, adalah Leonardo DiCaprio. Cerita ini disampaikan Prama Wirasena, pejabat dari Taman Nasional Gunung Leuser mengungkapkan kepada VOA.

“Kita sebenarnya untuk nama persisnya memang tidak tahu, karena kita menganggap itu adalah surat ijin permohonan memasuki kawasan, seperti yang biasanya. Memang di dalam surat permohonan itu ada beberapa nama yang kita kenal, nah tapi yang Leonardo Di Caprio ini di dalam surat permohonan itu ditulis dengan nama Leo Dic, jadi kita tidak menyangka bahwa itu adalah Leonardo Di Caprio,” kata Prama Wirasena.

Prama menambahkan, setelah diketahui DiCaprio akan datang, muncul permintaan agar tidak dilakukan publikasi kunjungan tersebut. Nampaknya, aktor yang populer di Indonesia setelah perannya di film "Titanic" ini benar-benar ingin menikmati kunjungannya tanpa adanya gangguan. Meski begitu, karena DiCaprio sangat terkenal, kehadirannya tetap diketahui oleh sebagian masyarakat.

Dia datang ke Stasiun Penelitian Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara untuk bertemu dengan Orangutan Sumatera. Benar saja, selama dua am, Di Caprio menghabiskan waktu untuk menikmati kedekatannya dengan primata yang 97 persen genetiknya sama dengan manusia itu. Dia juga terkesan dengan suara burung-burung di habitat asli mereka, termasuk dengan lengkingan burung Rangkong.

“Leonardo DiCaprio sendiri cukup intens dan penuh perhatian ketika di Ketambe. Karena Ketambe adalah merupakan habitat Orangutan. Leonardo DiCaprio bisa melihat langsung, tiga Orangutan dewasa, dan ketiganya memang hidup di Stasiun Penelitian Ketambe. Ketambe merupakan Stasiun Penelitian Orangutan tertua di Indonesia,” lanjut Prama Wirasena.

Leonardo DiCaprio adalah aktor yang aktif mendukung upaya pelestarian alam. Di Indonesia, melalui Leonardo DiCaprio Foundation, dia memberikan bantuan pendanaan untuk pembangunan area konservasi, pembangunanpagar pelindung satwa, pelatihanpetugas patroli hutan, serta perekaman dan pelaporan kerusakan alam yang terjadi. Program ini khusus dilakukan di Leuser.

Sepertitaman nasional lain di Indonesia, Leuser juga menerima ancaman kerusakan karena ekspansi industri kehutanan. Koalisi Gerakan Rakyat Aceh Menggugat, kini sedang mengajukan gugatan kepada Pemerintah Aceh, agar memasukkan kawasan Leuser ke dalam Kawasan Strategis Nasional. Rencana tata ruang Aceh bahkan dikhawatirkan akan menjadi ancaman tersendiri bagi kelestarian kawasan Leuser.

Farwiza Farhan, Direktur Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA) menyebut Taman Nasional Gunung Leuser punya keistimewaan khusus. Tidak hanya menjadi penyeimbang kehidupan bagi jutaan warga Aceh dan Sumatera Utara, Leuser juga mempunyai peran penting dalam pelestarian empat satwa liar utama di Indonesia. Haka adalah salah satu LSM yang turut mengajukan gugatan demi pelestarian kawasan ekosistem Leuser.

“Tidak cuma memberikan penghidupan kepada jutaan masyarakat, terutama di Aceh, tetapi Leuser adalah satu-satunya tempat di dunia, dimana masih ada badak, gajah, harimau dan orangutan yang tinggal dalam satu ekosistem. Seandainya perlindungan untuk tempat ini tidak dikuatkan, maka tidak perlu menunggu lama sebelum hutan kawasan ekosistem Leuser itu akan rusak, seperti hutan-hutan di daerah lain. Dan tidak perlu menunggu lama juga kita akan melihat bencana-bencana yang terjadi di daerah lain akan terjadi di Aceh,” kata Farwiza Farhan.

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki luas 2,2 juta hektar dan merupakan satu dari lima taman nasional tertua di Indonesia yang ditetapkan pada 6 Maret 1980. Leuser juga menyandang gelar Cagar Biosfer yang ditetapkan oleh UNESCO pada1981.

Tahun 1984, Taman Nasional Gunung Leuser ditetapkan sebagai ASEAN Heritage Park (AHP) oleh Asean Center for Biodiversity (ACB) dan tahun 2004 ditetapkan sebagai Warisan Dunia, yaitu Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) bersama TN Kerinci Seblat dan TN Bukit Barisan. [ns/ab]

XS
SM
MD
LG