Tautan-tautan Akses

AS

Legislator Demokrat, Republik Beradu Pendapat Soal Obamacare


Sekelompok kecil pengunjuk rasa menyuarakan keinginan mereka agar Pemerintah AS membatalkan layanan kesehatan terjangkau yang lebih populer dengan sebutan Obamacare, dalam aksi di Indianapolis, Indiana, 26 Agustus 2013 (Foto: dok).

Sekelompok kecil pengunjuk rasa menyuarakan keinginan mereka agar Pemerintah AS membatalkan layanan kesehatan terjangkau yang lebih populer dengan sebutan Obamacare, dalam aksi di Indianapolis, Indiana, 26 Agustus 2013 (Foto: dok).

Rabu kemarin merupakan hari yang luar biasa di Capitol Hill, seorang Presiden yang akan mengakhiri masa jabatannya dan Wakil Presiden terpilih menggalang partai mereka untuk adu pendapat pertama mengenai pemerintahan Trump.

Debat sengit terkait salah satu prestasi utama dan warisan Presiden Obama dimulai lagi pada hari Rabu (4/1) di Washington. Dengan Partai Republik berjanji akan mencabut Undang-Undang Layanan Kesehatan Terjangkau yang menyediakan asuransi kesehatan bagi 20 juta orang Amerika, kedua belah pihak membuat pernyataan kepada publik di kubu yang terpisah.

Rabu kemarin merupakan hari yang luar biasa di Capitol Hill, seorang Presiden yang akan mengakhiri masa jabatannya dan Wakil Presiden terpilih menggalang partai mereka untuk adu pendapat pertama mengenai pemerintahan Trump.

Duel itu memberi indikasi akan pertempuran partisan pada masa mendatang di parlemen Amerika, dan Wapres terpilih Mike Pence mengatakan kepada para anggota DPR Partai Republik bahwa langkah pertama untuk pencabutan UU Layanan Kesehatan itu sudah dekat.

"Langkah itu benar-benar akan dimulai pada hari pertama, sebelum hari berakhir. Kita mengantisipasi bahwa Presiden terpilih akan berada di Oval Office mengambil tindakan," kata Wapres terpilih Mike Pence.

Tapi pihak Demokrat yakin akan mendapat dukungan rakyat.

"Presiden menegaskan bahwa politik berada di pihak kita dan bahwa ketika Anda melihat sebagian besar survei, rakyat Amerika tidak ingin UU itu dicabut," ujar anggota DPR Elijah Cummings.

Gedung Putih kemudian memperingatkan Partai Republik bahwa langkah-langkah pertama itu akan lebih sulit dari perkiraan mereka.

"Ada perbedaan antara memberikan janji yang dikemas pada kampanye dan benar-benar mewujudkan janji itu setelah Anda memikul tanggung jawab untuk memerintah negara terbesar di dunia," kata Juru Bicara Kepresidenan Josh Earnest.

Sementara pertemuan berlangsung, Presiden terpilih Donald Trump memicu ketidakpastian dengan kicauannya lewat Tweeter. Dia mendesak kalangan Republik agar menyalahkan Demokrat untuk setiap kegagalan perawatan kesehatan.

Anggota DPR dari Partai Republik Chris Collins menyambut baik penyataan lewat Twitter itu. "Presiden terpilih memiliki cara berkomunikasi dengan rakyat Amerika yang unik untuk Kepresidenan ini," kata Chris Collins.

Pihak Demokrat di Senat bertekad akan menggunakan cuitan spontan Trump sebagai alat untuk melawannya.

Pemimpin Demokrat di Senat Chuck Schumer mengatakan, "Partai Republik harus berhenti mengutak-atik Medicare, Medicaid dan layanan kesehatan rakyat. Semua ini sudah tertancap."

Kaum Demokrat ingin agar Trump memenuhi janji Twitter–nya sendiri untuk mendukung program kesehatan pemerintah lainnya.

"Sebelum Kongres membuang waktu yang sangat besar, Donald Trump harus maju, mungkin melalui Tweeter, salah satu cuitan dan mengatakan dengan jelas bahwa Donald Trump akan memveto setiap undang-undang yang memangkas Medicare, Medicaid dan Jaminan Sosial," jelas Senator Bernie Sanders.

Tapi ada satu hal yang pasti, pada akhirnya kedua belah pihak akan mencari dalih untuk menyalahkan yang lain dan mengklaim kemenangan. [as/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG