Tautan-tautan Akses

Lebih dari 200 Ribu Warga Sudan Selatan Mengungsi

  • Joe de Capua

Warga Sudan Selatan yang menghindari kekerasan akibat pertempuran tinggal di tempat terbuka di kota Awerial, Sudan Selatan (1/1).

Warga Sudan Selatan yang menghindari kekerasan akibat pertempuran tinggal di tempat terbuka di kota Awerial, Sudan Selatan (1/1).

PBB memperkirakan lebih dari 200 ribu orang telah mengungsi di dalam negeri di Sudan Selatan, sementara 10 ribu lainnya mengungsi ke negara-negara tetangga, akibat pertempuran yang terus berlanjut.

Juru bicara Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), Daniel MacIsaac mengatakan sedang berupaya mempertahankan akses bagi mereka yang membutuhkan, meski pertempuran terus berkecamuk di sedikitnya tujuh negara bagian.

“Tentu saja kami sangat prihatin dengan keselamatan para pengungsi dan warga Sudan Selatan yang mengungsi di dalam negara mereka sendiri. Kami juga sedang mengupayakan akses bagi orang yang terkena dampak – apa yang kami sebut sebagai – ketidakamanan, umumnya: bahaya, pertempuran dan lainnya,” ungkap Daniel.

Banyak warga yang mengungsi di dalam Sudan Selatan bertahan di pangkalan-pangkalan PBB di Juba, Bor, Pibor, Malakal dan Bentiu. Daniel Maclsaac mengatakan UNHCR membantu di lokasi-lokasi tersebut.

“Kira-kira sekitar 75 ribu orang – meskipun angka ini berobah-obah – telah mengungsi di beberapa tempat berbeda yang menjadi pangkalan atau kompleks PBB di negara itu. Walhasil begitu besar tanggungjawab (kami) untuk melindungi orang-orang tersebut dan sekaligus menyediakan tempat bertahan bagi mereka. Ini telah berlangsung selama dua pekan. UNHCR – karena keahliannya – tentu saja menjadi salah satu badan dalam PBB dan mitra-mitranya yang membantu menyediakan pasokan, seperti alas tidur, tenda, makanan dan air bersih. Kami membantu mengkoordinasikan itu,” ujar Daniel.

Maclsaac menambahkan mereka yang kabur ke perbatasan Sudan Selatan kini sedang dibantu oleh beragam badan dan kementerian pemerintah.

“Ada kerjasama yang baik sekali antar pemerintah – baik dengan Ethiopia, Uganda dan bahkan Sudan – tentu saja bersama dengan mitra-mitra LSM di negara-negara tersebut. Kami juga membantu untuk mengoperasikan pusat transit di mana kami akan mendaftar, menerima informasi dan mengetahui apa saja yang dibutuhkan. Kami juga menanyai setiap pengungsi tentang bagaimana situasi di tempat asal mereka sekarang. Mengapa mereka melarikan diri?. Apa yang mereka lihat di jalan?. Ini semua memberi kami pandangan pengungsi mana lagi yang mungkin datang,” paparnya.

Selain membantu para pengungsi tersebut di pangkalan-pangkalan PBB – dan mereka yang mengungsi ke negara-negara lain – UNHCR juga tetap mengirim pasokan bagi sekitar 210 ribu pengungsi dari negara tetangga Sudan. Terutama pengungsi yang berada di kamp Yida dan Ajoung Thok di Unity State – Sudan Selatan bagian utara. ada pula beberapa kamp pengungsi di Maban County di Upper Nile State.

“Situasi terus berobah setiap hari. Jadi beberapa di antara kami harus benar-benar memantau , termasuk untuk memperoleh pasokan yang dibutuhkan dari ibukota Juba atau dari luar Sudan Selatan,” kata Daniel.

UNHCR mengatakan, pihaknya juga memusatkan perhatian pada perlindungan anak, dengan mengatakan banyak anggota keluarga yang terpisah ketika berupaya melarikan diri dari pertempuran.
XS
SM
MD
LG