Tautan-tautan Akses

Lebih 10 Ribu Pemberontak Moro Letakkan Senjata

  • Simone Orendain

Ketua Fron Pembebasan Islam Moro (MILF), Haji Murad Ebrahim (tengah) menunjukkan kepada Presiden Filipina Benigno Aquino berbagai senjata pemberontak yang diserahkan di kota Sultan Kudarat, Maguindanao, Filipina selatan, Selasa (16/6).

Ketua Fron Pembebasan Islam Moro (MILF), Haji Murad Ebrahim (tengah) menunjukkan kepada Presiden Filipina Benigno Aquino berbagai senjata pemberontak yang diserahkan di kota Sultan Kudarat, Maguindanao, Filipina selatan, Selasa (16/6).

Pemberontak Muslim di Filipina telah mulai meletakkan senjata sebagai bagian dari perjanjian perdamaian satu tahun yang kini masih macet di parlemen Filipina.

Lantunan ayat-ayat al-Quran menyambut 145 pejuang yang mendaftarkan diri di gimnasium lembab dan duduk di deretan komputer yang diawaki pekerja pemerintah. Lebih dari 10 ribu pemberontak Moro Islamic Liberation Front (MILF), atau Fron Pembebasan Islam Moro itu datang untuk secara resmi memulai integrasi ke dalam masyarakat.

Jacob Palao, usia 66 tahun, adalah salah seorang yang pertama dalam antrean. Selama 41 tahun pertempuran ia menjadi wakil komandan pada bagian operasi angkatan bersenjata MILF.

Palao mengatakan, "Sekarang ini, menurut saya, jika pemerintah memenuhi kewajibannya, maka kami akan senang. Kami di MILF telah memenuhi kewajiban kami dalam pembicaraan dan mematuhi pemimpin kami."

Menurut Palao, selain menyerahkan senjatanya, ia juga minta bantuan untuk memulai bisnis karena itulah yang dipelajarinya sebelum ikut dalam pertempuran melawan pemerintah.

Para pejabat Filipina mengatakan, senjata-senjata berkemampuan tinggi dan sepenuhnya berfungsi itu diserahkan langsung oleh para pejuang. Ditambahkan, dana demobilisasi itu 53 juta dolar, disebar ke berbagai departemen pemerintah guna melayani pemberontak, seperti Departemen Pendidikan, Kesejahteraan Sosial, Pembangunan dan Pelatihan Keterampilan.

Ketua MILF, Haji Murad Ebrahim menyebut upacara penyerahan senjata itu sebagai awal transformasi pemberontak menjadi organisasi politik, yang siap menjalankan pemerintahan sendiri.

"Ini juga tentang transformasi Filipina untuk menjadi lebih adil, lebih inklusif dan memberi ruang bagi orang-orang Bangsamoro untuk menjalani hidup seperti keinginan kami, sesuai nilai-nilai spiritual kami yang paling dalam," ujar Murad Ebrahim.

Perjuangan pemberontak untuk menentukan nasib sendiri telah menewaskan lebih dari 120 ribu orang, sementara jutaan lainnya mengungsi. MILF selama 17 tahun maju mundur dalam perundingan dengan pemerintah sampai akhirnya kedua pihak menandatangani perjanjian yang komprehensif tahun lalu.

Berdasar ketentuan perjanjian itu, daerah otonomi yang disebut Bangsamoro akan dibentuk di bagian selatan Pulau Mindanao, yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Namun, anggota DPR Filipina mempertanyakan keabsahan undang-undang yang diusulkan untuk membentuk daerah itu dan sebagian anggota DPR ingin menolaknya secara keseluruhan.

Dalam pidato pada upacara demobilisasi, Presiden Benigno Aquino mengatakan pemberontak menunjukkan kesungguhan dengan menyerahkan senjata mereka. Menurutnya, mereka hanya menuntut "kehidupan yang layak dan damai," yang merupakan "keinginan setiap warga Filipina."

Aquino mengatakan, "Kita juga perlu mengakui, kita pun punya kekurangan. Tidak ada dalam agama atau undang-undang bahwa kita harus mengabadikan masalah dari masa lalu. Kini, kita diberi kesempatan baru untuk meluruskan yang salah, dan saya bertanya: Apakah kita akan menghindar dari tugas ini"?

Kepada wartawan seusai upacara, ketua MILF Haji Murad mengatakan, jika Undang-Undang khusus itu tidak diloloskan DPR, proses demobilisasi akan dihentikan. Ia tidak mengatakan apakah mereka akan kembali mengangkat senjata.

XS
SM
MD
LG