Tautan-tautan Akses

Lawatan Romney ke Luar Negeri Tak Berpengaruh pada Pemilih AS


Mitt Romney (kiri) bertemu PM Israel Benyamin Netanyahu di Yerusalem hari Minggu (29/7). Kunjungan Romney ke Luar Negeri tak banyak berpengaruh terhadap pemilih AS menjelang pilpres.

Mitt Romney (kiri) bertemu PM Israel Benyamin Netanyahu di Yerusalem hari Minggu (29/7). Kunjungan Romney ke Luar Negeri tak banyak berpengaruh terhadap pemilih AS menjelang pilpres.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa kunjungan capres Partai Republik, Mitt Romney hanya memberi sedikit dampak pada cara pikir warga AS menghadapi pilpres November mendatang.

Hampir setiap tempat yang dikunjungi Mitt Romney dalam lawatan selama satu pekan ke luar negeri, bakal calon presiden dari Partai Republik itu menjadi berita utama.

Di London, tabloid-tabloid Inggris menulis “Mitt the Twit” atau “Mitt Brengsek!” – mengecam keras mantan gubernur Massachusetts itu karena mengecam persiapan keamanan Inggris menjelang Olimpiade.

Di Israel, Mitt Romney membuat marah warga Palestina ketika ia menyebut Jerusalem sebagai ibukota Israel. Warga Palestina ingin menjadikan Jerusalem Timur sebagai ibukota negara mereka kelak.

Di Polandia, salah satu pembantu Mitt Romney menimbulkan sedikit keributan ketika mengatakan kepada para wartawan untuk “minggir”, sewaktu mereka meneriakkan beberapa pertanyaan kepada kandidat presiden itu, ketika ia mengunjungi Makam Prajurit Tak Dikenal. Asisten Mitt Romney itu kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada media.

Profesor Jeremy Mayer – ahli kebijakan publik dari Universitas George Mason mengatakan dalam banyak hal lawatan itu tidak bisa berakhir lebih buruk dari yang terjadi.

Namun kurang dari 100 hari menjelang pemungutan suara, Jeremy Mayer menilai kunjungan itu tidak memberi pengaruh apapun.

Jajak pendapat terbaru mendukung penilaian Jeremy Mayer bahwa kunjungan itu hanya memberi sedikit dampak pada cara pikir warga Amerika. Melihat hasil jajak pendapat Gallup bulan Juli, Mitt Romney hanya kalah tipis dari Presiden Barack Obama, yaitu sekitar 2 persen. Ini menjadikan pemilu presiden akan berlangsung sengit.
XS
SM
MD
LG