Tautan-tautan Akses

AS

Latar Belakang Agama Anggota Kongres AS Makin Beragam

  • Carolyn Presutti

Anggota Kongres Amerika, Andre Carson, yang beragama Islam, merupakan salah seorang dari dua Muslim di Kongres AS (foto:dok).

Anggota Kongres Amerika, Andre Carson, yang beragama Islam, merupakan salah seorang dari dua Muslim di Kongres AS (foto:dok).

Latar belakang agama anggota Kongres Amerika semakin beragam. Ini menegaskan, walaupun mendukung pemisahan agama dan negara, Amerika menghargai keberagaman agama dan kepercayaan yang dianut masyarakatnya.

Setengah abad lalu, 75 persen anggota Kongres Amerika beragama Kristen Protestan. Saat itu, semua anggotanya disumpah dengan Alkitab, tapi sekarang ada perubahan.

Anggota Kongres keturunan suku Indian, Ami Bera adalah seorang anggota gereja Unitarian, ia mengunjungi gereja-gereja yang berbeda setiap hari Minggu di distriknya di California. Kali ini gereja Methodist.

Bera memilih menggunakan Alkitab ketika ia disumpah sebagai anggota Kongres. Gabbard membawa Bhagavad Gita, kitab suci Hindu. Anggota Kongres Andre Carson menggunakan Quran. Kyrsten Sinema yang mengaku tidak beragama, memilih menggunakan salinan konstitusi Amerika.

“Inti menjadi seorang Unitarian yang Universal adalah kami meyakini satu Tuhan, namun banyak jalan menuju Tuhan,” kata Bera.

“Biasanya menggunakan konstitusi, tapi kali ini menggunakan Al-Quran,” kata Carson yang merupakan salah seorang dari dua penganut Muslim di Kongres.

Selanjutnya Carson menambahkan, “Saya rasa umumnya kita mendukung pemisahan gereja dan negara, namun kami semua menghargai fakta bahwa Amerika adalah masyarakat pluralistik dan masyarakat yang mendukung semua agama, semua kelompok etnis.”

Di Washington seorang Budha pertama menjadi Senator dan seorang penganut Hindu pertama menjadi anggota DPR.

Agama Hindu adalah agama ketiga yang terbesar di dunia. Tapi baru tahun lalu, untuk pertama kalinya penganut Hindu terpilih menjadi anggota DPR. Ia adalah Tulsi Gabbard dari Hawaii.

“Tugas dan tindakannya adalah untuk melayani rakyat Hawaii,” kata Siva Subramaniam mengenai Tulsi Gabbard. Subramaniam adalah pendiri dan pejabat emeritus di kuil Siva Vishnu, kuil yang terbesar di Hemisphere barat.

Mazi Hirono adalah yang pertama membawa agama Budha ke Senat Amerika. Ia mengatakan, “Budhisme adalah gaya hidup. Orang tidak perlu ke gereja, dan berdoa. Itu sebabnya saya menganggap agama Budha sebagai cara untuk menghormati pemikiran dan agama orang lain.”

Dulu, mempraktekkan agama selain Kristen Protestan bisa menghambat calon anggota Kongres. Sekarang bahkan tidak masalah jika tidak beragama.

Kysten Sinema dari Arizona adalah anggota DPR pertama dalam sejarah yang mencantumkan “tidak punya” agama.

Enam puluh tahun lalu, Kongres mendirikan ruang doa di gedung Capitol. Media tidak diijinkan masuk, hanya untuk para Senator dan anggota DPR. Ruang sederhana dengan jendela kaca, memaparkan presiden pertama Amerika, George Washington berlutut sedang berdoa.

Pendeta Patrick Conroy adalah pendeta DPR. Perancang konstitusi yang sama yang mempromosikan pemisahan gereja dan negara juga adalah yang menunjuk seorang pendeta. Setiap pendeta sejak 1780 beragama Kristen, namun Pendeta Patrick Conroy, mengatakan, “Doa yang saya sampaikan adalah untuk seluruh anggota Kongres, bagi pemerintah, bagi negara dan bagi dunia kita.”

Para analis tidak yakin makin beragamnya agama akan mengubah cara para anggota legislatif melakukan voting atau cara orang Amerika memilih para wakilnya. Namun cara itu memberi jaminan pada generasi berikutnya yaitu bahwa agama tidak akan menutup kesempatan mereka untuk mengabdi pada rakyat.


XS
SM
MD
LG