Tautan-tautan Akses

Laporan WHO dan Bank Dunia Ungkap Hambatan bagi Penyandang Cacat

  • Lisa Bryant

Penyandang cacat di Inggris memprotes rencana pemerintah untuk memotong anggaran sosial bagi penyandang cacat (foto: dok.)

Penyandang cacat di Inggris memprotes rencana pemerintah untuk memotong anggaran sosial bagi penyandang cacat (foto: dok.)

Laporan itu mengusulkan sejumlah rekomendasi mengenai cara-cara meningkatkan akses penyandang cacat terhadap kesehatan, pendidikan, transportasi dan lapangan kerja.

Lebih dari satu milyar orang di dunia menyandang cacat. Itu merupakan 15 persen dari seluruh jumlah penduduk, dan jumlah ini terus bertambah. Banyak yang mengalami hambatan yang luar biasa, dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, transportasi dan lapangan kerja, bahkan dalam memberikan suara.

Hal tersebut adalah beberapa temuan yang dilaporkan pertama kali dalam Laporan Dunia Mengenai Penyandang Cacat, yang dipublikasikan oleh WHO dan Bank Dunia, hari Selasa.

Etienne Krug, Direktur WHO urusan Kekerasan, Pencegahan Cedera dan Cacat, mengatakan meskipun kondisi yang dihadapi penyandang cacat berbeda dari satu negara ke negara lainnya, masalah mendasar tetap sama. Ia mengatakan, “Di semua negara, masih ada stigma dan diskriminasi. Masih ada hambatan akses disemua negara seperti transprotasi atau bangunan umum atau akses ke sekolah dan pekerjaan.”

Akibatnya, menurut studi baru itu, para penyandang cacat cenderung memiliki status kesehatan yang lebih buruk, prestasi pendidikan lebih rendah, kurang terlibat dalam perekonomian dan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi.

Tetapi beberapa penyandang cacat mampu keluar dari situasi itu, menjadi pemimpin terkemuka dalam masyarakatnya. Ahli fisika terkenal di dunia Stephen Hawking lumpuh total karena penyakit motor neuron. Meskipun begitu dalam catatannya dalam pengantar laporan itu cacatnya tidak mencegahnya dalam membangun karir sukses dan memiliki kehidupan berkeluarga yang bahagia.

Sementara berbagai negara maju menyusun kebijakan dan program yang lebih baik bagi penyandang cacat, Krug juga menyebutkan sejumlah negara berkembang. Brazil adalah salah satunya dan lainnya Mozambik.“Di Mozambik yang sangat miskin itu sudah ada upaya rehabilitasi. Orang-orang dilatih untuk melakukan rehabilitasi dan pelayanan rehabilitasi dikembangkan di seluruh bagian negara itu," demikian, ujar Krug.

Laporan itu mengusulkan sejumlah rekomendasi mengenai cara-cara meningkatkan akses penyandang cacat terhadap kesehatan, pendidikan, transportasi dan lapangan kerja. Mengkikutsertakan penyandang cacat dalam mengambil kebijakan adalah salah satu kuncinya.

Krug mengatakan studi itu merupakan peringatan bagi kita semua.Lebih lanjut ia mengatakn, “Pertama, kita mungkin akan mengalami cacat satu hari nanti karena usia tua atau lainnya, karena menghadapi anggota keluarga yang cacat.”

Bagi WHO dan Bank Dunia, Krug mengatakan laporan itu menuntut sejumlah tindakan dalam sepuluh tahun kedepan, guna memastikan terwujudnya rekomendasi tersebut.

XS
SM
MD
LG