Tautan-tautan Akses

Laporan: Kebebasan Demokrasi di Dunia Merosot 10 Tahun Berturut-turut

  • Chris Simkins

Sebuah studi baru menunjukkan kemerosotan ekonomi global dan ketakutan akan kerusuhan sosial telah menyebabkan meningkatnya penindasan politik oleh pemerintah-pemerintah otoriter pada tahun 2015.

Laporan tahun 2015 yang diterbitkan oleh kelompok non-partisan Freedom House itu memeringkat kebebasan demokrasi di negara-negara di seluruh dunia.

Perang saudara di Suriah dan ketidakstabilan di Timur Tengah membuat kawasan itu salah satu yang paling buruk bagi kebebasan di dunia.

Laporan Freedom House untuk tahun 2015 itu menyatakan 72 negara mengalami konflik, masalah politik dan ekonomi, yang mendorong merosotnya kebebasan untuk tahun ke-10 berturut-turut.

“Kami mendapati kemunduran berbagai kebebasan terkait dengan kebebasan berkumpul, kebebasan berserikat, supremasi hukum, independensi peradilan, dan benar-benar secara luas dalam semua bidang,” kata Vanessa Tucker, Freedom House.

Penelitian oleh organisasi yang berbasis di Washington itu menyebut 50 negara dan wilayah sebagai “Tidak Bebas.” Pelanggar terburuk, menurut laporan itu, adalah negara-negara seperti Suriah, Daerah Otonomi Tibet di China Somalia, Korea Utara, Uzbekistan dan Eritrea.

Laporan itu mengindikasikan rakyat di tempat-tempat itu mengalami kemunduran yang signifikan karena para pemimpin otoriter menindak keras aktivis HAM, dan para pengritik lainnya.

Menurut laporan tersebut, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menduduki peringkat terburuk.

“Yang kami lihat, khususnya di Timur Tengah, adalah banyak penguasa lama yang ada bahkan, dalam beberapa kasus, dianggap sekutu Barat, sebenarnya bukan mitra yang stabil. Terus bergantung pada negara-negara itu saya kira dalam jangka panjang merupakan taruhan yang benar-benar buruk,” imbuhnya.

Freedom House mengatakan negara-negara demokratis yang tertekan oleh serangan teroris dan ketegangan yang disebabkan oleh jumlah migran yang begitu besar yang belum pernah terjadi sebelumnya juga mengekang kebebasan sipil.

“Jadi terutama sangat penting bahwa negara-negara yang menghadapi tantangan terbesar, yang hampir semuanya berhubungan dengan gelombang migrasi, terus menyeimbangkan tugas pemerintah untuk melindungi warga sipil serta melindungi kepentingan nasional dengan terus memelihara kebebasan-kebebasan dasar,” jelas Vanessa Tucker.

Negara-negara yang dikritik oleh Freedom House sering mengecam balik organisasi itu. Rusia menyebut organisasi tersebut berat sebelah dan menuduhnya melayani kepentingan AS.

Laporan itu mendapati bahwa 61 negara mencatat kemajuan dalam upaya membangun kebebasan yang lebih besar, dan menyebut Amerika Latin patut mendapat pujian.

“Satu wilayah luas adalah Amerika Latin. Kita mendapati bahwa dalam 5-10 tahun terakhir terjadi pelanggaran terhadap banyak hak-hak dasar dan kini kita telah melihat bahwa arah itu bisa dikatakan mulai berbalik,” lanjut Vanessa.

Laporan itu mengindikasikan kemunduran paling signifikan bagi kebebasan global selama dekade terakhir telah terjadi dalam bidang kebebasan menyatakan pendapat dan supremasi hukum. [uh]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG