Tautan-tautan Akses

Kurang Serius Atasi Deforestasi, Aceh Kembali Dilanda Banjir dan Longsor

  • Budi Nahaba

Curah hujan tinggi mengakibatkan permukaan air danau Laut Tawar di provinsi Aceh meningkat (Foto:VOA/Budi)

Analis lingkungan mengatakan para pemangku kepentingan agar lebih serius dan fokus mengatasi masalah-masalah pengrusakan hutan (deforestasi) , terutama di wilayah pegunungan, agar banjir dan longsor tidak berulang terjadi di Aceh.

Otoritas lokal kabupaten dan kota di provinsi Aceh mengatakan, Selasa (21/4), curah hujan tinggi selama hampir sepekan terakhir telah mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah, ratusan rumah warga terendam, jalan dan jembatan terputus dan beberapa warga dilaporkan sempat terisolasi.

Salah seorang anggota relawan bencana Imran Gayo dari tim Search and Rescue SAR Kabupaten Aceh Tengah mengatakan Selasa (21/4), para petugas SAR telah berhasil melakukan evakuasi beberapa warga yang terjebak longsor dan banjir, petugas kesehatan disiagakan tak jauh dari lokasi longsor, sementara warga yang mengungsi di beberapa titik ditampung di perumahan warga setempat.

"Kami masih di lapangan, akibat (longsor) banyak yang tersisolasi , warga sudah berhasil dievakuasi, didampingi petugas kesehatan, semua ada di lokasi,” kata Imran Gayo.

Operator alat berat masih melakukan tugas, tambah Imran, terutama mengurai kemacetan, di ruas jalan utama antar kabupaten, yang menghubungkan Aceh Tengah dengan kabupaten lain di pantai barat provinsi Aceh terutama dengan ruas jalan yang menujukabupaten Aceh Barat Barat Daya. Longsor menutupi badan jalan, sementara itu jembatan antar desa dan kecamatan putus total akibat curah hujan tinggi dan derasnya aliran sungai.

Imran mengatakan, secara umum layanan akses telekomunikasi normal namum kualitas interaksi dengan menggunakan ponsel sedikit menurun kualitasnya.

Juru bicara Pemkab Aceh Tengah Mustafa Kamal mengatakan Selasa (21/4)dari sejumlah titik banjir di Aceh Tengah, puluhan rumah warga terendam banjir, beberapa diantaranya mengalami rusak berat.

“Tepatnya 34 rumah warga terendam banjir di Kecamatan Celala, di kawasan Kuyun , di situ ada empat kampung , beberapa rumah rusak parah. Longsoran yang banyak menimbun jalan, kebun dan sawah warga, karena air sungai meluap,” kata Mustafa Kamal.

Bupati bersama staf satuan tugas kebencanaan gabungan, tambah Mustafa , sudah berada di lokasi bencana, berbicara dengan warga guna memastikan distribusi bantuan cepat ditangani. Personil TNI Polri , BPBD, SAR . petugas medis dan relawan PMI bersiaga di lokasi bencana.

Pekan lalu banjir bandang juga telah merubuhkan puluhan rumah warga di kecamatan Bintang, tidak ada korban jiwa , namun dua warga dilaporkan tersengat arus listrik dan telah mendapat perawatan di rumah sakit umum daerah Datu Beru Takengon.

Saksi mata warga sekitar danau Laut Tawar, Takengon Naskah Ratawali (39) mengatakan jika hujan lebat berhari-hari turun maka muka air danau juga meningkat dan limpahan air danau bisa menyebabkan banjir karena mengalirkan air danau ke puluhan sungai dan anak sungai menuju wilayah pesisir Aceh.

Banjir juga merendam beberapa kecamatan di Aceh Jaya, di pesisir pantai barat provinsi. Koordinator Palang Merah Indonesia, Aceh Jaya Teuku Asrizal mengatakan, curah hujan tinggi merendam beberapa rumah warga di sejumlah kecamatan, air sempat mencapai setinggi pinggang orang dewasa.

“Banjir sempat terjadi di Teunom, namun hari yang sama langsung surut, banjir (diduga) limpahan air dari wilayah pegunungan Geumpang Pidie, karena curah hujan cukup tinggi,” jelas Asrizal.

Salah seorang anggota tim asistensi Gubernur Aceh, TM Zulfikar telah mengingatkan pemerintah , terutama Gubernur Aceh dan instansi terkait agar fokus dan serius mengatasi masalah-masalah deforestasi yang mengakibatkan bencana berulang terjadi di Aceh.

“Ekosistem Leuser (pegunungan tengah Aceh) dijadikan kawasan konservasi khusus, jangan sampai wilayah ini terganggu , kalau kawasan ini diganggu untuk kepentingan lain, banjir dan longsor ini dampak dari gangguan tadi , ini sudah terjadi,” kata Gubernur TM Zulfikar.

Aceh dinilai juga belum berhasil membendung laju perburuan satwa langka , seprti orang utan, gajah, badak dan harimau Sumatera. Praktik pembalakan liar, pembukaan perkebunan dan pertambangan diduga menjadi sebab berlanjutnya bencana dan krisis ekologi di Aceh.

Pekan ini badan cuaca nasional BMKG meminta warga waspada , hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang dan ombak tinggi akan berlangsung hingga awal Juni mendatang.

Banjir Besar awal Januari lalu, merendam hampir seluruh wilayah Aceh, banjir terparah di kabupaten Aceh Utara, Aceh Jaya, Pidie dan Pidie Jaya. Pengungsi mencapai 100 ribu jiwa, kerugian materi masing-masing kabupaten mencapai puluhan miliar rupiah.

XS
SM
MD
LG