Tautan-tautan Akses

Kunjungan Sejumlah Wartawan Indonesia ke Israel Picu Kontroversi

  • Fathiyah Wardah

PM Israel Benjamin Netanyahu memimpin rapat kabinet mingguan di Yerusalem (foto: dok). Sejumlah wartawan Indonesia berkunjung ke Israel dan bertemu PM Benjamin Netanyahu di Yerusalem.

PM Israel Benjamin Netanyahu memimpin rapat kabinet mingguan di Yerusalem (foto: dok). Sejumlah wartawan Indonesia berkunjung ke Israel dan bertemu PM Benjamin Netanyahu di Yerusalem.

Kedatangan sejumlah wartawan Indonesia bertemu sejumlah tokoh di Israel memicu kontroversi. Tetapi anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya menilai pertemuan dan wawancara dengan PM Israel Benjamin Netanyahu itu wajar saja, karena pers Indonesia sudah dewasa dan memahami garis politik Indonesia terhadap Israel.

Anggota Komisi I DPR yang membidangi masalah luar negeri Tantowi Yahya kepada VOA hari Selasa (29/3) menilai wajar saja ada wartawan-wartawan Indonesia yang menerima undangan kunjungan ke Israel. Menurutnya, pers Indonesia sudah sangat dewasa dan mengerti tentang garis politik Indonesia terhadap Israel, dan wartawan bukan penyelenggara negara sehingga mereka bisa saja datang ke Israel.

Enam wartawan yang diundang pemerintah Israel itu berasal dari Tempo, Kompas, Bisnis Indonesia, Metro TV, Jawa Pos dan Jakarta Post.

Tantowi mengatakan Israel telah berusaha melakukan berbagai cara untuk mendekati Indonesia, dengan mengundang sejumlah kalangan – termasuk wartawan – dari Indonesia. Israel tambah Tantowi tampaknya berharap pers Indonesia mendapatkan informasi yang berimbang dan bukan hanya dari satu sisi saja.

"Kita tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara penjajah. Israel itu negara penjajah karena mengokupasi wilayah Palestina. Pers kita sangat dewasa dan mengerti mengenai garis politik kita," ujar Tantowi.

Sebaliknya, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq justru mengecam pertemuan wartawan-wartawan senior Indonesia dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Tel Aviv. Kunjungan tersebut dinilai Mahfudz sangat kontradiktif dengan sikap Indonesia yang sejak awal menentang penjajahan Israel di Palestina dan mendukung kemerdekaan Palestina.

Mahfudz menilai undangan itu dimaksudkan supaya para wartawan senior itu membantu membentuk opini alternatif. Para wartawan senior, kata Mahfudz, tidak bisa menggunakan dalih bahwa mereka hanya sekedar memenuhi undangan Israel saja. Kedatangan mereka jelas menggambarkan bahwa mereka tidak sensitif terhadap sikap masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Seperti dilansir Kementerian Luar Negeri Israel, dalam pertemuan dengan wartawan-wartawan senior Indonesia hari Senin (28/3), PM Benjamin Netanyahu menyatakan Israel akan memulai babak baru dalam hubungannya dengan Indonesia.

Pemimpin Redaksi Tempo Arief Zulkifli mengatakan berdasarkan informasi yang diterimanya, agenda undangan tersebut adalah untuk mendalami lebih lanjut tentang budaya, masyarakat dan politik Israel. Ditegaskannya bahwa tidak ada kaitan antara dukungan pemerintah dan masyarakat Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, dengan memenuhi undangan pemerintah Israel.

Arief Zulkifli mengatakan sikap Tempo adalah sangat mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam tindakan kekerasan Israel terhadap warga Palestina.

Arief menjelaskan, "Kalau ada wartawan pergi ke Israel atas undangan pemerintah Israel, LSM Israel, itu tidak berarti mengurangi dukungan kita terhadap kemerdekaan Palestina. Saya kira itu yang penting dicatat. Wartawan adalah sebuah profesi yang harus terbuka kepada semua pihak yang terlibat dalam sebuah konflik."

Hari Senin (28/3) Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertemu dengan wartawan-wartawan senior Indonesia yang datang ke Israel atas undangan dan inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Israel. [fw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG