Tautan-tautan Akses

AS

Kunjungan Pertama ke Asia Tanpa Media, Menlu AS Tuai Kecaman

  • Cindy Saine

Menlu AS Rex Tillerson, di kantor Deplu AS, Washington DC, 10 Maret 2017. (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Menlu AS Rex Tillerson, di kantor Deplu AS, Washington DC, 10 Maret 2017. (AP Photo/J. Scott Applewhite)

Menteri Luar Negeri Rex Tillerson melakukan perjalanan pertamanya ke Asia pekan ini dengan agenda utama provokasi Korea Utara. Berbeda dengan tradisi selama ini, tidak akan ada wartawan AS yang ikut dalam penerbangan Tillerson.

Sejumlah wartawan veteran dan analis kebijakan luar negeri menyuarakan kemarahan mereka sementara pengamat diplomatik lainnya menyatakan keprihatinan bahwa Tillerson secara umum menghindari sorotan dan perhatian publik selama bulan pertama menjabat.

Rex Tillerson mendapat sambutan baik dari media pada hari pertama bekerja sebagai menteri luar negeri 2 Februari lalu.

"Hai, saya pejabat yang baru," kata Menlu AS, Rex Tillerson.

Tapi sejak itu, dia terus menerus mengabaikan pertanyaan wartawan.

Keputusannya untuk tidak membawa media dalam perjalanan besar pertama ke Asia pada saat uji coba misil Korea Utara menjadi berita besar, telah menimbulkan banyak pertanyaan.

Mantan Duta Besar Amerika Laura Kennedy mengatakan, "Yah, saya tidak bisa memberitahu secara rinci setiap perjalanan yang telah dilakukan menteri luar negeri selama bertahun-tahun, tapi dalam hampir 40 tahun saya di Departemen Luar Negeri, menteri luar negeri menghargai pers, sehingga dia ingin bersama mereka untuk berbagai alasan. "

Menurut Kennedy, tidak adanya akses media itu sangat disayangkan mengingat China merupakan salah satu negara yang dikunjungi.

"Saya pikir itu adalah kesempatan khusus ketika Anda mengunjungi negara seperti China yang tidak memiliki kebebasan pers. Ketika Anda sendiri tidak membawa pers yang bebas dan sangat kuat bersama dengan Anda, saya pikir itu jelas akan mengirimkan sinyal buruk dalam hal mempromosikan nilai-nilai kebebasan pers yang merupakan nilai pokok Amerika Serikat," kata Laura Kennedy, mantan Dubes AS.

Penjabat Juru Bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner ditanya tentang isyarat itu, Senin (13/3). "Ini bukan pesan yang ingin kita kirim," jawabnya.

Toner menunjukkan bahwa Tillerson memberi kesempatan kepada media di salah satu dari tiga persinggahan di Jepang. Beberapa media AS, termasuk VOA, mengirim wartawan dengan penerbangan komersial untuk meliput perjalanan itu dan juga menugaskan wartawan yang berbasis di Asia, karena hampir tidak mungkin bagi seorang reporter untuk terus mengikuti menteri luar negeri atau presiden yang terbang dengan pesawatnya sendiri.

Pada hari Jumat, juru bicara Gedung Putih Sean Spicer mengatakan Tillerson sedang menghemat biaya dengan menggunakan pesawat kecil, tanpa ruang untuk membawa wartawan.

"Tidak, kami tidak terlibat dalam logistik untuk perjalanan setiap anggota kabinet. Tapi saya tahu bahwa mereka, mereka telah menyadari kekhawatiran dari beberapa rekan-rekan Anda dan mereka sedang membuat penyesuaian untuk masa depan sehubungan dengan ukuran pesawat," kata Sean Spicer.

Organisasi media sebenarnya membayar kursi wartawan mereka di pesawat itu kepada Departemen Luar Negeri, Gedung Putih atau lembaga lain yang membawa mereka dalam perjalanan tersebut.

Sebelum bergabung dengan Departemen Luar Negeri, Rex Tillerson adalah CEO ExxonMobil selama 10 tahun dan menjalani seluruh kariernya dengan perusahaan itu. Steve Coll menulis untuk majalah New Yorker dan menulis sebuah buku tentang Exxon, Private Empire: ExxonMobil and American Power.

Coll mengatakan Tillerson juga menolak untuk berhubungan media saat dia berada di Exxon. Colls mengatakan Tillerson memiliki keterampilan berharga yang akan membantu dalam pekerjaannya. Tapi dia juga merasa aneh bahwa dalam peran barunya Tillerson menghindari media. Coll mengatakan menjadi wajah dan suara diplomasi AS merupakan bagian penting dari pekerjaannya sebagai menteri luar negeri, suara yang paling penting setelah presiden Amerika Serikat.

Toner menolak pendapat yang mengatakan Departemen Luar Negeri telah bungkam di bawah Tillerson, atau bahwa dia telah dipinggirkan dalam pemerintahan Trump. Ia mengatakan, "Menteri Tillerson sangat terlibat dengan Gedung Putih, sangat terlibat dengan presiden, sering berbicara dengannya, baru ke sana kemarin, saya yakin untuk suatu pertemuan. Dan saya dapat meyakinkan semua orang bahwa suara menteri, suara Departemen Luar Negeri, terdengar keras dan jelas dalam diskusi kebijakan di tingkat Dewan Keamanan Nasional. " [as/uh]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG