Tautan-tautan Akses

Kuburan Massal Ekspos Perdagangan Manusia yang Mengakar di Thailand


Polisi Thailand mengukur kuburan-kuburan dangkal di provinsi Songkhla, Thailand selatan (2/5). (AP/Sumeth Panpetch)

Polisi Thailand mengukur kuburan-kuburan dangkal di provinsi Songkhla, Thailand selatan (2/5). (AP/Sumeth Panpetch)

Polisi juga menemukan setidaknya satu lagi yang diduga merupakan kamp perdagangan manusia dekat perbatasan Malaysia, bersama dengan lima kuburan lagi.

Otoritas di Thailand telah mengumumkan penahanan empat pria yang diyakini terhubung dengan sebuah jaringan yang bertanggung jawab memperdagangkan manusia di seluruh negara dalam beberapa tahun terakhir.

Mereka mengatakan tahanan itu termasuk tiga warga negara Thailand, yang merupakan pejabat pemerintahan di distrik Sadao, sebuah daerah terpencil yang berbatasan dengan Malaysia, tempat polisi minggu lalu menemukan kuburan massal dengan 26 mayat di dalamnya. Seorang etnis Rohingya dari Myanmar juga ditahan.

Selain penahanan, para pejabat hari Selasa (5/5) mengatakan mereka menemukan setidaknya satu lagi yang diduga merupakan kamp perdagangan manusia dekat perbatasan Malaysia, bersama dengan lima kuburan lagi.

Di Washington, para pejabat AS menyerukan investigasi cepat dan kredibel terhadap kematian-kematian tersebut, sebagian besar diantaranya diyakini merupakan etnis Muslim Rohingya dari Myanmar. Dalam beberapa tahun terakhir, Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan di Myanmar, seringkali mengarungi perjalanan laut panjang untuk kabur. Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan Thailand tidak melakukan banyak upaya untuk menghentikan pedagang manusia yang menangkap dan menjadikan migran sebagai tebusan.

“Kamp-kamp ini faktanya dikelilingi oleh pejabat-pejabat lokal dan warga yang mengambil uang dari para pedagang dan pada tingkat yang lebih senior, katakanlah tingkat provinsi, para pejabat mengabaikannya,” ujar Phil Robertson, wakil direktur Human Rights Watch divisi Asia.

Sebagai respon dari maraknya korupsi, warga-warga sipil yang putus asa telah membentuk patroli militan untuk mengusir para pedagang dari desa-desa mereka, yang seringkali hanya beberapa kilometer dari pantai-pantai wisata.

Dengan izin pemerintah, pasukan-pasukan ini beberapa kali berhasil menyelamatkan kelompok-kelompok kecil dari sebagian besar migran Rohingya, namun pengalaman mereka menunjukkan tantangan besar melawan komplotan-komplotan yang sudah mengakar.

“Kita tidak dapat menghentikan perdagangan namun setidaknya memperlambat mereka. Ini tidak seperti masa lalu saat makelar dapat memindahkan 40-50 orang Rohingya sekaligus. Sekarang mereka memecahnya menjadi kelompok-kelompok lebih kecil, seperti 10-20 sekali waktu,” ujar pemimpin milisia Cherdchai Papattamayutanon.

“Hal ini mempersulit menangkap mereka.”

Korban-korban yang diselamatkan menceritakan bagaimana mereka menunggu lama di atas kapal-kapal di lepas pantai Thailand, karena para pedagang itu menunggu waktu ke darat untuk menghindari deteksi.

Pada sebuah tempat penampungan dekat tujuan wisata populer Phuket, seorang anak Rohingya berusia 11 tahun Nay Zomo Ding mengisahkan cerita yang sama.

“Saya menderita di kapal selama sebulan sebelum sampai di pegunungan. Di atas kapal, makelar memberi saya ikan dalam kaleng. Saya tidak bisa memakannya, rasanya ingin muntah. Saya melihat dua pria ditembak oleh para makelar. Saya melihat pria lain mati di atas kapal.”

Tahun lalu, pemerintah AS menurunkan Thailand ke tingkat terendah untuk upayanya memberantas perdagangan manusia. Namun temuan-temuan terbaru mengindikasikan bahwa masalahnya dapat lebih buruk dari yang ditakutkan pihak berwenang.

XS
SM
MD
LG