Tautan-tautan Akses

KTT APEC Berakhir, Demonstran Bentrok dengan Polisi


Para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi yang menghalangi mereka untuk pawai menuju lokasi pelaksanaan KTT APEC di Manila (18/11).

Para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi yang menghalangi mereka untuk pawai menuju lokasi pelaksanaan KTT APEC di Manila (18/11).

Polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa hari Kamis di Manila, di mana para pemimpin Asia-Pasifik mengakhiri KTT yang difokuskan pada isu-isu ekonomi, sengketa teritorial dan upaya global untuk memerangi terorisme.

Para demonstran sayap kiri itu berusaha mendobrak barikade polisi untuk mendapat akses lebih dekat ke tempat KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), yang dihadiri oleh para pemimpin dunia termasuk Presiden Amerika Barack Obama.

Renato Reyes, seorang demonstran dari Aliansi Patriotik Baru mengatakan, kelompok itu menolak proposal “neo-liberal” dalam pertemuan APEC itu untuk mencari berbagai cara guna menopang usaha kecil dan menengah.

“Kami sudah mengikuti resep itu selama dua dekade terakhir dan negara kami tetap terbelakang, lebih banyak orang menganggur, miskin, dan lapar. Jadi, resep ini tidak berhasil," kata Renato Reyes.

Tidak ada laporan apakah ada yang cedera dalam bentrokan itu, yang terjadi sekitar satu kilometer dari pusat konvensi di mana konferensi dua hari APEC berakhir hari Kamis.

Walaupun KTT APEC tahunan biasanya berhubungan terutama dengan isu-isu ekonomi, pertemuan tahun ini dibayangi oleh pembahasan tentang terorisme menyusul serangkaian serangan senjata dan bom di Paris pekan lalu.

Menurut draf pernyataan akhir, para pemimpin APEC sepakat untuk “mengutuk keras” semua aksi terorisme, yang menurut mereka “mengancam nilai-nilai fundamental yang mendukung negara-negara yang bebas dan terbuka.”

Presiden Filipina Benigno Aquino, yang menjadi tuan rumah KTT itu mengatakan dalam sidang hari Kamis bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan prioritas bagi kawasan Asia-Pasifik.

“Pertumbuhan yang menciptakan lapangan kerja, mengirim anak-anak ke sekolah, membuat orang mampu menghidupi diri sendiri, meningkatkan standar hidup, melindungi lingkungan, mendorong kreativitas dan inovasi, dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang,” katanya.

Masalah sengketa teritorial China dengan negara-negara tetangganya telah menjadi fokus utama lainnya dalam KTT itu. Presiden Amerika Barack Obama menggunakan pertemuan itu untuk memberikan dukungan yang luas bagi negara-negara yang memiliki klaim territorial yang tumpang tindih dengan China.

"Saya bisa mengumumkan bahwa kami meningkatkan bantuan keamanan maritim untuk Filipina ke tingkat tertinggi sejauh ini termasuk bantuan dua kapal baru. Kami membahas dampak kegiatan reklamasi lahan dan konstruksi yang dilakukan oleh China pada stabilitas regional. Kami menyepakati perlunya langkah-langkah berani untuk meredakan ketegangan, termasuk berjanji untuk menghentikan reklamasi dan konstruksi baru serta militerisasi wilayah yang disengketakan di Laut China Selatan,” kata Presiden Obama.

Gedung Putih mengumumkan paket bantuan baru hingga $259 juta selama dua tahun, termasuk $79 juta untuk Filipina, $40 juta untuk Vietnam, $21 juta untuk Indonesia dan $2,5 juta untuk Malaysia. [lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG