Tautan-tautan Akses

Krisis Politik, Ekonomi dan Keamanan Hantam Eropa di Tahun Baru


Logo Euro (Foto: videograb)

Logo Euro (Foto: videograb)

Eropa sedang dihantam bertubi-tubuh oleh berbagai krisis politik, ekonomi dan keamanan sehingga menimbulkan keraguan mengenai masa depan Uni Eropa dan hubungannya dengan Amerika Serikat.

Reporter VOA Jela de Franceschi mencoba mengamati lebih dekat kondisi komunitas Eropa-Atlantik, yang membentuk serikat politik-ekonomi 28 negara anggota Eropa dan aliansi pertahanan paling kuat di dunia, NATO.

Nilai-nilai yang sehaluan dan kepentingan yang tumpang tindih adalah fondasi kemitraan trans-Atlantik antara Amerika Serikat dan Eropa. Kedua pihak menghadapi serangkaian tantangan dan krisis yang sama di banyak bagian di dunia, dan keduanya merupakan pendukung demokrasi, masyarakat terbuka, HAM dan pasar bebas.

Namun banyak pengamat, termasuk Dubes Jerman untuk Amerika Serikat Peter Wittig, melihat Eropa sedang menghadapi banyak gejolak.

"Krisis utang Yunani, krisis pengungsi yang belum pernah terjadi sebelumnya, resiko keamanan yang meningkat, kebangkitan gerakan politik rakyat dan keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa telah mengguncang keras Eropa," kata Peter Wittig.

Krisis-krisis ini, menurut para pengamat, bisa mengendurkan ikatan, kalau bukan eksistensi, Uni Eropa.

"Saya bertaruh dalam dua hingga lima tahun mendatang, Eropa akan memiliki lebih banyak pengungsi, lebih banyak menghadapi aksi terorisme.Saya kira Eropa akan lebih sedikit melibatkan Amerika dan lebih merangkul Rusia.Ini tidak akan menciptakan hubungan Trans-Atlantik yang stabil, sehat dan bergairah," kata Jeffrey Gedmin, pengamat dari Institut Dialog Strategis Universitas Georgetown.

Eropa bergantung pada kepemimpinan dan perlindungan keamanan Amerika Serikat, namun menurut sejumlah pengamat, pemerintahan Washington yang baru tidak memberi jaminan itu.

"NATO dan komitmen Amerika melalui NATO terhadap keamanan Eropa dan Uni Eropa yang selama ini menjadi pilar penting sedang mengalami guncangan," jelas Stephen Szabo, analis dari Transatlantic Academy of the German Marshall Fund di AS.

Sementara itu, aneksasi Rusia terhadap Krimea pada 2014 telah mengembalikan politik kekuatan ke Eropa, kata mantan komandan NATO Laksamana James Stavidris, Dekan Fletcher School of International Diplomacy, Universitas Tufts.

"Kita tidak ingin atau tidak harus kembali ke era Perang Dingin, tapi kita harus menghadapi perilaku ilegal Rusia di manapun terjadinya," jelasnya.

Namun persoalan-persoalan yang dihadapi Eropa telah membangkitkan kembali semangat NATO. Negara-negara Eropa mengumumkan rencana mereka untuk membeli berbagai perangkat keamanan, mulai dari pesawat dan pesawat nirawak pemantau hingga sistem pertahanan udara dan kapal tempur.

"Untuk memastikan bahwa tidak ada komandan atau presiden Rusia yang beranggapan bahwa mereka memiliki peluang untuk menang dalam perang menawan NATO," kata Christopher Chives, pengamat dari Rand Corporation.

2017 merupakan tahun yang mungkin menentukan masa depan aliansi Trans-Atlantik, fondasi utama tata internasional liberal. [ab/lt]

XS
SM
MD
LG