Tautan-tautan Akses

Krisis Politik di Ukraina Semakin Tegang

  • Henry Rigwell

Presiden Ukraina Poroshenko

Presiden Ukraina Poroshenko

Krisis politik di Ukraina semakin tegang hari Senin (15/2), dengan pengunduran diri Wakil Jaksa Penuntut Umum, yang menuduh atasannya "menjalankan lembaga yang sudah mati dan tidak punya kebebasan dalam menjalankan tugasnya."

Pengunduran diri Deputi Jaksa Penuntut Umum Ukraina menyusul langkah serupa oleh Menteri Ekonomi, Aivaras Abromavicius awal bulan ini, yang menuduh orang-orang yang setia pada presiden Ukraina melakukan korupsi secara meluas.

Pembicaraan tentang nasib pemerintah itu bisa terjadi hari Selasa, ketika parlemen mengadakan debat tentang laporan kinerja pemerintah koalisi, yang mungkin berakhir dengan mosi tidak percaya. Pengamat Orysia Lutsevych dari Chatham House mengatakan, jika pemerintah jatuh, maka Ukraina akan mengalami kemunduran lebih jauh.

"Saya pikir tidak seorangpun dengan serius berminat mengadakan pemilu baru, karena kami akan mendapat parlemen yang sama. Hal itu hanya akan mengulur-ulur waktu dan memboroskan sumber daya dalam perekonomian yang sulit ini," kata Lutsevych.

Orysia Lutsevych menambahkan, dua tahun setelah protes jalanan yang menyebabkan penggulingan Presiden Viktor Yanukovych, reformasi Ukraina yang lamban telah membuat sekutu-sekutu Baratnya tidak sabar. Dana Moneter Internasional telah memperingatkan bahwa Ukraina menghadapi risiko kehilangan dana talangan sebesar $ 40 miliar.

Presiden Petro Poroshenko menyebut hal itu karena lambannya reformasi untuk menyelesaikan konflik yang terus berlanjut di timur melawan separatis pro–Rusia. Berbicara baru-baru ini pada Konferensi Keamanan di Munich, Poroshenko menggunakan kata-kata keras terhadap Rusia.

"Satu hal yang perlu dilakukan adalah, tarik pasukan Rusia dari wilayah Ukraina, di Donbas dan Krimea, kembalikan kekuasaan Ukraina di perbatasan Rusia. Bebaskan semua sandera dan tidak akan ada lagi ketegangandanperang di kawasan ini," kata Poroshenko.

Rusia mengklaim pihaknya mematuhi Perjanjian Minsk tahun lalu, yang mensyaratkan demiliterisasi dan sebagai imbalannya Ukraina akan memberi otonomi yang lebih luas ke daerah-daerah yang dikuasai pemberontak pro-Rusia.

Para pemantau Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama Eropa memperingatkan, konflik itu kini telah mencapai tingkat terburuk dalam enam bulan. Pemilihan yang akan diadakan di timur sesuai perjanjian Minsk, kemungkinan akan ditunda beberapa bulan. [ps/ii]

XS
SM
MD
LG