Tautan-tautan Akses

Krisis Kemanusiaan Makin Parah di Afrika Tengah


Tentara Perancis melakukan patroli di distrik Boy-Rabe, Bangui utara (17/12).

Tentara Perancis melakukan patroli di distrik Boy-Rabe, Bangui utara (17/12).

Badan Urusan Pengungsi PBB mengerahkan tim-tim bantuan darurat tambahan ke Republik Afrika Tengah setelah lebih dari 200 ribu terpaksa mengungsi.

Badan PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) telah mengirim tim darurat tambahan ke Republik Afrika Tengah di mana kekerasan di ibukota Bangui telah memaksa lebih dari 200 ribu orang mengungsi dalam dua pekan terakhir.

Intervensi pasukan Perancis dan negara-negara Afrika telah berupaya meredam kerusuhan di negara itu. Republik Afrika Tengah terperosok dalam kekacauan bulan Maret lalu setelah sebagian besar gerilyawan Muslim – yang dikenal sebagai Seleka – menggulingkan Presiden Francois Bozize.

Penjarahan dan pembunuhan selama berulan-bulan telah memicu pembalasan oleh sekutu-sekutu Bozize dan milisi Kristen – yang dikenal sebagai anti-balaka.

Koresponden VOA di Bangui – Idrisse Fall – mengatakan ribuan orang dalam kondisi menyedihkan setelah mengungsi di bandara yang berada dibawah kontrol Perancis.

“Tidak ada kasur, makanan, air bersih, listrik. Tidak ada apapun. Tidak ada sanitasi, toilet. Ini sangat-sangat menyedihkan… Saya tidak bisa menggambarkan apa yang saya lihat di sana,” ujar Idrisse.

Idrisse Fall lebih lanjut mengatakan, “Di sini ada tentara Perancis. Kelompok anti-Balaka dan Seleka ada di sini, tetapi tidak banyak terjadi pertempuran. Namun jalan-jalan sepi”.

Organisasi-organisasi kemanusiaan mengatakan pertempuran baru-baru ini di Bangui dan di tempat-tempat lain menewaskan sedikitnya 600 orang.
XS
SM
MD
LG