Tautan-tautan Akses

Krisis AS Lebih Berdampak Terhadap Ekonomi Indonesia Dibanding Krisis Eropa

  • Iris Gera

Para pemimpin Eropa membahas krisis utang Eropa di Brussels, Belgia (foto: dok). Meski krisis Eropa berlangsung lebih lama, namun menurut pengamat, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia relatif kecil.

Para pemimpin Eropa membahas krisis utang Eropa di Brussels, Belgia (foto: dok). Meski krisis Eropa berlangsung lebih lama, namun menurut pengamat, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia relatif kecil.

Menurut pengamat ekonomi Kodrat Wibowo, seharusnya pemerintah tidak perlu terlampau panik dengan krisis Eropa, karena justru krisis Amerika jauh lebih berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.

Dalam pembukaan sidang kabinet di Jakarta, Jumat (2/12), Presiden Yudhoyono sempat menegaskan, krisis Eropa jauh lebih menyeramkan dibanding krisis keuangan Amerika Serikat tiga tahun lalu. Untuk itu pemerintah berencana merumuskan langkah antisipasi sebelum memasuki tahun 2012.

Namun, pengamat ekonomi dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Kodrat Wibowo kepada VoA di Jakarta Sabtu menilai, krisis keuangan Amerika lebih berdampak negatif terhadap ekonomi Indonesia karena Amerika merupakan negara raksasa yang menguasai ekonomi dunia. Peran ekonomi Eropa di Indonesia ditambahkannya hanya sedikit maka jika terjadi dampak negatif yang paling terpengaruh adalah sektor pasar saham karena sewaktu-waktu para investor bisa menarik kembali modal mereka.

“Krisis Eropa ya memang cukup beresiko untuk tidak kita antisipasi, tapi kalau saya lihat ini terkait dengan apa dulu, kalau terkait dengan perdagangan saya kira ini berlebihan, terkait dengan masalah isu politik ekonomi juga tidak terlalu kelihatan, kecuali kalau masalah kepentingan investasi itu memang betul sedikit saja hilang dari Eropa ya kita juga akan terasa,” jelas Kodrat Wibowo.

Kodrat Wibowo menambahkan, pengaruh krisis Eropa juga sangat terasa terhadap penerimaan negara melalui hibah meski diingatkannya hal itu tidak berpengaruh banyak terhadap kebutuhan rakyat.

Kodrat memaparkan, “Kita memang banyak menerima bantuan hibah dari negara-negara Eropa ya jelas itu akan berkurang jelas akan begitu terasa bagi pemerintah, akan terasa sekali oleh keuangan APBN kita, tapi bagi masyarakat kalau dana hibah itu hanya untuk hal-hal yang tidak menyentuh masyarakat kita kan tidak terasa.”

Sebelumnya Wakil Menteri Keuangan, Mahendara Siregar juga bependapat meski krisis di Eropa berjalan lambat dan lama dibanding krisis Amerika, Indonesia tetap harus waspada. Kementerian Keuangan ditambahkannya berencana menerapkan berbagai kebijakan tahun depan agar perekonomian Indonesia tetap terjaga.

“Cepat atau lambat maka pemerintah dan ekonomi suatu negara akan mengalami masalah, itu suatu pegangan yang jelas sekali dari pengalaman di negara-negara lain maupun dekat-dekat kawasan kita, apa yang harus dilakukan harus konsisten, kehati-hatian dan kesinambungan di tengah gelombang yang makin penuh dengan ketidakpastian di global ini harus kita upayakan sebagai prioritas yang tidak bisa ditawar karena hanya dengan itulah kita bisa mengamankan sasaran-sasaran pembangunan kita,” kata Mahendra Siregar.

Selanjutnya, Mahendra Siregar berpendapat, yang terpenting dilakukan pemerintah adalah membuat iklim investasi kondusif sehingga para investor tetap percaya berinvestasi di Indonesia.

“Tetapi selama mekanisme kita untuk mencoba memperbaiki terus iklim usaha, kita coba meminimalisir dampak langsung kesulitan di beberapa pasar utama,” demikian penjelasan Mahendra.

Selain sudah memberlakukan pembebasan pajak untuk jangka waktu tertentu atau tax holiday yang diberikan kepada para investor dengan nilai investasi di atas Rp 1 triliun, pemerintah melalui kementerian keuangan juga akan menerapkan kebijakan- kebijakan lain untuk menarik investasi.

Selain itu, pemerintah pusat juga akan memperbaiki berbagai peraturan terkait investasi di daerah karena selama ini antara peraturan pemerintah pusat dan daerah dinilai tidak sinergi sehingga membingungkan para investor.

XS
SM
MD
LG