Tautan-tautan Akses

KPK Raih Penghargaan Ramon Magsaysay


Spanduk "Berani, Jujur, Hebat" di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta Selatan. (Foto: Dok)

Spanduk "Berani, Jujur, Hebat" di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta Selatan. (Foto: Dok)

KPK dianggap berhasil mengkampanyekan gerakan anti-korupsi, menuntut pelaku korupsi dan memulihkan aset negara.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat penghargaan kemanusiaan Ramon Magsaysay Awards dari Filipina yang sering disebut sebagai Hadiah Nobel versi Asia.

KPK menjadi salah satu penerima berkat keberhasilannya menuntut para pejabat pemerintahan yang korupsi, memulihkan lebih dari US$80 juta aset negara, dan melakukan reformasi pelayanan sipil serta pendidikan warga anti-korupsi.

Yayasan Ramon Magsaysay Awards di Manila mengumumkan Rabu (24/7) bahwa lembaga itu telah memilih tiga individu dan dua organisasi sebagai penerima penghargaan tahun ini, termasuk seorang dokter Filipina dan organisasi masyarakat madani di Nepal yang dibentuk dan dikelola oleh korban perdagangan manusia.

Penghargaan tersebut, mengambil nama presiden Filipina populer yang tewas pada 1957 dalam kecelakaan pesawat, diberikan kepada individu dan kelompok yang mengubah masyarakat mereka menjadi lebih baik.

Gubernur perempuan pertama dan satu-satunya di Afghanistan serta seorang pekerja kemanusiaan dari minoritas Kachin di Burma ada di antara para pemenang Ramon Magsaysay Awards tahun ini.

Habiba Sarabi, 57, dipilih karena membantu membangun pemerintahan lokal yang berfungsi dan mendorong pendidikan dan hak perempuan di provinsi Bamyan di Afghanistan, di tengah lingkungan yang penuh kekerasan dan kemiskinan serta diskriminasi, menurut yayasan tersebut.

Pendidikan publik dan rasio murid perempuan telah meningkat di provinsi tersebut, dan semakin banyak perempuan mengambil karir yang terlarang di bawah rezim Taliban pada 1996-2001.

Lahpai Seng Raw, seorang janda berusia 64 tahun, terpilih karena membantu merehabilitasi komunitas yang hancur di Burma akibat konflik-konflik etnis dan bersenjata. Bantuan darurat, perawatan kesehatan dan proyek sanitasi dari kelompok masyarakat madani yang ia bantu dirikan pada 1997 di tengah kekuasaan junta militer di Burma saat ini telah menjangkau 600.000 orang di seluruh negeri.

Penerima penghargaan lain, Ernesto Domingo, dokter berusia 76 tahun, telah mendedikasikan karirnya untuk mendorong adanya akses warga miskin terhadap pelayanan kesehatan, serta advokasinya yang penuh terobosan dan berhasil untuk vaksinasi hepatitis untuk bayi baru lahir yang telah menyelamatkan jutaan nyawa di Filipina, menurut yayasan tersebut.

Juga diberi penghargaan adalah Shakti Samuha atau Kelompok Daya dari Nepal, LSM pertama di dunia yang dibentuk dan dikelola oleh para korban perdagangan manusia. Para pendiri kelompok ini dikenal karena bekerja untuk membasmi perdagangan manusia dan mengubah hidup mereka untuk melayani penyintas lainnya. Kelompok ini telah mendirikan tempat penampungan untuk membantu para penyintas dan untuk perempuan dan anak-anak yang berisiko didagangkan.

Setiap pemenang akan mendapatkan sertifikat, medali dan hadiah uang masing-masing $50.000 (sekitar Rp 513 juta). (AP)
XS
SM
MD
LG