Tautan-tautan Akses

Komisi Penyiaran Indonesia Studi Banding Transisi Penyiaran Analog ke Digital


Iswandi Syahputra (kedua dari kanan) saat berkunjung ke kantor VOA di Washington DC bulan Maret 2013 (foto: dok).

Iswandi Syahputra (kedua dari kanan) saat berkunjung ke kantor VOA di Washington DC bulan Maret 2013 (foto: dok).

Wartawan VOA Vina Mubtadi berbincang dengan Iswandi Syahputra, Komisioner KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Pusat mengenai implikasi transisi dari penyiaran analog ke digital.

Salah satu isu yang paling penting dalam kepenyiaran di Indonesia adalah peralihan dari penyiaran analog ke digital yang akan segera dilakukan. Untuk mencapai hal tersebut Komisi Penyiaran Indonesia mempelajari beberapa model migrasi penyiaran dari negara-negara lain yang sudah melakukannya terlebih dulu, termasuk Amerika.

Berikut kutipan wawancara Vina Mubtadi (VOA) dengan Iswandi Syahputra.

VOA: Apa tujuan studi banding kali ini? Karena beberapa waktu lalu ada rekan dari KPI juga yang berkunjung ke Amerika. Apakah agendanya sama?

Iswandi: Kunjungan ini sudha terencana sejak 2-3 bulan lalu, setelah KPI melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR-RI dimana dalam salah satu keputusan rapat tersebut menugaskan atau memutuskan agar KPI membuat semacam blueprint tentang migrasi model penyiaran analog ke digital.
Ini sangat penting karena Indonesia ke depan tidak bisa tidak akan memasuki era penyiaran di mana semua teknis model penyiaran berbasis kepada digital dan ini sebuah revolusi tekonologi yang penting bagi kami sebagai stakeholders utama dalam proses penyiaran.
Kami melihat Amerika salah satu tempat yang paling tepat mengingat ada beberapa model penyiaran digital yang dapat kami acu. Hasilnya akan kami susun dalam sebuah blue print penyiaran digital yang mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat di Indonesia terutama untuk pengambil kebijakan seperti pemerintah dan DPR RI.

VOA: Apakah blue print ini akan menjadi semacam rekomendasi? Siapa yang akan mengesahkan atau memutuskan pada akhirnya?

Iswandi: Hasil dari kunjungan berupa blue print akan kami sampaikan ke DPR RI, untuk kemudian silahkan Komisi I DPR RI mempertimbangkan aspek-aspek yang cocok, relevan, penting untuk diusulkan dalam sebuah revisi UU Penyiaran yang sedang digodok Komisi I.

VOA: Apa yang publik perlu ketahui soal transisi ini?

Iswandi: Publik harus paham bahwa transisi ini takdir yang tidak bisa kita hindari. Ini sudah semacam teknologi wajib sifatnya. Peralihan ini simple sebanarnya tapi implikasinya tidak sederhana. Keuntungannya, secara visual kita mendapat kualitas gambar yang lebih bersih, secara audio kita akan mendengar suara yang lebih jernih. Tetapi di sisi lain, karena penggunaan tekonologi yang lebih baik melalui transisi dari analog ke digital, akibatnya akan tersedia slot siaran yang lebih banyak dan berimplikasi pada jumlah stasiun yang lebih banyak. Kalau hari ini kita hanya biasa dengan 10-14 stasiun TV, dengan siaran digital, memungkinkan sampai 72 stasiun TV. Ini kan bahaya kalau kita tidak mempersiapkan diri, akan berhadapan dengan rimba belantara penyiaran yang semakin ramai, tentu harus kita siapkan juga mental masyarakat.

VOA: Nanti pekerjaan rumah KPI pasti akan semakin berat untuk memantau semuanya?

Iswandi: Tentu. Kita memantau 10 stasiun TV selama 24 jam saja sudah sulit. Kru kami memakai sistem kerja shift yang berganti setiap 8 jam, itu saja sudah sangat kewalahan, apalagi kalau harus memantau 72 dengan berbagai ragam kontennya.

VOA: Nantinya apakah blue print ini akan tersedia bagi publik? Dimana mereka bisa membacanya?

Iswandi: Bisa. Kami akan publish di situs Komisi Penyiaran Indonesia, www.kpi.go.id
XS
SM
MD
LG