Tautan-tautan Akses

AS

KOWANI Unjuk Gigi di CSW PBB di New York


Delegasi KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) yang mengikuti Commission on the Status of Women (CSW) di markas PBB di New York (foto: courtesy).

Delegasi KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) yang mengikuti Commission on the Status of Women (CSW) di markas PBB di New York (foto: courtesy).

KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) beberapa waktu lalu berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Commission on the Status of Women (CSW) ke 60 di kantor pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa di kota New York.

Ini merupakan kesempatan kesempatan yang langka dan membanggakan bagi Kowani.

Kowani, yang didirikan pada tahun 1928 ini, sudah menjadi anggota aktif CSW PBB sejak tahun 1998. Ini merupakan prestasi tinggi bagi Kowani yang bertujuan untuk menggerakkan peran wanita Indonesia, tidak saja di dalam negeri tetapi juga di kancah internasional.

Di sela-sela kunjungannya ke Washington, DC, ketua umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo menyempatkan diri untuk diwawancara oleh Program Director, Naratama Rukmananda di studio kantor pusat VOA.

VOA: Bu Giwo, apakabar?

Baik. Alhamdulillah.

VOA: Jadi, lagi jalan ke New York nih? Ada apa di New York?

Iya, ke New York dan Washington, DC.

Di New York ada kegiatan CSW (Commission on the Status of Women) yang ke 60. Jadi, kebetulan Kowani hadir. Tahun 1998, Kowani menjadi anggota UN CSW. Pada tahun ini, kebetulan Kowani mendapat kesempatan untuk mengisi kegiatan side event dan Alhamdulillah kowani bisa mengisi kegiatan event tersebut. Sudah berpuluh-puluh tahun kami ingin mendapatkan side event tersebut.

VOA: Side event itu apa, bu?

Jadi side event itu diantara adanya kegiatan General Assembly, di mana ada kegiatan Government to Government. Side event ini adalah kalau kita mau memilih materi-materi atau topik yang diadakan oleh NGO. Kami mengisi side event ini dengan peran perempuan dalam usaha kecil menengah (ukm). Dimana sekarang ini, perempuan mengambil peranan penting sebagai pelaku ekonomi. Lebih dari 60 persen yang melakukan usaha kecil menengah. Jadi pelaku ekonomi UMKM adalah perempuan. Laki-laki hanya 40 persen.

VOA: Mereka terlibat di tenaga kerja bidang apa saja?

Dari kuliner, industri kreatif, kecantikan, ada produk-produk makeup, jamu, dan lain-lain. Nah maka dari itu, kami dalam saat event tersebut yang hanya dapat slotnya ini satu, dari jam 3 sampai jam 4:15. Jadi satu jam 15 menit. Yang dihadiri, yang rencananya tuh target kapasitas ruangannya hanya 100 orang lebih. Tapi ternyata ngebludak. Banyak peserta dari negara-negara lain itu ikut serta sampai 150 lebih di absennya. Jadi ada dari Uganda, banyak dari Afrika, kemudian dari Eropa sendiri, Australia, dari Turki, yang pesertanya ini memang banyak juga dari negara berkembang.

Karena topiknya peran perempuan dalam usaha kecil menengah, yang sebagai pembicaranya itu adalah dari Indonesia, saya kebetulan jadi ketua umum Kowani. Kemudian ada dari Indonesia juga sebagai pengusaha perempuan di bidang kosmetik itu adalah Ibu Putri dari Mustika Ratu yang mengenai tentang dari lokal ke global. Jadi dari industri rumah menjadi global market yang sampai diekspor ke beberapa negara. Kemudian dari UN Women sendiri, director untuk ekonomi itu McJohns dan dari ICW -- International Council of Women -- tentang peran perempuan di negaranya dari Asia.

VOA: Jadi bisa dianggap misi ke UN (PBB) ini berhasil?

Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Ketua umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo pada acara di PBB (foto: courtesy).

Ketua umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo pada acara di PBB (foto: courtesy).

VOA: Kesan mereka tentang Indonesia?

Mereka senang sekali, bukan hanya mereka mendapatkan informasi saja, tetapi mereka akan keep in touch. Jadi ada lanjutan dari pertemuan ini, yang selanjutnya kita bisa, kami kebetulan banyak diundang pada waktu side event itu ada ke India, kemudian ke Turki, untuk kita membagi informasi kepada mereka. Karena kebetulan Kowani ini menjadi anggota dari International Council of Women. Jadi International Council of Women itu Kowani-nya dunia yang dianggotakan oleh 89 organisasi seperti Kowani-nya dari seluruh Indonesia. Didirikan tahun 1888.

VOA: Lebih tua dari Kowani ya?

Iya, kalau Kowani 1928. Organisasi yang terbesar dan tertua yang dimana kita membawakan misi perjuangan. Jaman dulu kan 1928 perjuangan melawan Belanda, nah kalau sekarang perjuangan melawan apa? Melawan kemiskinan, melawan keterpurukan perempuan, begitu. Jadi karena Kowani menjadi anggota dari ICW, jadi pesertanya juga banyak dari International Council of Women dimana mereka juga menjadi anggota dari UN, dari Consultative Status of the ECOSOC.

VOA: Peran Kowani di era media sosial/digital?

Pada intinya adalah kita menjalin persatuan dan kesatuan, dari seluruhnya. Kalau dulu melawan penjajah. Kalau sekarang adalah melawan untuk kemiskinan, kemudian pendidikan, dimana perempuan masih banyak yang terpuruk. Walaupun di Indonesia kita sudah punya presiden perempuan, di Amerika sendiri belum, ya? Baru nanti, ya semoga saja. Kalau Ibu Hillary menang, kita juga udah lebih dulu ya punya presiden perempuan. Nah jadi kembali lagi bahwa visi dan misi Kowani adalah dalam satu perjuangan wadah perempuan untuk persatuan dan kesatuan.

Bagaimana kalau perempuan tidak bersatu? Bagaimana kita mau maju? Nah maka dari itu di dalam kegiatan UN Women kemarin, kita merangkul perempuan-perempuan dari seluruh dunia, begitu. Speakernya kan juga dari seluruh dunia. Bahwa kita masih bersama-sama melakukan perjuangan dengan kekuatan kita perempuan untuk kita bisa maju bersama-sama dengan pria. Maka dari itu adalah gender equality, equal, economy, better economy. Better equality equal better economy. Di mana kalau kita ada kesetaraan gender tentunya perkembangan ekonomi menjadi baik.

Nah, di mana ada suatu kemajuan dari perkembangan di suatu negara. Kalau memperhatikan perempuan, perkembangan di negara tersebut juga sangat cepat. Tergantung dari bagaimana negara tersebut menyikapi kepada perempuan. Jadi kembali lagi bahwa kita ini adalah berjuang untuk melawan kemiskinan. Kemudian kan memang ada tiga isu: kemiskinan, ekonomi, pendidikan. Dimana di beberapa daerah, seperti di Manado, pendidikan diantara perempuan dan laki-laki sudah ada kesetaraan. Mungkin perempuan lebih tinggi pendidikannya, jenjang pendidikan sampai level S3 lebih tinggi daripada laki-laki. Tetapi, di negara kita, di daerah sampe rural dan remote area, daerah tertinggal, daerah terpencil, itu perempuannya masih banyak sekali hambatannya untuk maju. Karena faktor budaya, faktor pendidikan. Faktor budaya yang mempengaruhi pendidikan tersebut sampai tidak bisa lebih tinggi lagi.

VOA: Tantangan terberat?

Tantangan yang paling berat adalah faktor budaya. Karena memang di Indonesia ini kan negara kepulauan, negara kepulauan dari masing-masing culture, masing-masing kepulauan itu kan berbeda-beda, ya. Seperti misalnya di daerah wilayah timur, itu perempuan masih sebagai obyek yang sebenarnya harus sebagai pelaku. Terutama di daerah-daerah dari tokoh agama, dari tokoh masyarakat yang masih menjadikan isu perempuan itu stigma negatif. Seperti kalau perempuan itu harus ke dapur, sumur dan kasur. Kalau perempuan tidak ke dapur, sumur dan kasur, laki akan kabur. Nah, itu masih menjadi suatu isu yang sangat jahat. Jadi menjadi suatu stigma negatif. Nah hal itu yang harus kita perjuangkan. Apa yang Kowani perjuangkan? Dengan melakukan pelatihan-pelatihan, memberikan motivasi, meningkatkan motivasi mereka dari yang tidak mampu menjadi mampu. Nah jadi kita punya pendidikan achievement motivation training dimana perempuan yang kurang percaya diri, memang hambatannya memang kurang percaya diri, itu kita buat pelatihan. Tapi memang kemaren ada hasilnya, Kowani membuat suatu kegiatan tersebut, lebih tinggi yang tidak mau meningkatkan motivasi diri daripada yang mau meningkatkan. Jadi masih ada 60% kepercayaan dirinya. Kemudian dengan kita membuat achievement motivation training, kita membuat suatu pelatihan juga kewirausahaan dimana kita tidak mempunyai usaha menjadi mempunyai usaha. Usaha kecil menjadi usaha menengah. Usaha menengah menjadi usaha lebih besar lagi. Kemudian membuat suatu kegiatan pelatihan membuat proposal, bagaimana cara mendapatkan soft loan dari pihak perbankan. Kemudian setelah itu diwadahi oleh kegiatan Kowani Fair. Kita buat kegiatan tersebut dari tahun 2000 sampai 2015, jadi sudah 15 tahun. Nah, ternyata waktu kita menyampaikan kiat-kiat untuk menghadapi hambatan atau permasalahan, mereka senang sekali, tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan. Seperti mewadahi akhirnya dimana ada kegiatan Kowani Fair untuk mempertemukan antara pembeli, produsen, dan penjual. Itu sangat menarik sekali bagi peserta untuk bisa sharing dan kita diminta ke negaranya walaupun sama-sama negara berkembang, India, kita diminta untuk sharing dalam waktu, dalam waktu ini juga kita diundang, begitu.

VOA: Memandang Indonesia sebagai ibu bangsa?

Konsep ibu bangsa hasil dari konferensi Kowani yang ketiga tahun 1935. Dimana konsep ibu bangsa adalah seorang ibu yang wajib menyiapkan generasi penerusnya untuk menjadi generasi penerus yang handal, yang bermoral, yang berkualitas, yang memperjuangkan negara dengan segala potensi yang ada. Kalau jaman dulu kan, sampai nyawa semuanya diperjuangkan demi kemerdekaan. Kalau ibu bangsa ini, kita sebagai seorang ibu jangan sampai melupakan kodrati. Yang namanya kodrati apa? Bukan kita sebagai pembantu rumah tangga, tetapi adalah yang pertama mensturasi, kemudian hamil, melahirkan dan menyusui. Nah tetapi kita sebagai ibu bangsa bukan hanya menjalankan kodrati saja. Tapi bisa menyiapkan anak-anak generasi penerus untuk sekarang menghadapi era yang sangat global. Mampu berkompetisi, yang handal di dalam global ini. Yang penting adalah moralitasnya. Bagaimana menghadapi isu-isu negatif. Seorang ibu wajib mendampingi sampai anak ini menjadi anak yang berkualitas dan bermoral. Jadi dari jaman dulu nih, Kowani mempunyai konsep tersebut yang sekarang kan kita harus wajib ikut bela negara. Dan ada pengaruh2 negatif itu sebenernya dari jaman dahulu kala, sebelum merdeka.

VOA: Tips untuk wanita Indonesia di era kemajuan digital?

Wanita harus bangkit dan harus percaya diri, harus mau, mampu, dan mengetahui apa yang sekarang sedang berkembang di era digital ini. Kemudian kita harus mandiri dan bisa mensupport suami, kalau perempuan yang sudah menikah, mensupport suami bahwa kita juga bisa mensupport dalam hal ekonomi, mendukung ekonomi. Jadi bukannya income dari single income saja, tapi double income. Apa yang bisa kita kerjakan? Misalnya dalam marketing online, seperti McJohns dari UN Women sedang dikembangkan. Dan kepada pria juga, karena presiden juga sudah menyetujui dengan adanya kampanye pada UN Women yang lalu pada tahun 2014 tanggal 20 September yang launching He for She, yang Presiden Barack Obama, kemudian Ban Ki Moon, dari tokoh-tokoh dunia, bahwa pria-pria ini ada 100 ribu pria dalam 3 hari sudah mensupport dan mendukung dan kampanye untuk He for She Planet 50/50. Jadi kita, Mas Nara juga harus mendukung bahwa ada kesetaraan gender antara perempuan dan laki di mana better equality adalah better economy.

XS
SM
MD
LG