Tautan-tautan Akses

Korea Utara Tersinggung Pemimpinnya Dijadikan Lelucon


Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertepuk tangan dalam sesi foto dengan tentara.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertepuk tangan dalam sesi foto dengan tentara.

Korea Utara telah mengecam lelucon-lelucon yang ditujukan pada pemimpin mereka, Kim Jong Un.

Di Amerika Serikat, mengolok-olok pemimpin politik merupakan hal biasa yang dinikmati sebagian besar rakyat Amerika. Bahkan para target olok-olok itu bisa menertawakan atau mengabaikannya.

Di Korea Utara, mengejek Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un dianggap sebagai ancaman eksistensial.

Sebagai contoh, pada April, para pejabat Korea Utara mampir di sebuah tempat pangkas rambut di London, yang mengejek gaya rambut Kim Jong Un dalam poster promosinya. Poster itu menunjukkan gaya rambut khas Kim dan tulisan "rambut sedang jelek hari ini?".

Pada awal bulan ini, Duta Besar Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ja Song Nam, mengajukan keluhan formal, mendesak badan itu untuk memaksa Amerika Serikat menghentikan peluncuran film “The Interview.”

Film komedi tersebut, yang dibintangi Seth Rogen dan James Franco, mengisahkan upaya pembunuhan Kim dan mencela penguasa Korea Utara tersebut.

Dalam surat itu, dubes Korea Utara menyatakan bahwa "mengizinkan produksi dan distribusi film seperti itu mengenai pembunuhan Kepala sebuah Negara yang berdaulat seharusnya dianggap sebagai dukungan paling tersembunyi terhadap terorisme dan aksi perang."

Minggu ini, Korea Utara meminta China untuk menghentikan video yang mengejek Kim. Menurut surat kabar Chosun Ilbo, Korea Utara mengatakan video tersebut, yang menunjukkan Kim dalam beragam situasi yang konyol, termasuk ditinju sampai jatuh oleh Presiden AS Barack Obama, "secara serius mengancam harga diri dan otoritas Kim."

Meski tanggapan pemerintah Korea Utara terhadap cemoohan kepada Kim terlihat ekstrem bagi banyak pihak, hal itu tidak mengejutkan bagi para pengamat negara tersebut.

"Ini budaya politik yang tidak dapat menerima 'olok-olok' terhadap para pemimpin atau negara mereka," menurut Katharine H.S. Moon, ketua Yayasan SK-Korea di Institut Ilmu Korea di lembaga pemikiran Brookings Institution di Washington, DC.

"Meski kita bisa melihatnya sebagai humor yang pintar dan menghibur, dan tidak bermaslaah menertawakan dan sama-sama tertawa dengan para pemimpin politik -- Korea Utara menganggap Kim sebagai dewa. Jadi bagi mereka, hal itu merupakan penghinaan."

Moon mengatakan Korea Utara merasa wajib bereaksi terhadap insiden-insiden itu untuk menyelamatkan muka mereka.

"Diam saja berarti pengecut dan kalah -- bahwa 'melanggar' kesakralan keluarga Kim dan kepemimpinan Korea Utara tidak apa-apa," ujarnya. "Hal itu bukan pilihan bagi mereka."

Moon mengatakan tidak yakin "The Interview” bisa memicu upaya pembunuhan terhadap Kim, seperti yang dituduhkan Korea Utara.

"Ia sangat dijaga ketat," ujarnya. "Namun keprihatinan yang lebih praktis adalah terlukanya posisi dan legitimasi Kim. Kemudaannya, kurangnya pengalamannya, kurangnya kontak-kontak yang aman dan persahabatan dengan pemimpin asing membuatnya ada dalam posisi genting. Ia harus mendapat penghormatan dan kepercayaan dari tokoh militer yang lebih senior dan para pemimpin Partai Pekerja Korea."

Video China memberikan gangguan baru karena datang dari negara yang tadinya bersahabat.

Menurut Moon, "Kim dan kelompok kecil dalam kepemimpinannya tahu bahwa China memandang rendah dirinya dan negaranya dan lelah menghadapi sikapnya yang liar," sementara pada saat yang sama Korea Utara "tidak melihat dirinya sebagai klien China -- jadi bahkan jika mereka mendapatkan manfaat ekonomi dan politik dari kekuasaan China, mereka tidak pernah bertindak tunduk atau patuh terhadap Beijing."

"China telah membiarkan sikap anti-Kim dan anti-Korea utara berkeliaran bebas di dunia maya dan sedikit di media cetak," ujarnya.

"Korea Utara baru-baru ini mengecam China secara publik, sebagian karena embargo minyak tidak resmi dan sebagian lagi karena mengesampingkan mereka dan akrab dengan Presiden Korea Selatan Park Geun-hye.”

Ia menambahkan bahwa Korea Utara juga baru-baru ini merazia penggunaan mata uang yuan di Korea Utara.

"Ada ketidakpercayaan dan rasa frustrasi, jika bukannya permusuhan, dari kedua belah pihak," ujarnya.

Alasan lain kecaman dari Korea Utara mungkin merupakan ekspresi tidak percaya diri dari Kim.

"Kim Jong Il juga mendapat banyak olok-olok, mulai dari rambutnya, sepatu, film, perempuan dan berat badannya. Namun ia adalah keturunan langsung dari 'Pemimpin Agung' dan ia memiliki pengalaman puluhan tahun dan dukungan politik besar. Kim Jong Un tidak memiliki rasa humor dan nyaman," ujarnya.

Berikut adalah video dari China:

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG