Tautan-tautan Akses

Korea Utara Anggap Satirisme Coreng Martabat Pemimpin Negara

  • Brian Padden

Spanduk Film "The Interview" dipasang di Bisokop Arclight di Hollywood, California (17/12).

Spanduk Film "The Interview" dipasang di Bisokop Arclight di Hollywood, California (17/12).

Kim Yong-hyun, profesor studi Korea Utara di Universitas Dongguk, mengatakan Pyongyang sangat protektif akan citra pemimpinnya.

Sebuah film komedi Hollywood tentang rencana AS untuk membunuh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah menarik perhatian besar setelah peretasan terhadap perusahaan Sony Pictures Entertainment. Pemutaran perdananya juga nyaris dibatalkan setelah adanya ancaman serangan teroris.

Di Korea Utara, Kim Jong Un, seperti juga ayah dan kakeknya, digambarkan sebagai sosok yang sempurna. Media milik pemerintah dengan gembira melaporkan bahwa dia memenangkan pemilu tahun lalu dengan 100 persen suara. Tentu saja, kandidatnya hanya dia seorang.

Jadi tidak heran kalau Korea Utara marah dengan adanya The Interview, film komedi yang mengolok-olok pemimpin itu sebelum menggambarkan pembunuhannya. Kementerian luar negeri menyebut film itu tindakan perang dan berjanji akan membalas dendam.

Kim Yong-hyun, profesor studi Korea Utara di Universitas Dongguk, mengatakan Pyongyang sangat protektif akan citra pemimpinnya.
“Korea Utara menanggapi satir dengan sangat sensitif dan ada beberapa kasus di masa lalu dimana mereka mengeluhkan satirisme mencoreng martabat pemimpin mereka,” katanya.

Korea Utara memprotes film Team America: World Police yang menggambarkan Kim Jong Il secara komik ketika film itu dirilis satu dasawarsa lalu. Tetapi negara itu tidak pernah mengambil aksi provokatif untuk meresponnya.

Itu mungkin telah berubah dengan serangan dunia maya terhadap Sony. Pyongyang membantah segala keterlibatan, tetapi para peretas yang membocorkan informasi rahasia perusahaan itu telah mengancam untuk membocorkan lebih banyak lagi kalau studio tersebut tidak membatalkan perilisan The Interview.

Pengamat Korea Victor Cha dari Pusat bagi Strategi dan Studi Internasional mengatakan tidak munculnya Kim Jong Un selama beberapa minggu pada awal tahun dan eksekusi pamannya mengindikasikan pemimpin muda itu mungkin kesulitan untuk mempertahankan kekuasannya.

“Transisi kepemimpinan kini sudah berlangsung tiga tahun. Kita masih belum tahu apakah sudah benar-benar tuntas. Masih ada penggulingan di dalam negeri, yang mengisyaratkan bahwa ada beberapa pergolakan di dalam sistem itu,” jelas ​Victor Cha​.

Cha mengatakan menyindir citra Kim Jong Un yang tertata baik dapat merongrong rezim dengan cara yang tidak dapat dilakukan saksi-saksi ataupun tindakan yang bermusuhan.

“Mereka bisa dengan mudah mengumpulkan orang untuk memprotes sikap permusuhan Barat, tetapi mereka sulit mengajak orang untuk memprotes sindiran Barat karena itu akan menimbulkan pertanyaan mengenai kepemimpinan mereka,” lanjutnya.

Keributan soal film komedi ini menambah ketegangan di kawasan sementara perundingan internasional untuk mengekang program nuklir Korea Utara tetap buntu, dan PBB terus menekan rezim itu mengenai pelanggaran HAM.

XS
SM
MD
LG