Tautan-tautan Akses

Obat Diabetes Diduga Tingkatkan Resiko Serangan Jantung


Efek samping Avandia menjadi kontroversi di AS. Para pakar Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS akan bersidang bulan Juli membahas obat ini.

Efek samping Avandia menjadi kontroversi di AS. Para pakar Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS akan bersidang bulan Juli membahas obat ini.

Negara bagian California menggugat GlaxoSmithKline, perusahaan pembuat Avandia, obat diabetes yang kontroversial. Gugatan itu dipicu oleh laporan Senat Amerika tentang obat itu. Laporan tersebut menuduh perusahaan itu menahan informasi tentang dampak sampingan Avandia yang katanya bisa menyebabkan gangguan jantung dan kematian. Persoalannya, apakah Avandia harus ditarik dari peredaran ?

Laporan Senat mengenai obat diabetes Avandia mengatakan baik GlaxoSmithKline maupun Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika sejak awal harusnya memperingatkan konsumen tentang dampak samping obat itu, bukannya sekarang. Laporan tersebut merekomendasikan supaya Avandia ditarik dari peredaran.

Pada tahun 2007, Dr. Steven Nissen menerbitkan hasil riset yang menunjukkan Avandia meningkatkan resiko serangan jantung sebesar 43 persen dan pengguna Avandia menghadapi resiko kematian 64 persen lebih besar dibanding yang tidak menggunakan obat itu. Katanya, "Kami sudah memperingatkan dampak samping itu sejak dua setengah tahun yang lalu. Tidak ada alasan bagi para dokter untuk terus meresepkan obat tersebut. Sudah waktunya obat itu ditarik."

Namun para dokter terus meresepkan Avandia kepada ratusan ribu pasien di seluruh dunia. Dr. Yasser Ousman dari Rumah Sakit Umum Pusat Washington meresepkan obat itu bagi sejumlah pasien berpotensi diabetes dan bagi penderita diabetes tahap awal. Menurutnya, “Ada sejumlah obat yang diuji kepada para pasien, termasuk Avandia. Faktanya, Avandia cukup efektif dalam mempertahankan kadar gula darah, menormalkannya dan memperlambat para pasien terkena diabetes.“

Namun Dr. Nissen kembali memperingatkan dampak samping Avandia."Yang paling menganggu saya adalah setiap bulannya semakin banyak orang menderita akibat obat yang tidak diperlukan itu."

Laporan Dr. Nissen berdasarkan hasil 42 ujicoba klinis yang menunjukkan adanya kaitan antara Avandia dengan gangguan jantung. Namun Dr. Yasser Ousman mengatakan, " Jika kita menyimak informasi dan statistik dari riset awal Dr. Nissen pada tahun 2007, resiko gangguan jantung dalam riset itu sebenarnya kecil."

Dr. Ousman lebih lanjut menjelaskan banyak obat bebas seperti aspirin, ibuprofen, acetaminophen atau paracetamol bisa menjadi racun jika digunakan secara sembarangan. "Ada sejumlah riset yang melibatkan responden yang lebih besar yang diterbitkan beberapa tahun lalu, termasuk riset yang membandingkan dampak penggunaan Avandia dengan plasebo atau obat lain. Hasil-hasil riset itu menunjukkan tidak ada peningkatan resiko. Resiko yang dikatakan Dr. Nissen berasal dari riset dengan jumlah responden yang lebih kecil," katanya.

Studi tentang penggunaan Avandia yang dibiayai GlaxoSmithKline dan diterbitkan tahun lalu tidak menemukan ada kenaikan resiko serangan jantung pada pengguna obat itu. Namun studi tersebut menemukan adanya kenaikan resiko gagal jantung pada pengguna Avandia karena jantung tidak cukup mengalirkan cukup darah ke organ-organ tubuh atau otot. Dalam sejumlah kasus, pasien harus dirawat atau meninggal dunia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika mengatakan akan mengkaji kaitan Avandia dengan gangguan jantung. Panel ahli badan ini dijadwalkan akan bertemu pada bulan Juli. Badan tersebut memperingatkan pengguna Avandia supaya tidak menghentikan obat ini kecuali atas perintah dokter.

XS
SM
MD
LG