Tautan-tautan Akses

Kontroversi Kebijakan Garis Keras Austalia Terhadap Pencari Suaka


Aktivis pembela pengungsi berunjuk rasa di luar kantor Menteri Imigrasi Australia. Peter Dutton. Brisbane, Australia.

Aktivis pembela pengungsi berunjuk rasa di luar kantor Menteri Imigrasi Australia. Peter Dutton. Brisbane, Australia.

Sebuah film dokumenter menyoroti kebijakan garis keras Australia terhadap para pencari suaka. Eva Orner, sutradara pemenang Oscar berkisah tentang rasa frustrasi dan tragedi tahanan di kamp-kamp Australia.

Film "Chasing Asylum" menyusup dunia rahasia kamp-kamp tahanan Australia di Pulau Manus di Papua Nugini dan negara pulau kecil Nauru di Pasifik Selatan.

Pada pertengahan film dokumenter itu terlihat gambar yang belum pernah dilihat sebelumnya, gambar yang secara rahasia direkam di kamp-kamp lepas pantai. Para tahanan menjelaskan di depan kamera, mengapa mereka mencari suaka dan merincikan rasa keputusasaan mereka yang tak ada habisnya karena ditahan.

Media dilarang mengunjungi kamp-kamp, tapi Eva Orner, seorang pembuat film Australia yang berkantor di Los Angeles mengatakan, dia bertekad menemukan cara, guna mengungkap kebenaran tentang fasilitas penahanan itu.

"Telah dikatakan bahwa kita melakukan penyiksaan, melanggar semua kewajiban kita di bawah Konvensi Pengungsi dan itu terus dilakukan. Saya pikir, bagian dari alasannya adalah karena kebijakan ini dirahasiakan, bahwa pemerintah Australia telah menjalankan kamp ini selama lima belas tahun terakhir. Tidak ada wartawan, tidak ada kamera, tidak ada pembuat film yang diperbolehkan masuk dan saya pikir itulah sebagian alasan Australia begitu nyaman dengan pelanggaran ini karena tidak ada yang melihatnya," UJAR Eva Orner.

Orner, putri imigran Yahudi dari Polandia berharap, filmnya akan mendorong orang Australia untuk menuntut kebijakan lepas pantai itu dihapus.

Dia menjelaskan membuat film 'Chasing Asylum' merupakan proyek paling sulit dalam hidupnya, tetapi mengatakan penting untuk diketahui dunia, bagaimana Australia memperlakukan para tahanannya di kamp-kamp lepas pantai.

"Kamp-kamp itu mengerikan. Orang hidup sengsara di tenda-tenda berjamur. Kami adalah satu-satunya negara di dunia yang menahan anak-anak tanpa batas baktu. Wanita, pria, anak-anak ditahan di sana. Perempuan dan anak-anak mengalami pelecehan seksual. Dua orang tewas, sebenarnya tiga orang yang tewas, seorang laki-laki lain membakar diri di Nauru minggu ini dan meninggal."

Para pejabat Australia membela kamp-kamp itu, bersikeras kamp itu menyelamatkan nyawa karena menangkal dan mencegah pencari suaka mengharungi laut membahayakan nyawa mereka dalam upaya mencapai Australia.

Bulan lalu, kamp di Pulau Manus dinyatakan tidak konstitusional dan ilegal oleh Mahkamah Agung Papua Nugini, dan akan ditutup, menurut perdana menteri negara itu, Peter O'Neill. [ps/al]

XS
SM
MD
LG