Tautan-tautan Akses

Kontraktor Apple Beralih ke Teknologi Robot

  • Ralph Jennings

Para pekerja di pabrik Foxconn.

Para pekerja di pabrik Foxconn.

CEO Hon Hai Terry Gou mengatakan hanya perlu tiga tahun untuk melakukan otomatisasi 70 persen dari produk-produk yang dibuatnya.

Raksasa manufaktur Hon Hai Precision telah lama memproduksi iPad dan iPhone dengan tenaga kerja murah di China. Sekarang kontraktor teknologi tinggi global tersebut berencana mengganti para pekerja dengan robot yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan.

Langkah itu disambut oleh para ekonom dan bahkan kelompok hak buruh yang biasanya sangat kritis, yang mengatakan hal itu akan menghemat uang Hon Hai dan mempermudah penyelesaian sengketa tempat kerja.

Kontraktor elektronik di Taiwan itu mempekerjakan sekitar satu juga pekerja di pabrik-pabrik di China, untuk membuat produk-produk dari merek-merek elektronik terkemuka di dunia. Namun CEO perusahaan, Terry Gou mengatakan pada wartawan bulan lalu bahwa Hon Hai memerlukan hanya tiga tahun untuk melakukan otomatisasi 70 persen dari pembuatan produknya. Ia mengatakan pergeseran itu akan menggantikan manusia dengan mesin dan meningkatkan efisiensi.

Jamie Wang, kepala analis riset di perusahaan riset pasar Gartner di Taipei, menyebut otomatisasi sebuah tren yang tidak dapat diabaikan Hon Hai.

Ia mengatakan perusahaan itu harus menggunakan robot untuk menggantikan beberapa proses manufaktur. Ia menambahkan bahwa klien besar Hon Hai, Apple, berencana menuju arah ini, sehingga mereka harus membuat pengaturan-pengaturan untuk memenuhi permintaan klien dan untuk biaya tenaga kerja mereka di masa depan. Dalam 10 sampai 20 tahun mendatang, Wang mengatakan, perusahaan-perusahaan tidak dapat menggunakan tenaga kerja manual untuk melakukan manufaktur sepanjang waktu.

Kepala Hon Hai telah mengatakan pada 2011 bahwa perusahaannya akan menggantikan sejumlah pekerjanya dengan satu juta robot. Dua tahun kemudian, perusahaan itu mengatakan akan menghabiskan $40 juta untuk riset dan manufaktur robot di negara bagian Pennsylvania, AS.

Hon Hai, juga dikenal sebagai Foxconn, menghadapi kompetisi kuat untuk kerja kontrak karena meningkatnya upah di China, sebuah tren yang telah mendorong banyak perusahaan multinasional untuk mengembangkan produksi di Asia Tenggara saja.

Tingkat upah naik 13 persen tahun lalu. Pabrik-pabrik di China timur juga bergulat untuk mendapatkan pekerja karena tingginya biaya hidup membuat pekerja lebih memilih pekerjaan berupah lebih rendah di kota-kota yang kurang berkembang. Investasi langsung asing China, terutama dalam manufaktur, tumbuh lambat mencapai 2 persen tahun lalu.

Liang Kuo-yuan, kepala lembaga riset Yuanta-Polaris di Taipei, mengatakan otomatisasi diperlukan untuk perusahaan seukuran Hon Hai.

Ia mengatakan Hon Hai sendiri merupakan pabrik manufaktur yang sangat besar dan skala produksinya sangat besar. Jadi, menurut Liang, dalam lingkungan berbiaya tinggi dan kekurangan pekerja, perusahaan harus bergerak ke arah otomatisasi.

Penggunaan robot juga akan mengurangi risiko sengketa buruh di China. Pekerja yang bunuh diri dan protes-protes yang terjadi karena kondisi tempat kerja dalam lima tahun terakhir telah melukai reputasi perusahaan. Sekarang, pekerja China tidak lagi bergantung pada perusahaan semacam Hon Hai untuk mendapatkan pekerjaan.

XS
SM
MD
LG