Tautan-tautan Akses

Konflik Orangutan dan Manusia di Kalbar Meningkat

  • Nurhadi Sucahyo

Konflik orangutan dan manusia di Kalimantan (Foto: Yayasan IARI)

Konflik orangutan dan manusia di Kalimantan (Foto: Yayasan IARI)

Maraknya pembukaan lahan, baik untuk pertanian skala kecil maupun perkebunan besar, berdampak terhadap kehidupan orangutan. Konflik dengan manusia makin sering terjadi, karena habitat mereka terus berkurang.

Dalam enam bulan terakhir, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat telah menyelamatkan 25 orangutan yang berkonflik dengan masyarakat. Mayoritas mereka diserang oleh warga karena masuk ke perkebunan. Problemnya adalah karena kawasan perkebunan, baik itu milik rakyat maupun perusahaan besar itu, dulunya adalah habitat asli orangutan. Sehingga sebenarnya, manusialah yang telah masuk ke habitat orangutan dan merusak habitat asli mereka. Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sustyo Iriyono meminta pemerintah daerah lebih cermat dan tegas dalam pemberian izin usaha perkebunan, dan tidak melanggar zonasi habitat orangutan yang sudah ditetapkan, untuk meminimalisir konflik.

“Sekarang ini saya sedang memikirkan pelepasliaran, merilis kembali Orangutan yang sudah direhabilitasi. Nah, ini harus diplot juga hutan-hutan yang ada, agar setelah dilepasliarkan, orangutan itu tidak terganggu lagi oleh kepentingan-kepentingan yang lain. Yang saya harapkan adalah ketika memploting izin itu, benar-benar dicermati ulang, terutama Amdal-nya, juga kewajiban untuk menyisakan area High Conservation Value perlu ditaati dan benar-benar di ploting mana-mana area yang ada sarang orangutannya,” ujar Sustyo.

Orangutan selalu menjadi pihak yang kalah dalam konflik ini. Karena itulah, sejumlah pihak bergerak untuk membantu mereka agar tidak terus menjadi korban. Salah satunya adalah Yayasan International Animal Rescue Indonesia, yang memiliki pusat rehabilitasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Drh Adi Irawan dari Yayasan IARI kepada VOA menjelaskan, saat ini pihaknya sedang merehabilitasi empat individu orangutan yang menjadi korban konflik dengan manusia.

“Dari beberapa orangutan yang ada di sana dan berhasil diselamatkan, dan saat ini masuk pusat rehabilitasi kami untuk menunggu dapat dilepasliarkan kembali itu ada 4 orangutan. Satu jantan dan tiga betina, di mana salah satu betinanya sedang hamil dan satu betina sedang menyusui tetapi kami tidak menemukan anaknya,” ujar Ari.

Drh Ari Irawan menambahkan, mayoritas konflik terjadi karena masyarakat tidak memahami bagaimana harus bertindak ketika ada orangutan yang masuk ke kebun mereka. Tindakan yang diambil kemudian bisa dinilai sangat kejam, mulai dari pemukulan hingga membakar orangutan hidup-hidup.

“Kami biasanya merespon dan memberitahu mereka agar jangan melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan bagi orangutan ataupun bagi diri mereka sendiri. Karena penanganan terkait konflik dengan orangutan ini tidak bisa dilakukan sembarangan, apalagi orangutan adalah satwa liar yang akan bertindak agresif apabila disakiti.”

Minggu lalu petugas BKSDA dan Yayasan IARI menyelamatkan sejumlah orangutan dari area kebakaran perkebunan sawit milik perusahaan Artu Energie Resources, di Kalimantan Barat. Puluhan orangutan lainnya terancam terbakar hidup-hidup di kawasan itu. Pihak berwenang juga sedang mengejar pelaku penusukan induk orangutan hingga mati di perkebunan sawit milik PT Kayung Agro Lestari, juga di Kalimantan Barat. Berbagai peristiwa ini membuktikan begitu tingginya konflik orangutan dan manusia di Kalimantan Barat akibat ekspansi perusahaan perkebunan.

XS
SM
MD
LG