Tautan-tautan Akses

Konflik dengan Etnis Kachin di Burma Terus Meningkat


Pengungsi Kachin menunggu rangsum bantuan di kamp Je Yang IDP, dekat Laiza, Burma timur laut. Dengan 7.000 pengungsi, Je Yang adalah kamp terbesar dan terdekat ke kota Laiza, di mana terdapat markas besar KIA (foto, 1/4/2013).

Pengungsi Kachin menunggu rangsum bantuan di kamp Je Yang IDP, dekat Laiza, Burma timur laut. Dengan 7.000 pengungsi, Je Yang adalah kamp terbesar dan terdekat ke kota Laiza, di mana terdapat markas besar KIA (foto, 1/4/2013).

Kelompok pemberontak etnis Kachin mengatakan serangan udara militer Burma yang terus berlangsung memaksa ribuan orang mengungsi dan menimbulkan keraguan mengenai putaran berikut perundingan perdamaian.

Sumber-sumber Laskar Kemerdekaan Kachin (KIA) mengatakan pasukan pemerintah Burma melanjutkan serangan udara terhadap posisi mereka hanya beberapa kilometer dari markas besar KIA di Laiza, Burma, hari Rabu. Mereka mengatakan satu warga sipil tewas setelah rumahnya terbakar.Ribuan warga sipil yang sudah kehilangan tempat tinggal terpaksa mengungsi lagi dari kekerasan itu.

Serangan udara pertama terhadap kelompok etnis itu menandai meningkatnya konflik militer Burma dengan etnis Kachin, satu-satunya dari 17 kelompok etnis yang tinggal di perbatasan Burma yang belum mencapai kesepatan perdamaian dengan pemerintah.

Pihak berwenang KIA menyatakan, pesawat-pesawat F-7 Chengdu buatan Tiongkok, pesawat pelatih jet, dan helikopter digunakan dalam serangan-serangan itu, yang menurut mereka dilancarkan tanpa alasan. Pemerintah melalui media menyatakan serangan-serangan itu merupakan serangan bela diri, menuduh KIA mengancam pasukan pemerintah.

Para saksi mengatakan pasukan pemerintah berhasil bergerak maju, mencapai posisi yang bisa lebih memudahkan mereka menyerang markas besar KIA, dan warga sipil.

La Rip, direktur badan pengungsi Kachin, mengatakan 15.000 orang yang tinggal di kamp-kamp sementara di atau dekat Laiza berada dalam keadaan bahaya, mengalami kekurangan pangan dan bantuan internasional dan dikhawatirkan mungkin terpaksa mengungsi ke Tiongkok. “Situasinya memburuk. Pemboman dan penembakan terus berlanjut dan mencapai kota Laiza. Kami harus mengurus 15.000 warga yang kehilangan tempat tinggal yang sudah berada di sini, ditambah penduduk Laiza sendiri. Jika mereka harus mengungsi ke Tiongkok, kami tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana mengatasi situasi darurat itu,” keluhnya.

Walaupun kelompok pemberontak dan para pejabat pemerintah dijadwalkan akan mengadakan putaran perundingan perdamaian baru pada pertengahan Januari, para pemimpin KIA khawatir serangan-serangan itu menunjukkan upaya perdamaian itu merupakan bagian dari rencana militer untuk merebut wilayah yang kaya sumber alam.

Min Zaw Oo, direktur Pusat Perdamaian Myanmar, mengatakan ia yakin semua pihak yang terlibat bisa meredam kekerasan dan bergerak menuju dialog politik, meski pertempuran terus berlangsung.

PBB, Tiongkok, dan Departemen Luar Negeri Amerika menegur Burma atas serangan-serangan itu. Pemimpin oposisi utama Birma Aung San Suu Kyi mengatakan tidak akan campur tangan kecuali jika diminta pemerintah.
XS
SM
MD
LG