Tautan-tautan Akses

AS

Komputer Gedung Putih Rentan Diretas


Ben Rhodes, U.S. deputy national security adviser, talks in the White House press briefing room about the vulnerability of some executive office computer systems to hackers, April 7, 2015.

Ben Rhodes, U.S. deputy national security adviser, talks in the White House press briefing room about the vulnerability of some executive office computer systems to hackers, April 7, 2015.

Gedung Putih mengakui bahwa sistem komputer di istana kepresidenan Amerika Serikat rentan terhadap serangan peretas.

Demikian menurut Ben Rhodes, seorang deputi penasehat keamanan nasional, sebagai responnya terhadap laporan media bahwa peretas Rusia berhasil mengakses sejumlah informasi sensitif dari Gedung Putih, seperti jadwal pribadi Presiden Barack Obama.

Rhodes menolak untuk mengkonfirmasi laporan bahwa informasi sensitif telah berhasil diakses, dan menolak memberi keterangan dari mana ancaman tersebut berasal. Tapi, ia mengataka risiko selalu ada, dan oleh karenanya Gedung Putih menggunakan sistem pengamanan terpisah untuk data yang diklasifikasi.

"Kita memiliki sistem klasifikasi yang aman dan kita juga melakukan langkah-langkah pengamanan terhadap jaringan yang diklasifikasi.Saya kira kita sangat terbuka mengakui ada gangguan cyber tahun lalu, jadi ini bukan hal baru. Kita tidak bicarakan mengenai dari mana gangguan berasal karena kita selalu mengambil langkah-langkah baru untuk mencegahnya," ujar Rhodes terhadap reporter.

Pemerintah Amerika Serikat telah beberapa kali mengalami serangan secara online, termasuk peretasan terhadap komputer-komputer yang tidak diklasifikasi di Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri, demikian pula dengan akun Twitter dan YouTube milik Komando Pusat AS, yang membawahi operasi militer terhadap militan kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah.

Sebagian dari serangan cyber disebut berasal dari peretas di Rusia, China dan Korea Utara.

Sebelumnya tahun ini, Gedung Putih mengumumkan pembentukan lembaga federal untuk menganalisa ancaman terhadap cybersecurity dan menetapkan strategi untuk memberantasnya.

Lembaga tersebut, Cyber Threat Intelligence Integration Center, akan mengkoordinasi intelijen dari FBI, Dewan Keamanan Nasional (NSA) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan lembaga-lembaga federal lainnya. Pusat Intelijen baru ini akan beroperasi di bawah arahan direktur intelijen nasional (CIA).

XS
SM
MD
LG