Tautan-tautan Akses

Kompetisi Festival Film Istanbul Batal Karena Sensor

  • Dorian Jones

Spanduk Festival Film Istanbul di pintu masuk bioskop Atlas di Istanbul (14/4). (Reuters/Murad Sezer)

Spanduk Festival Film Istanbul di pintu masuk bioskop Atlas di Istanbul (14/4). (Reuters/Murad Sezer)

Pemerintah dituduh memaksa penyelenggara festival menarik dokumenter Kurdi, sebuah kontroversi yang membuat semua kompetisi dibatalkan.

Sejumlah pembuat film telah menarik film-film mereka dari Festival Film Istanbul karena ketidaksetujuan yang semakin mendalam terhadap sensor pemerintah.

Pemerintah dituduh telah memaksa penyelenggara festival menarik dokumenter Kurdi. Kontroversi ini telah membuat semua kompetisi pada festival dibatalkan.

Di tengah upaya-upaya perdamaian antara pemerintah dan kelompok pemberontak Kurdi PKK, film dokumenter "Kuzey/Bakur (berarti Utara dalam bahasa Turki/Kurdi)" secara luas dianggap sebagai salah satu film yang dinantikan dalam festival tersebut, dengan akses langka terhadap basis-basis PKK di Turki.

Namun beberapa jam sebelum ditayangkan, penyelenggara festival menerima surat dari Kementerian Kebudayaan yang mengingatkan bahwa semua dokumenter yang dibuat di Turki harus memiliki sertifikat penayangan yang dikeluarkan kementerian tersebut. Direktur festival Azize Tan mengatakan mereka tidak memiliki pilihan selain menarik film tersebut.

Tan mengatakan sudah lebih dari 10 tahun sejak kementerian tersebut memberlakukan aturan tersebut dan hanya lima dokumenter dari 33 yang akan ditayangkan yang tidak memiliki sertifikat tersebut. Aturan itu hanya berlaku bagi film-film Turki, dan para pengkritik memperingatkan bahwa penguatan aturan tersebut memberikan pemerintah hak untuk mem-veto penayangan film apa pun.

Meski kementerian tidak menyebut Bakir secara spesifik, waktu intervensi ini membuat sebagian besar pengunjung festival berpikir langkah itu merupakan sensor.

Dalam sebuah surat terbuka kepada media, lebih dari 100 pembuat film, termasuk pemenang Cannes Palm D'Or baru-baru ini, Nuri Bilge Ceylan, mengecam langkah tersebut. Sedikitnya 22 film dari sekitar 200 film yang dikirim ke festival tersebut ditarik oleh pembuatnya, menurut penyelenggara.

Direktur festival Tan mengatakan industri film tersebut harus bersatu untuk menantang pembatasan hukum.

​Langkah itu disambut oleh Ertugrul Mavioglu yang membuat "Bakur" bersama sutradara lain Cayan Demirel. Mavioglu mengatakan ia tidak kaget filmnya tidak jadi ditayangkan.

"Negara ini selalu punya aturan-aturan tak dikenal atau aturan yang tidak pernah dipakai untuk menyensor subyek-subyek yang menurut mereka terlarang," ujar Mavioglu.

Dibentuk pada 1981, Festival Film Istanbul bertujuan untuk memberi masyarakat jendela ke dunia luar ketika negara dikuasai militer. Acara ini ada di garis depan dalam keberhasilan menantang sensor, yang penting dalam penghapusan banyak pembatasan di industri film.

Kritikus film veteran Atilla Dorsay, yang bekerja secara erat dengan festival ini pada tahun-tahun awal, mengatakan kembalinya sensor, meski sangat meresahkan, tidak mengejutkan dalam iklim politik saat ini.

"Kami memiliki sensor dulu, tapi perlahan menghilang. Kami pikir masalah ini telah teratasi selamanya. Namun melihat situasi politik secara umum saat ini, dengan meningkatnya sensor terhadap jurnalisme, media, semuanya, hal ini tidak mengejutkan," ujarnya.

Pemerintah di Ankara sudah menghadapi semakin banyak kritikan nasional dan internasional karena pembatasan kebebasan berpendapat dan kontroversi ini, menurut para pengamat, akan menambah keprihatinan tersebut.

XS
SM
MD
LG