Tautan-tautan Akses

Kompetisi di Asian Games Tak Sekedar Olahraga


Pemain tenis Korea Selatan Lee Hyung-taik membawa obor dalam upacara pembukaan Asian Games ke-17di Incheon (19/9). (Reuters/Kim Kyung-Hoon)

Pemain tenis Korea Selatan Lee Hyung-taik membawa obor dalam upacara pembukaan Asian Games ke-17di Incheon (19/9). (Reuters/Kim Kyung-Hoon)

Di dalam perhelatan olahraga di wilayah terpadat di dunia, dengan 4,5 miliar penduduk pada penghitungan terakhir, ada gambaran tentang Asia sendiri.

Di satu sisi ada China dan India, yang mencakup seperempat penduduk dunia, di sisi lain ada Maladewa, yang hanya memiliki populasi 345.000 orang. Lalu ada Bhutan, yang digambarkan sebagai tempat paling berbahagia di Bumi, dan Suriah, yang tentu saja bukan. Selain itu ada juga negara-negara yang dipimpin rezim paling keras di dunia -- Korea Selatan, Turkmenistan dan Uzbekistan.

Selamat datang di Asian Games, dimana, seperti kata penyelenggara "Keberagaman Bersinar."

Tuan rumah Korea Selatan telah berhasil mengumpulkan ke-45 negara anggota Dewan Olimpiade Asia untuk kompetisi olahraga selama dua minggu ke depan, yang akan menyoroti lebih dari 10.000 atlet bersaing untuk 439 medali emas. Namun di dalam perhelatan di wilayah terpadat di dunia -- 4,5 miliar penduduk pada penghitungan terakhir, itu ada gambaran tentang Asia sendiri.

Benua ini penuh dengan persaingan dan sebagian besar tidak bersahabat.

Negara tuan rumah secara teknis masih berperang dengan tetangganya di utara. Pada Jumat, ketika kontingen Korea Utara disambut hangan di Incheon, kapal angkatan laut Korea Selatan meluncurkan tembakan peringatan pada kapal patroli Korea Utara yang telah melanggar perbatasan laut mereka.

Sengketa perbatasan juga ramai di Asia, terutama di Kepulauan Spratleys di Laut China Selatan, wilayah yang diklaim oleh setengah lusin peserta Asian Games.

China memiliki sengketa wilayah dengan semua tetangganya. Jepang tidak hanya memiliki isu dengan China, tapi juga dengan Korea Selatan dan Taiwan. Klaim panjang lain adalah antara India dan Pakistan atas Kashmir, dan antara India dan China, atas Kashmir dan negara bagian Arunachal Pradesh.

Bahkan perseteruan terjadi di luar arena Asian Games. Sebelum kompetisi dimulai, ada keluhan terhadap Jepang karena tim hoki negara itu membagikan bros bergambar bendera Jepang, yang dianggap menghina karena diasosiasikan dengan masa lalu Jepang yang militeristik dan menguasai seluruh Korea sampai 1945.

Untuk kepentingan kompetisi, semua wilayah Timur Tengah dianggap wilayah Asia. Pendukung Palestina mendapat kesempatan mengelu-elukan negara itu. Namun pendukung Israel tidak bisa karena Israel dilarang bertanding oleh OCA sejak 1981, setelah sebelumnya ikut bertanding dari 1954 sampai 1974.

Meski terjadi perang sipil, dan adanya kebangkitan militan Negara Islam (ISIS) di Irak dan Suriah, Damaskus dan Baghdad telah mengirim delegasi. Yaman, yang menghadapi kekerasan, dan Iran, juga ada di sini.

Yang absen adalah perempuan dalam tim Arab Saudi yang beranggotakan 200 orang. Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah memprotes situasi ini, yang menunjukkan "keraguan akan komitmen Arab Saudi untuk mengakhiri diskriminasi dan mengizinkan perempuan Saudi untuk berpartisipasi dalam kompetisi-kompetisi berikutnya."

Lebih parah lagi, dua pemain sepakbola Palestina dan seorang pengurus tim Iran dicabut dokumen identifikasinya dan diusir dari kompetisi karena melakukan pelecehan seksual terhadap tenaga sukarela lokal.

Meski awalnya sederhana, saat diadakan di New Delhi 1951, penyelenggaraan Asian Games tahun diyakini membuat Korea Selatan mengeluarkan biaya US$2 miliar. Hal ini terjadi di saat banyak negara masih mengalami kemiskinan parah.

Bagi para pemain besar, Asian Games adalah jalan menuju hal yang lebih besar. Mantan tuan rumah Asian Games, Jepang, akan menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2020, dan Korea Selatan akan menjadi penyelenggara Olimpiade Musim Dingin 2018.

Kazakhstan berharap bergabung dengan tim elit, ingin menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022 di kota terbesarnya, Almaty, tempat Asian Games Musim Dingin 2011.

Sebagian besar negara tidak mampu melakukan kemewahan tersebut. Vietnam mundur menjadi tuan rumah berikutnya karena mengklaim tidak mampu, digantikan oleh Indonesia pada 2018.

Sementara itu, bagi negara-negara seperti Afghanistan, Nepal, Laos atau Kamboja, menyediakan fasilitas dan pelatihan bagi atlet saja sudah merupakan beban besar.

Sementara Korea Selatan memiliki 831 atlet di Incheon dan China 899, Timor Leste hanya mengirim 31 dan Kamboja 21. (AP)

XS
SM
MD
LG