Tautan-tautan Akses

Kodok Indonesia Dihidangkan Restoran di Perancis


Perburuan kodok di Indonesia dikhawatirkan akan membuat beberapa jenis kodok punah. (Foto: Dok)

Perburuan kodok di Indonesia dikhawatirkan akan membuat beberapa jenis kodok punah. (Foto: Dok)

Indonesia telah menjadi eksportir kodok terbesar di dunia, memasok lebih dari 80 persen impor kodok di Eropa.

Dengan menyebut nama Allah, penjual itu menutup mata dan kemudian dengan sekali tebas, goloknya memisahkan kepala kodok dari badannya.

Meski restoran-restoran di Perancis barangkali tidak mengetahuinya, namun kaki kodok yang dihidangkan mereka kemungkinan besar didapat dari rawa-rawa berlumpur di Indonesia, ditangkap oleh para pemburu di tengah malam untuk disembelih dan dijual di pasar.

Seperti pegawai pabrik yang efisien, Sri Mulyani menguliti kodok, mencabut organ dalam dengan tangan kosong dan melemparkan hewan amfibi itu ke tumpukan kodok yang sudah menggunung.

“Kalau saya merasa jijik dan bosan dengan kodok, saya pikirkan uangnya saja,” ujar pedagang kodok berumur 41 tahun itu.

Mulyani dan suaminya sang pemburu kodok, Suwanto, 48, menghasilkan Rp 500.000 per hari dari mengejar dan menjual kodok ke restoran atau ke makelar untuk diekspor.

Disukai karena rasanya yang seperti ayam, kaki kodok dikenal sebagai menu favorit di Perancis, Belgia dan Luksemburg, tidak hanya di Indonesia dan Tiongkok.

Indonesia telah menjadi eksportir kodok terbesar di dunia, memasok lebih dari 80 persen impor kodok di Eropa, hampir semuanya ditangkap di alam liar oleh pemburu-pemburu seperti Suwanto.

Namun para ahli konservasi khawatir perdagangan yang sangat menguntungkan ini akan memusnahkan populasi kodok jenis tertentu yang membantu menjaga ekosistem tetap sehat karena memangsa hama. Kecebong yang dihasilkannya juga membantu menstabilkan lingkungan perairan.

Sebagian besar dari permintaaan impor datang dari Perancis, dengan perkiraan 80 juta kodok dikonsumsi setiap tahun. Negara itu sendiri dipaksa memberlakukan pelarangan terhadap perburuan dan peternakan kodok komersial pada 1980.

Perdagangan kemudian pindah ke India dan Bangladesh, namun negara-negara tersebut juga akhirnya melarang ekspor pada akhir 1980an karena populasi kodok menurun drastis.

“Kami khawatir populasi kodok pada tahun-tahun mendatang, setidaknya kodok bertubuh besar di Indonesia, akan punah,” ujar Sandra Altherr dari kelompok hak binatang asal Jerma Pro Wildlife, yang turut menulis sebuah laporan mengenai perdagangan kodok tahun lalu.

“Sejarah telah memberi kita pelajaran dan seharusnya kita belajar dari situ.”

Namun bagi Suwanto pekerjaan ini terlalu menguntungkan untuk diakhiri, dan perburuan kodok ada dalam darahnya, ujarnya.

“Saya sudah berburu kodok sejak 1992, dan ayah saya juga melakukan hal yang sama sebelum saya,” ujar Suwanto, menambahkan bahwa ia tidak yakin tradisi tersebut akan diteruskan dalam keluarganya karena ia hanya punya anak perempuan, dan perburuan kodok adalah urusan lelaki.

Dari belakang rumahnya, Suwanto dan sekelompok pemburu kodok mengarungi kegelapan tiap malam mulai pukul 20.00, menyusuri pematang sawah dan sungai.

Mereka seringkali berburu sejak dini hari, tidak berbicara sedikitpun untuk menjaga makhluk licin tersebut takut dengan suara mereka.

Modus operandi mereka terlihat sederhana – telanjang kaki dan memegang lampu senter, mereka menggunakan jala yang diikat pada tiang kayu panjang untuk menjaring kodok yang mereka temukan di lapangan dan sungai.

Namun di balik peralatan yang sederhana itu, pemburu kodok sepertinya memiliki indera keenam untuk amfibi tersebut, dengan mengumpulkan puluhan kodok hanya dalam waktu beberapa menit di tengah rawa yang gelap.

Para pria ini menangkap 50 kilogram sampai 70 kilogram kodok yang disebut “Asian brackish” atau kodok pemakan kepiting serta kodok Jawa besar setiap malam, yang sebagian besar untuk pasar domestik, diperkirakan dua sampai tujuh kali volume ekspor.

Meski beberapa orang mungkin geli memakan kodok dari alam liar, tapi Ferdian Zhang, 37, tidak terpengaruh dan membeli semua kaki kodok untuk restorannya di Bogor dari Mulyani.

“Itu kodok kampung, ditangkap di alam liar seperti juga ayam kampung. Rasanya tidak bisa dibandingkan,” ujarnya.

Pasar lokal dikuasai oleh keturunan China karena banyak Muslim yang menganggap kodok itu haram.

Kelompok konservasi Altherr berharap menarik perhatian publik terhadap isu pelestarian kodok ini dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam (CITES) bulan ini di Bangkok, agar beberapa jenis kodok masuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi.

Namun Sri Mulyani tetap yakin populasi kodok akan terus berkembang.

“Tuhan akan melindungi dan bersikap adil pada kita, dan menjamin akan selalu ada kodok,” ujarnya. (AFP/Kevin Ponniah)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG