Tautan-tautan Akses

Kisah Mantan Sandera di Somalia

  • Fathiyah Wardah

Empat pelaut Indonesia yang dibebaskan oleh perompak Somalia pada 22 Oktober berfoto bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Kementerian Luar Negeri Jakarta, Senin (31/10). (VOA/Fathiyah Wardah)

Empat pelaut Indonesia yang dibebaskan oleh perompak Somalia pada 22 Oktober berfoto bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Kementerian Luar Negeri Jakarta, Senin (31/10). (VOA/Fathiyah Wardah)

Salah seorang pelaut Indonesia yang disandera perompak Somalia dan baru-baru ini dibebaskan, mengatakan bahwa selama empat tahun lebih ditawan, kondisi para sandera mengenaskan.

Petaka itu datang 26 Maret 2012, sekitar pukul dua dini hari. Empat pelaut Indonesia diculik dan disandera oleh perompak Somalia di bagian selatan Seychelles.

"Saat ABK semua selesai bekerja, terdengar suara tembakan. Itu tembakan membabi buta, menghantam ruang nahkoda dan mengakibatkan kapten kami tewas. Sehingga kami pasrah dan kalut, lalu lari ke mana saja kami bisa, yang penting tidak terlihat oleh pembajak Somalia," ujar Sudirman, satu sandera asal Indonesia.

Sudirman mengisahkan bahwa selama disandera -- satu setengah tahun di kapal dan sisanya di daratan -- kondisi para sandera mengenaskan. Mereka makan roti basi tiap pagi dan baru makan lagi pada malam hari dengan menu nasi dan kacang merah.

Untuk minum, setiap tawanan hanya diberi jatah setengah liter per hari. Karena itu, menurut Sudirman, mereka mencoba menampung air hujan dengan membuat kolam tanah.

Sudirman, Supardi, Elson Pereron, dan Adi Manurung adalah empat pelaut Indonesia yang dibebaskan bersama 22 orang lainnya oleh perompak Somalia pada 22 Oktober 2016, setelah disandera lebih dari empat tahun. Ke-26 sandera ini adalah anak buah kapal Naham 3 yang berbendera Oman.

Sudirman mengatakan, ada sandera dari negara lain nekat makan tikus, kucing, atau burung. Tapi jika ketahuan perompak Somalia, hukuman akan diterima cukup menyakitkan: tangan dan kaki diikat menjadi satu ke belakang lalu digulingkan.

Perlakuan kejam lainnya, kata Sudirman, diterima seorang sandera asal Kamboja. Dia waktu itu dihina karena ingin buang hajat. Tawanan ini lantas membalas dengan ejekan hingga akhirnya dia ditembak tiga kali di kakinya sehingga sempat tidak bisa berjalan.

Sudirman mengakui imannya jatuh saat menjalani kehidupan sebagai sandera di Somalia. Sebagai Muslim, dia tidak pernah shalat. Pengalaman pahit ini membuat Sudirman trauma.

"Kita berempat masih saling menatap muka. Kita masih trauma, kita masih takut. Kita nggak tahu apa yang kita rasakan. Bahkan kita berdiri di tempat ini semua.. bahkan tidak percaya sama sekali. Apa ini mimpi?" ujarnya.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menjelaskan proses pembebasan keempat sandera itu di Somalia diintensifkan setelah ada instruksi dari Presiden Joko Widodo Januari tahun lalu. Retno mengakui proses pembebasan berlangsung lama karena begitu rumitnya situasi di Somalia dan beragam kerumitan lainnya.

"Dapat saya sampaikan pada detik-detik terakhir menjelang pelepasan sandera, masih terdapat upaya kelompok lain ingin mengambil alih para sandera. Hal ini menunjukkan betapa rumitnya situasi setempat sehingga upaya untuk pembebasan sandera memakan waktu cukup lama," ujarnya.

Dua puluh sembilan anak buah kapal Naham 3 itu diculik ketika kapal yang tengah berlayar di Samudera Hindia itu dirompak di selatan Seychelles. Namun satu pelaut meninggal saat pembajakan dan dua lainnya, termasuk Nasirin dari Indonesia, mengembuskan napas terakhir karena sakit selama ditawan.

Selain dari Indonesia, para sandera yang dibebaskan itu berasal dari Kamboja, China, Filipina, Vietnam, dan Taiwan. Mereka bekerja di Naham 3 milik perusahaan Al-Naham 3 Fishing Company yang berkantor pusat di ibukota Oman, Muskat.

Operator kapal Naham 3 itu adalah perusahaan Taiwan Jiang Chang Marine Enterprises. Para pelaut Indonesia ini diberangkatkan oleh perusahaan agen kapal di Singapura, Step Up Marine Enterprises Pte. Ltd.

XS
SM
MD
LG