Tautan-tautan Akses

Kirab Bendera Pusaka Warnai Peringatan Hari Kemerdekaan ke-71 RI


Kereta Kencana Ki Jaga Raksa membawa bendera pusaka dan teks Proklamasi dalam prosesi parade bendera pusaka dari Monumen Nasional menuju Istana Merdeka. (Foto: Biro Pers Kepresidenan)

Kereta Kencana Ki Jaga Raksa membawa bendera pusaka dan teks Proklamasi dalam prosesi parade bendera pusaka dari Monumen Nasional menuju Istana Merdeka. (Foto: Biro Pers Kepresidenan)

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso berharap pada peringatan hari kemerdekaan ini semua kalangan bisa lebih dewasa dalam bersikap dan berpendapat.

Tujuh puluh satu tahun usia kemerdekaan Indonesia, seluruh penjuru Indonesia merayakan dan memperingatinya tak terkecuali di lingkungan Istana Kepresidenan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Istana Kepresidenan menyelenggarakan upacara bendera detik-detik Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam upacara yang dipimpin oleh komandan upacara Kolonel Infanteri Putra Widiastawa, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman, membacakan teks Proklasi Kemerdekaan Indonesia.

Salah satu hal yang berbeda dalam upacara ini dibanding tahun-tahun sebelumnya adalah parade bendera pusaka dari Monumen Nasional menuju Istana Merdeka yang mengawali prosesi peringatan kemerdekaan Indonesia kali ini.

Kereta Kencana Ki Jaga Raksa yang didatangkan langsung dari Purwakarta secara khusus dipersiapkan sebagai bagian dari parade. Marching band Paspampres, barisan pelajar, dan pasukan berkuda turut memeriahkan parade tersebut.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso berharap di hari kemerdekaan ini semua kalangan bisa lebih dewasa dalam bersikap dan berpendapat. Meski sistem demokrasi menjamin penuh kebebasan berpendapat namun bukan berarti seseorang bisa bebas tanpa memikirkan hak orang lain.

"Dari kacamata intelijen kita tau ada dari luar yang punya kepentingan lain. Hendaknya kita bisa bersikap lebih dewasa. Dan tidak melakukan hal-hal yang kontraproduktif," kata Sutiyoso.

Sutiyoso juga berharap agar semua kalangan masyarakat bersatu dan menghindari perbedaan pendapat yang menimbulkan konflik horizontal.

"Di bidang ekonomi, kita ini negara yang berlimpah resources-nya. Tidak ada alasan kalau masyarakat kita tidak sejahtera. Tetapi untuk sejahtera kita mesti bersatu. Kalau kita terus saja berselisih konflik karena perbedaan, ya tidak akan selesai. Karena kita memang negara yang sangat heterogen," lanjut Sutiyoso.

Ridwan (55 tahun), wiraswastawan di Jakarta kepada VOA berharap pemerintahan Joko Widodo mempunyai semangat kerja yang sama dengan para pejuang kemerdekaan masa lalu. Ridwan juga berharap kepada semua kalangan agar bersama membangun bangsa dan tidak saling menyalahkan satu sama lain.

"Mudah-mudahan dengan kinerja (Pemerintahan) yang sekarang, bisa semangat lagi seperti pendahulu kita memerdekakan negara ini. Mereka berjuang dengan darah dan air mata. Di era modern ini bagaimana kita bahu membahu dalam membangun dan jangan saling menyalahkan," ujar Ridwan.

Sementara itu Andi M Sadli, pekerja swasta di Bekasi berpendapat pembangunan untuk mengisi kemerdekaan bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah, tetapi juga menjadi tugas dari seluruh rakyat Indonesia.

"Saya berharap kepada warga bahwa pembangunan ini bukan hanya terletak pada Pemerintah saja, tetapi juga sebagai warga tunjukkan kita bantu Pemerintah kita. Sehingga kemerdekaan ini bisa dirasakan anak cucu kita ke depan," komentar Andi.

Pada peringatan detik-detik proklamasi tahun ini, Presiden Joko Widodo mengundang para inspirator pembangunan masyarakat dan para juara Olimpiade untuk langsung menghadiri peringatan tersebut.

Selain para inspirator, dalam peringatan Kemerdekaan di Istana Merdeka ini, Presiden Jokowi mengundang kalangan masyarakat. Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala dalam keterangan tertulisnya menjelaskan, undangan peringatan kemerdekaan ini didominasi oleh masyarakat umum ketimbang pejabat, dengan perbandingan 70 persen undangan untuk masyarakat umum dan 30 persen pejabat. Kalangan Istana juga membuka kompleks Istana untuk kalangan umum di hari kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia. [aw/uh]

XS
SM
MD
LG