Tautan-tautan Akses

Keselamatan Maskapai Penerbangan Indonesia Dihambat SDM Tidak Memadai


Petugas mencari korban jatuhnya pesawat Hercules di Medan, Sumatra Utara (1/7).

Petugas mencari korban jatuhnya pesawat Hercules di Medan, Sumatra Utara (1/7).

Pemerintah Indonesia telah kesulitan mempekerjakan dan melatih staf dengan cukup cepat untuk mengawasi pasar penerbangan yang tumbuh pesat.

Nilai Indonesia buruk dalam audit keselamatan 2014 dari badan penerbangan PBB sebagian besar karena Kementerian Perhubungan tidak memiliki cukup sumber daya manusia, menurut dua sumber yang memahami isu ini, di tengah kesulitan mengejar pertumbuhan perjalanan udara yang pesat.

Catatan keselamatan penerbangan yang kurang baik di negara ini memburuk hari Minggu ketika sebuah pesawat penumpang jatuh di Papua dengan 54 orang di dalamnya, kecelakaan pesawat terbesar ketiga tahun ini di Indonesia.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) yang berkantor pusat di Montreal menetapkan standar-standar keselamatan untuk penerbangan-penerbangan internasional. Audit-audit yang dilakukannya mengevaluasi kemampuan negara-negara untuk mengawasi maskapai-maskapai penerbangan mereka, termasuk seberapa baik mereka memenuhi standar.

Pemerintah Indonesia telah kesulitan mempekerjakan dan melatih staf dengan cukup cepat untuk mengawasi pasar penerbangan yang tumbuh pesat, yang diperkirakan oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional akan naik tiga kali lipat pada 2034.

"Sampai pemerintah mengatasi hal ini mereka tidak dapat melakukan pengawasan dan sertifikasi setingkat negara dengan sistem yang sudah baik," ujar salah seorang sumber tersebut.

Sejak audit 2014, Indonesia telah muncul dengan rencana untuk mengatasi masalah ini, menurut sumber itu.

"Pemerintah telah sangat aktif mengembangkan rencana mereka. Ada juga kemajuan yang dicapai," ujarnya.

Namun para pemeriksa dari ICAO tidak akan kembali untuk memeriksa kemajuan Indonesia atau melakukan penilaian baru sampai mayoritas masalah yang ditemukan dalam audit sebelumnya telah ditanggulangi.

Para pejabat Indonesia di Kanada tidak dapat dimintai komentarnya, demikian juga dengan ICAO.

ICAO menerbitkan nilai audit mereka di Internet, tapi biasanya tidak mengungkapkan masalah-masalah spesifik di balik angka tersebut.

Dalam audit yang dilakukan Mei 2014, Indonesia meraih angka di bawah rata-rata global dalam masing-masing dari delapan kategori yang ada. Sebagian besar dari negara-negara di dunia mendapat angka di atas rata-rata pada setidaknya beberapa kategori.

Angka terendah adalah untuk "organisasi", yaitu 20 persen, sementara rata-rata global adalah 64 persen. "Investigasi kecelakaan" mendapat nilai 31 persen, dibandingkan dengan angka rata-rata 55 persen. Nilai tertinggi adalah "kelayakan udara (airworthiness)" pada 61 persen, dibandingkan dengan rata-rata 74 persen.

Namun audit tersebut tidak menyebutkan secara spesifik "kekhawatiran keselamatan signifikan," yang merupakan masalah paling serius. Audit Thailand yang terbaru, misalnya, mengungkapkan kekhawatiran keselamatan signifikan, mendorong beberapa negara tetangga untuk tidak menambah rute-rute baru untuk maskapainya.

Bulan Januari, sebuah pesawat AirAsia jatuh di Laut Jawa, menewaskan ke-162 orang di dalamnya. Bulan Juni, lebih dari 100 orang tewas saat pesawat militer jatuh, mendorong Presiden Joko Widodo untuk menjanjikan kajian atas armada pesawat angkatan udara yang menua.

XS
SM
MD
LG