Tautan-tautan Akses

Kesebelasan Putri dan Putra AS Bagai Langit dan Bumi


Tim nasional putri AS merayakan kemenangan dengan trofi yang mereka raih setelah mengalahkan Jepang 5-2 dalam kejuaraan sepak bola Piala Dunia Putri FIFA di Vancouver, Kanada (5/7). (AP/Elaine Thompson)

Tim nasional putri AS merayakan kemenangan dengan trofi yang mereka raih setelah mengalahkan Jepang 5-2 dalam kejuaraan sepak bola Piala Dunia Putri FIFA di Vancouver, Kanada (5/7). (AP/Elaine Thompson)

Tim Nasional Putri AS baru-baru ini menjadi juara Piala Dunia untuk ketiga kalinya, namun tim putra tidak mengalami keberhasilan yang sama.

Tim sepakbola putri AS merupakan kekuatan besar di panggung dunia.

Kesebelasan putri baru saja meraih Piala Dunia FIFA ketiganya, mengalahkan Jepang hari Minggu lalu (5/7) di Vancouver, Kanada, dengan angka demonstratif 5-2. Rekor ini mencengangkan mengingat sepakbola internasional tidaklah populer di Amerika Serikat. Selain itu, tim putri AS selalu masuk tiga besar sejak Piala Dunia putri membuat debutnya tahun 1991, dan selalu mendapat medali emas Olimpiade sejak meraih perak di Sydney, Australia tahun 2000.

Sementara itu, kesebelasan putra AS ketinggalan di belakang tim-tim raksasa seperti Jerman, Argentina, Belanda dan Brazil. Tim putra AS tidak pernah masuk ke semifinal dalam kompetisi Piala Dunia di era modern, dan hanya pernah masuk ke perempat final sekali, tahun 2002.

Jadi mengapa ada perbedaan dalam keberhasilan antara kedua tim AS tersebut?

Awal yang Telat

"Saya kira kita harus mulai dari fakta bahwa hampir setiap negara di dunia memprioritaskan tim sepakbola nasional putra mereka. Untuk tim putri, hanya ada sekitar 10 atau 20 negara yang betul-betul menganggap itu serius," ujar Steven Goff, yang meliput sepakbola internasional untuk The Washington Post.

"Selain itu, perkembangan sepakbola internasional putra sudah terjadi 100 tahun lalu, sementara sistem pengembangan tim putra di AS tidak dimulai betul-betul sampai tahun 1970an dan 1980an, jadi kita ketinggalah puluhan tahun dalam hal pengembangan sepakbola putra. Itu bukan sesuatu yang dapat dikejar semalam atau bahkan dalam 10, 20 tahun," tambah Goff.

George Quraishi, pendiri dan editor majalah sepakbola di AS​ Howler Magazine, juga mengatakan atlet-atlet putra AS relatif "terlambat memulai" dibandingkan negara-negara lainnya. Ia menunjukkan bagaimana tim putra Amerika tidak berkompetisi di Piala Dunia selama 40 tahun, sebelum akhirnya ikut lagi tahun 1990. Mereka berkualifikasi untuk setiap Piala Dunia sejak itu.

"Itu periode yang cukup lama tanpa berpartisipasi dalam Piala Dunia," ujar Quraishi.

"Namun sekarang para pemain muda melihat ada peluang, ekspektasi, para pelatih dengan pengalaman, yang pensiun dari bermain bola dan membantu generasi pemain berikutnya mencapai hal yang sama."

Olahraga Putri

Goff dan Quraishi sepakat bahwa Amerika Serikat telah membuat komitmen untuk keberhasilan olahraga perempuan, termasuk sepakbola, yang lebih jauh daripada yang dilakukan oleh banyak negara lain.

Pusat dari komitmen itu adalah Title IX, undang-undang federal AS yang disahkan lebih dari 40 tahun yang lalu yang melarang diskriminasi berbasis gender dalam program pendidikan apapun yang dibiayai negara. Title IX memaksa universitas-universitas untuk berinvestasi dalam olahraga perempuan, dan sepakbola mendapat manfaat besar dari pendanaan akibat undang-undang tersebut, menurut Quraishi.

"Dan saya kira AS adalah salah satu dari negara-negara pertama yang betul-betul membentuk tradisi sepakbola putri yang kuat dan menjalankan program tersebut," ujar Quraishi.

"Saya kira sepakbola tingkat universitas punya peran banyak dalam hal ini. Kita ada sistem pengumpan sejak dini. Tim-tim universitas seperti North Carolina, UCLA telah memasok pemain-pemain berbakat untuk tim nasional selama berpuluh tahun terakhir."

XS
SM
MD
LG